KOMPAS.com – Menjelang musim haji 1447 Hijriah atau Haji 2026, perhatian umat Islam umumnya tertuju pada rangkaian manasik dan persiapan teknis keberangkatan.
Namun, jauh sebelum itu, terdapat fase yang sering terlewat, persiapan spiritual melalui amalan sunnah sebelum memasuki bulan-bulan haji.
Dalam tradisi fikih dan tasawuf, fase ini justru menjadi fondasi penting. Ia bukan sekadar pelengkap, melainkan “pembersihan awal” agar perjalanan menuju Baitullah tidak hanya sah secara syariat, tetapi juga bermakna secara batin.
Lantas, apa saja amalan sunnah yang dianjurkan sebelum memasuki bulan haji? Mengapa ia begitu penting?
Al-Qur’an secara tegas menyebut bahwa haji memiliki waktu yang telah ditentukan. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 197 disebutkan bahwa haji berlangsung dalam “bulan-bulan yang dimaklumi”.
Para ulama tafsir, seperti Ibnu Katsir dalam karyanya Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah bulan Syawal, Dzulqa’dah, dan sepuluh hari pertama Dzulhijjah.
Namun, penting dipahami bahwa puncak ibadah haji tetap terletak pada wuquf di Arafah tanggal 9 Dzulhijjah. Artinya, bulan-bulan tersebut adalah fase persiapan dan pengantar menuju puncak spiritual.
Dalam konteks ini, amalan sunnah sebelum memasuki bulan haji menjadi “gerbang awal” untuk membersihkan diri secara lahir dan batin.
Baca juga: Arab Saudi Imbau Jemaah Cek Keaslian Izin Haji Sebelum ke Tanah Suci
Amalan pertama yang ditekankan para ulama adalah tobat. Bukan sekadar ucapan istighfar, tetapi juga penyelesaian urusan dengan sesama manusia.
Dalam kitab Fiqih Islam wa Adillatuhu, Wahbah az-Zuhaili menegaskan bahwa seseorang yang hendak melakukan perjalanan jauh, terutama haji wajib:
Mengembalikan hak orang lain
Sementara itu, Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebut tobat sebagai “pintu pertama menuju penyucian jiwa”.
Tobat di sini memiliki dimensi sosial. Ia memastikan bahwa seseorang tidak membawa beban moral dalam perjalanan ibadahnya. Sebab, haji bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan etika.
Sebelum memasuki bulan haji, calon jemaah dianjurkan membiasakan shalat sunnah safar. Amalan ini menjadi simbol penyerahan diri sebelum perjalanan panjang.
Dalam kitab Al-Majmu’, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa shalat dua rakaat sebelum bepergian adalah sunnah yang sangat dianjurkan.
Lebih dari sekadar ritual, shalat ini memiliki makna psikologis: menenangkan hati, menata niat, dan memohon perlindungan.
Di sinilah terlihat bahwa Islam tidak memisahkan antara aspek spiritual dan praktis. Bahkan perjalanan pun dimulai dengan doa.
Meski ihram belum dilakukan, para ulama menganjurkan membiasakan kebersihan diri sebagai bagian dari persiapan haji.
Dalam hadis riwayat Tirmidzi disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW mandi sebelum berihram.
Hal ini dijelaskan lebih lanjut dalam kitab Al-Badr at-Tamam oleh Husain al-Maghribi sebagai bentuk tathhir (penyucian).
Persiapan ini mencakup:
Secara simbolik, kebersihan fisik mencerminkan kesiapan batin. Ia menjadi pesan bahwa ibadah tidak hanya soal niat, tetapi juga kesiapan total tubuh dan jiwa.
Baca juga: Kumpulan Doa Haji dan Umrah Lengkap: Arab, Latin, Arti Sesuai Sunnah
Salah satu amalan paling dianjurkan menjelang bulan haji adalah puasa sunnah pada 10 hari pertama Dzulhijjah.
Dalam hadis riwayat At-Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda bahwa tidak ada hari yang lebih dicintai Allah untuk beribadah selain sepuluh hari tersebut.
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa amal saleh di hari-hari ini memiliki keutamaan luar biasa.
Puasa ini berfungsi sebagai:
Khusus hari Arafah (9 Dzulhijjah), puasa sangat dianjurkan bagi yang tidak berhaji. Namun bagi jemaah di Arafah, justru disunnahkan tidak berpuasa agar kuat berdoa.
Dzikir menjadi amalan yang sangat ditekankan dalam sepuluh hari pertama Dzulhijjah.
Dalam kitab Al-Adzkar, Imam An-Nawawi menegaskan bahwa dzikir pada hari-hari ini lebih utama dibanding hari lainnya.
Bentuk dzikir yang dianjurkan antara lain:
Dzikir berfungsi sebagai “pemurni niat”. Ia membantu calon jemaah mengalihkan fokus dari dunia menuju orientasi akhirat.
Baca juga: Niat Ihram dan Doa Haji: Arab, Latin, Arti, dan Kemudahan bagi Jemaah
Amalan terakhir yang tak kalah penting adalah sedekah dan penulisan wasiat.
Dalam perspektif fikih, ini bukan sekadar formalitas, tetapi bagian dari tanggung jawab moral.
Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa seseorang dianjurkan:
Menyisihkan nafkah keluarga
Sedekah sendiri memiliki makna spiritual sebagai “pembersih harta”. Ia menjadi simbol bahwa perjalanan haji bukan hanya membawa bekal materi, tetapi juga keberkahan.
Jika dicermati, seluruh amalan sunnah ini memiliki satu benang merah: persiapan total.
Bukan hanya fisik, tetapi juga:
Dalam perspektif tasawuf, sebagaimana dijelaskan Al-Ghazali, ibadah yang sempurna adalah ibadah yang dilakukan dengan hati yang bersih.
Artinya, haji bukan sekadar perjalanan ke Makkah, tetapi perjalanan menuju diri yang lebih baik.
Pada akhirnya, amalan sunnah sebelum memasuki bulan haji bukanlah kewajiban, tetapi justru di situlah letak nilainya.
Ia dilakukan bukan karena harus, melainkan karena kesadaran.
Di tengah hiruk-pikuk persiapan teknis, visa, tiket, koper—ada satu hal yang sering terlupakan, yaitu kesiapan hati.
Dan mungkin, di situlah makna terdalamnya. Bahwa haji bukan dimulai saat kaki melangkah ke Tanah Suci, tetapi sejak hati memutuskan untuk kembali kepada Allah dengan penuh keikhlasan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang