Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

6 Amalan Sunnah Jelang Pelaksanaan Haji 1447 H, Jangan Sampai Terlewat

Kompas.com, 27 April 2026, 15:30 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Menjelang musim haji 1447 Hijriah atau Haji 2026, perhatian umat Islam umumnya tertuju pada rangkaian manasik dan persiapan teknis keberangkatan.

Namun, jauh sebelum itu, terdapat fase yang sering terlewat, persiapan spiritual melalui amalan sunnah sebelum memasuki bulan-bulan haji.

Dalam tradisi fikih dan tasawuf, fase ini justru menjadi fondasi penting. Ia bukan sekadar pelengkap, melainkan “pembersihan awal” agar perjalanan menuju Baitullah tidak hanya sah secara syariat, tetapi juga bermakna secara batin.

Lantas, apa saja amalan sunnah yang dianjurkan sebelum memasuki bulan haji? Mengapa ia begitu penting?

Bulan Haji dan Maknanya dalam Islam

Al-Qur’an secara tegas menyebut bahwa haji memiliki waktu yang telah ditentukan. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 197 disebutkan bahwa haji berlangsung dalam “bulan-bulan yang dimaklumi”.

Para ulama tafsir, seperti Ibnu Katsir dalam karyanya Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah bulan Syawal, Dzulqa’dah, dan sepuluh hari pertama Dzulhijjah.

Namun, penting dipahami bahwa puncak ibadah haji tetap terletak pada wuquf di Arafah tanggal 9 Dzulhijjah. Artinya, bulan-bulan tersebut adalah fase persiapan dan pengantar menuju puncak spiritual.

Dalam konteks ini, amalan sunnah sebelum memasuki bulan haji menjadi “gerbang awal” untuk membersihkan diri secara lahir dan batin.

Baca juga: Arab Saudi Imbau Jemaah Cek Keaslian Izin Haji Sebelum ke Tanah Suci

1. Tobat: Fondasi Spiritual Perjalanan Haji

Amalan pertama yang ditekankan para ulama adalah tobat. Bukan sekadar ucapan istighfar, tetapi juga penyelesaian urusan dengan sesama manusia.

Dalam kitab Fiqih Islam wa Adillatuhu, Wahbah az-Zuhaili menegaskan bahwa seseorang yang hendak melakukan perjalanan jauh, terutama haji wajib:

Mengembalikan hak orang lain

  • Melunasi utang
  • Meminta maaf kepada sesama

Sementara itu, Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebut tobat sebagai “pintu pertama menuju penyucian jiwa”.

Tobat di sini memiliki dimensi sosial. Ia memastikan bahwa seseorang tidak membawa beban moral dalam perjalanan ibadahnya. Sebab, haji bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan etika.

2. Shalat Sunnah Safar: Memulai Perjalanan dengan Doa

Sebelum memasuki bulan haji, calon jemaah dianjurkan membiasakan shalat sunnah safar. Amalan ini menjadi simbol penyerahan diri sebelum perjalanan panjang.

Dalam kitab Al-Majmu’, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa shalat dua rakaat sebelum bepergian adalah sunnah yang sangat dianjurkan.

Lebih dari sekadar ritual, shalat ini memiliki makna psikologis: menenangkan hati, menata niat, dan memohon perlindungan.

Di sinilah terlihat bahwa Islam tidak memisahkan antara aspek spiritual dan praktis. Bahkan perjalanan pun dimulai dengan doa.

3. Mandi dan Persiapan Diri: Simbol Kebersihan Lahir

Meski ihram belum dilakukan, para ulama menganjurkan membiasakan kebersihan diri sebagai bagian dari persiapan haji.

Dalam hadis riwayat Tirmidzi disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW mandi sebelum berihram.

Hal ini dijelaskan lebih lanjut dalam kitab Al-Badr at-Tamam oleh Husain al-Maghribi sebagai bentuk tathhir (penyucian).

Persiapan ini mencakup:

  • Mandi sunnah
  • Memotong kuku
  • Merapikan rambut
  • Membersihkan diri dari hadas

Secara simbolik, kebersihan fisik mencerminkan kesiapan batin. Ia menjadi pesan bahwa ibadah tidak hanya soal niat, tetapi juga kesiapan total tubuh dan jiwa.

Baca juga: Kumpulan Doa Haji dan Umrah Lengkap: Arab, Latin, Arti Sesuai Sunnah

4. Puasa Sunnah Dzulhijjah: Latihan Spiritual Intensif

Salah satu amalan paling dianjurkan menjelang bulan haji adalah puasa sunnah pada 10 hari pertama Dzulhijjah.

Dalam hadis riwayat At-Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda bahwa tidak ada hari yang lebih dicintai Allah untuk beribadah selain sepuluh hari tersebut.

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa amal saleh di hari-hari ini memiliki keutamaan luar biasa.
Puasa ini berfungsi sebagai:

  • Latihan pengendalian diri
  • Penguatan spiritual
  • Persiapan mental menghadapi ibadah besar

Khusus hari Arafah (9 Dzulhijjah), puasa sangat dianjurkan bagi yang tidak berhaji. Namun bagi jemaah di Arafah, justru disunnahkan tidak berpuasa agar kuat berdoa.

5. Memperbanyak Dzikir: Menata Hati Sebelum Berangkat

Dzikir menjadi amalan yang sangat ditekankan dalam sepuluh hari pertama Dzulhijjah.
Dalam kitab Al-Adzkar, Imam An-Nawawi menegaskan bahwa dzikir pada hari-hari ini lebih utama dibanding hari lainnya.

Bentuk dzikir yang dianjurkan antara lain:

  • Takbir (Allahu Akbar)
  • Tahlil (La ilaha illallah)
  • Tahmid (Alhamdulillah)

Dzikir berfungsi sebagai “pemurni niat”. Ia membantu calon jemaah mengalihkan fokus dari dunia menuju orientasi akhirat.

Baca juga: Niat Ihram dan Doa Haji: Arab, Latin, Arti, dan Kemudahan bagi Jemaah

6. Sedekah dan Wasiat: Menyempurnakan Ikhtiar

Amalan terakhir yang tak kalah penting adalah sedekah dan penulisan wasiat.
Dalam perspektif fikih, ini bukan sekadar formalitas, tetapi bagian dari tanggung jawab moral.
Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa seseorang dianjurkan:

Menyisihkan nafkah keluarga

  • Menulis wasiat
  • Menunjuk pihak yang mengurus utang jika wafat

Sedekah sendiri memiliki makna spiritual sebagai “pembersih harta”. Ia menjadi simbol bahwa perjalanan haji bukan hanya membawa bekal materi, tetapi juga keberkahan.

Mengapa Amalan Ini Penting?

Jika dicermati, seluruh amalan sunnah ini memiliki satu benang merah: persiapan total.
Bukan hanya fisik, tetapi juga:

  • Moral (melalui tobat)
  • Mental (melalui dzikir dan puasa)
  • Sosial (melalui sedekah dan penyelesaian utang)

Dalam perspektif tasawuf, sebagaimana dijelaskan Al-Ghazali, ibadah yang sempurna adalah ibadah yang dilakukan dengan hati yang bersih.

Artinya, haji bukan sekadar perjalanan ke Makkah, tetapi perjalanan menuju diri yang lebih baik.

Antara Persiapan dan Keikhlasan

Pada akhirnya, amalan sunnah sebelum memasuki bulan haji bukanlah kewajiban, tetapi justru di situlah letak nilainya.

Ia dilakukan bukan karena harus, melainkan karena kesadaran.

Di tengah hiruk-pikuk persiapan teknis, visa, tiket, koper—ada satu hal yang sering terlupakan, yaitu kesiapan hati.

Dan mungkin, di situlah makna terdalamnya. Bahwa haji bukan dimulai saat kaki melangkah ke Tanah Suci, tetapi sejak hati memutuskan untuk kembali kepada Allah dengan penuh keikhlasan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
5 Contoh Pidato Islami HUT Kemerdekaan RI 2026, Singkat dan Penuh Makna
5 Contoh Pidato Islami HUT Kemerdekaan RI 2026, Singkat dan Penuh Makna
Aktual
Menag Nasaruddin: Hasil KUII VIII MUI Jadi Program Kerja Pemerintah
Menag Nasaruddin: Hasil KUII VIII MUI Jadi Program Kerja Pemerintah
Aktual
KUII VIII MUI Hasilkan 12 Rekomendasi, Dorong Danantara Syariah hingga RUU Pencegahan LGBTQ
KUII VIII MUI Hasilkan 12 Rekomendasi, Dorong Danantara Syariah hingga RUU Pencegahan LGBTQ
Aktual
Kasus Eks Jampidsus, Ketua PBNU Minta Jaksa Agung Tetap Semangat Berantas Korupsi
Kasus Eks Jampidsus, Ketua PBNU Minta Jaksa Agung Tetap Semangat Berantas Korupsi
Aktual
Kapan Membacakan Talqin yang Sesuai Sunnah? Ketahui Waktu untuk Menuntun Bacaan “La Ilaha Illallah”
Kapan Membacakan Talqin yang Sesuai Sunnah? Ketahui Waktu untuk Menuntun Bacaan “La Ilaha Illallah”
Aktual
Hukum Bayar Zakat dengan Kartu Kredit Syariah, Boleh atau Tidak? Simak Penjelasan Ulama
Hukum Bayar Zakat dengan Kartu Kredit Syariah, Boleh atau Tidak? Simak Penjelasan Ulama
Aktual
Niat Puasa Daud Lengkap: Bacaan, Tata Cara, Waktu Pelaksanaan, dan Ketentuannya
Niat Puasa Daud Lengkap: Bacaan, Tata Cara, Waktu Pelaksanaan, dan Ketentuannya
Doa dan Niat
Hukum Shalat Sambil Menggendong Anak, Apakah Sah Shalatnya? Ini Penjelasan dan Syaratnya
Hukum Shalat Sambil Menggendong Anak, Apakah Sah Shalatnya? Ini Penjelasan dan Syaratnya
Aktual
Apakah Mematikan Dering HP saat Shalat Bisa Membatalkan Shalat? Ini Penjelasan Ulama
Apakah Mematikan Dering HP saat Shalat Bisa Membatalkan Shalat? Ini Penjelasan Ulama
Aktual
Shalat Istisqa: Niat, Tata Cara, dan Khutbah Sebagai Ikhtiar Meminta Hujan saat Kemarau Panjang
Shalat Istisqa: Niat, Tata Cara, dan Khutbah Sebagai Ikhtiar Meminta Hujan saat Kemarau Panjang
Doa dan Niat
Taaruf dalam Islam, Proses Saling Mengenal Sebelum Menikah
Taaruf dalam Islam, Proses Saling Mengenal Sebelum Menikah
Aktual
Hukum Berhijab Tapi Memakai Wig atau Rambut Palsu, Boleh atau Tidak? Simak Penjelasannya
Hukum Berhijab Tapi Memakai Wig atau Rambut Palsu, Boleh atau Tidak? Simak Penjelasannya
Aktual
Apakah Shalat Ghaib Masih Boleh Dilakukan Setelah Jenazah Dimakamkan? Simak Penjelasannya
Apakah Shalat Ghaib Masih Boleh Dilakukan Setelah Jenazah Dimakamkan? Simak Penjelasannya
Aktual
Amalan Setelah Memakamkan Jenazah Sesuai Sunnah Rasulullah SAW
Amalan Setelah Memakamkan Jenazah Sesuai Sunnah Rasulullah SAW
Aktual
Menag Ingatkan Tak Main Hakim Sendiri Soal LGBT, MUI Siapkan RUU Pidana
Menag Ingatkan Tak Main Hakim Sendiri Soal LGBT, MUI Siapkan RUU Pidana
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar