KOMPAS.com – Selama ini, air zamzam dikenal luas sebagai air paling istimewa di dunia dalam tradisi Islam.
Ia tidak hanya dikaitkan dengan sejarah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, tetapi juga disebut dalam berbagai hadis sebagai air yang penuh keberkahan, bahkan dapat menjadi penyembuh.
Namun, dalam khazanah keilmuan Islam klasik, terdapat pandangan menarik dari para ulama, ada air yang dinilai memiliki derajat lebih tinggi dibandingkan air zamzam.
Pernyataan ini bukan dimaksudkan untuk merendahkan keutamaan zamzam, melainkan untuk menunjukkan luasnya perspektif ulama dalam memahami mukjizat dan kemuliaan Rasulullah SAW.
Lantas, benarkah air zamzam bukan yang paling utama? Apa dasar pendapat tersebut?
Baca juga: Sejarah Raja Persia: Dari Cyrus hingga Revolusi Islam Iran 1979
Air zamzam berasal dari sumur Zamzam di Masjidil Haram, yang hingga kini terus mengalir dan menjadi sumber air bagi jutaan jemaah haji dan umrah.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muhammad, disebutkan:
“Air zamzam itu sesuai dengan niat orang yang meminumnya.” (HR. Ibnu Majah)
Hadis ini sering dijadikan landasan bahwa zamzam memiliki dimensi spiritual yang kuat. Dalam buku Membumikan Al-Qur’an karya M. Quraish Shihab, dijelaskan bahwa keberkahan dalam Islam tidak selalu bersifat fisik, tetapi juga berkaitan dengan niat, doa, dan keimanan.
Selain itu, dalam kitab Fiqh al-Sunnah karya Sayyid Sabiq, air zamzam disebut sebagai air yang memiliki keutamaan khusus karena terkait langsung dengan sejarah kenabian dan menjadi bagian dari syiar ibadah haji.
Meski demikian, sejumlah ulama klasik memiliki pandangan berbeda terkait “air paling utama”. Mereka menyebut bahwa air yang memancar dari sela-sela jari Rasulullah SAW dalam peristiwa mukjizat memiliki derajat tertinggi.
Peristiwa ini diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik dalam hadis sahih:
“Aku melihat air memancar dari sela-sela jari Rasulullah SAW, dan orang-orang berwudhu darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mukjizat ini menunjukkan bahwa air tersebut bukan sekadar air biasa, melainkan bagian dari tanda kekuasaan Allah yang langsung terkait dengan kemuliaan Nabi.
Dalam kitab Mughni al-Muhtaj karya ulama mazhab Syafi’i, disebutkan bahwa sebagian ulama, seperti Imam al-Bulqini, membahas tingkatan keutamaan air, di mana air zamzam termasuk yang paling utama di antara air di bumi, tetapi tetap berada di bawah air yang keluar dari jasad Nabi SAW dalam peristiwa mukjizat.
Pendapat serupa juga ditemukan dalam Hasyiyah Qalyubi wa Umairah serta I’anat at-Thalibin, yang menjelaskan bahwa:
Baca juga: Bacaan Doa Minum Air Zamzam Lengkap: Adab, Manfaat, dan Keutamaannya
Dalam perspektif teologi Islam, sesuatu yang berkaitan langsung dengan Nabi Muhammad SAW memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi.
Hal ini karena beliau adalah manusia pilihan yang menjadi perantara wahyu dan rahmat bagi seluruh alam.
Dalam buku Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali, dijelaskan bahwa kemuliaan sesuatu dalam Islam sering kali diukur dari kedekatannya dengan sumber ilahi.
Dalam konteks ini, mukjizat Nabi merupakan manifestasi langsung dari kekuasaan Allah, sehingga memiliki keutamaan yang tidak dimiliki oleh fenomena biasa.
Air yang memancar dari jari Rasulullah bukan hanya memenuhi kebutuhan fisik para sahabat saat itu, tetapi juga menjadi bukti nyata kenabian yang disaksikan secara langsung.
Meski ada pandangan bahwa air mukjizat Nabi lebih utama, para ulama tetap sepakat bahwa air zamzam memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan istimewa dalam kehidupan umat Islam.
Hal ini karena:
Dalam buku Ensiklopedia Mukjizat Nabi Muhammad karya Syekh Safiurrahman Al-Mubarakfuri, disebutkan bahwa mukjizat Rasulullah tidak hanya bersifat historis, tetapi juga menjadi sumber inspirasi spiritual sepanjang zaman.
Zamzam, meski bukan mukjizat langsung seperti air dari jari Nabi, tetap menjadi “jejak hidup” dari sejarah kenabian yang terus dirasakan umat hingga kini.
Baca juga: Kisah Sumur Zamzam Tak Pernah Kering Sejak 4.000 Tahun Silam
Perbedaan pandangan tentang “air paling utama” sejatinya tidak perlu dipertentangkan. Ia justru menunjukkan kekayaan intelektual dalam tradisi Islam.
Air zamzam tetap istimewa, penuh keberkahan, dan memiliki tempat khusus di hati umat Islam.
Sementara air mukjizat Nabi Muhammad SAW dipandang lebih utama dalam konteks teologis karena terkait langsung dengan kemuliaan beliau.
Pada akhirnya, yang terpenting bukan sekadar mana yang paling utama, tetapi bagaimana umat Islam mampu mengambil hikmah dari setiap kisah dan menjadikannya sebagai penguat iman.
Dan mungkin, di situlah letak makna terdalamnya, bahwa keberkahan tidak selalu diukur dari apa yang terlihat, tetapi dari seberapa dekat sesuatu itu dengan sumber keimanan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang