KOMPAS.com – Di tengah tuntutan hidup modern, semakin banyak orang tua dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah, mendidik anak secara langsung di rumah atau menitipkannya di daycare.
Di satu sisi, kebutuhan ekonomi dan aktivitas profesional menuntut waktu yang tidak sedikit. Namun di sisi lain, ada amanah besar yang tidak bisa dialihkan sepenuhnya, yaitu mendidik anak sebagai generasi penerus.
Lantas, bagaimana Islam memandang fenomena ini? Apakah menitipkan anak di daycare dibenarkan dalam syariat? Dan sejauh mana peran orang tua, khususnya ibu, dapat digantikan oleh lembaga pengasuhan?
Dalam perspektif Islam, anak bukan hanya bagian dari keluarga, tetapi amanah ilahi yang harus dijaga dengan penuh kesungguhan. Amanah ini mencakup aspek fisik, emosional, intelektual, hingga spiritual.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab orang tua tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan duniawi, tetapi juga mencakup keselamatan akhirat anak.
Dalam buku Tuhfatul Maudud bi Ahkam al-Maulud, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menegaskan bahwa kelalaian dalam mendidik anak merupakan bentuk kesalahan besar yang berdampak panjang, baik bagi anak maupun orang tua.
Baca juga: Peran Orang Tua Kunci Pendidikan Anak, Pesan KH Qosim di Purworejo
Secara hukum, menitipkan anak di daycare termasuk dalam kategori mubah (boleh). Dalam kajian fikih, praktik ini dapat dianalogikan sebagai akad wakalah, yaitu pelimpahan sebagian tanggung jawab kepada pihak lain.
Namun, kebolehan ini tidak bersifat mutlak. Ia dibatasi oleh prinsip utama dalam Islam: menjaga amanah dan menghindari mudarat.
Dalam buku Fiqh al-Usrah al-Muslimah karya Yusuf al-Qaradawi, dijelaskan bahwa setiap keputusan dalam keluarga harus mempertimbangkan maslahat (kebaikan) dan mafsadat (risiko). Artinya, daycare dapat menjadi solusi jika:
Dengan demikian, daycare bukan pengganti peran orang tua, melainkan hanya pelengkap dalam kondisi tertentu.
Dalam tradisi keilmuan Islam, terdapat ungkapan populer:
“Al-ummu madrasatul ula,” ibu adalah sekolah pertama bagi anak.
Ungkapan ini bukan sekadar retorika, tetapi mencerminkan realitas psikologis dan spiritual. Dari ibulah seorang anak pertama kali belajar berbicara, bersikap, mengenal kasih sayang, hingga memahami nilai benar dan salah.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda bahwa seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab atas anak-anaknya.
Peran ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga edukatif dan moral. Dalam buku Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa pendidikan anak pada fase awal kehidupan sangat menentukan pembentukan akhlaknya di masa depan.
Artinya, apa yang ditanamkan ibu sejak dini akan menjadi fondasi kepribadian anak dalam jangka panjang.
Baca juga: Doa Nabi Zakariya Memohon Anak: Harapan di Tengah Kemustahilan
Daycare, sebaik apa pun sistemnya, tetap memiliki keterbatasan. Ia mampu menyediakan lingkungan aman, stimulasi kognitif, bahkan interaksi sosial. Namun, ada aspek yang tidak bisa sepenuhnya digantikan:
Dalam buku The Psychology of the Child karya Jean Piaget, dijelaskan bahwa interaksi langsung dengan figur utama (orang tua) memiliki peran penting dalam perkembangan kognitif dan emosional anak.
Hal ini sejalan dengan pandangan Islam yang menempatkan keluarga sebagai pusat pendidikan utama.
Masalah muncul ketika daycare tidak lagi menjadi solusi sementara, tetapi berubah menjadi pelarian dari tanggung jawab.
Ibnu Qayyim mengingatkan bahwa banyak kerusakan anak justru berawal dari kelalaian orang tua dalam mendidik dan membimbing mereka sejak kecil.
Jika anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan pengasuh dibanding orang tuanya, maka yang terbentuk bukan hanya kebiasaan, tetapi juga nilai dan karakter yang mungkin tidak sepenuhnya selaras dengan ajaran keluarga.
Baca juga: 4 Doa Memohon Diberikan Anak untuk Diamalkan Oleh Pejuang Garis Dua yang Berharap Keturunan
Islam tidak menutup mata terhadap realitas zaman. Kebutuhan ekonomi, tuntutan pekerjaan, dan dinamika sosial adalah bagian dari kehidupan yang harus dihadapi.
Namun, yang ditekankan adalah keseimbangan.
Orang tua tetap bisa menggunakan daycare, dengan catatan:
Dalam konteks ini, kualitas lebih penting daripada kuantitas. Waktu yang singkat, jika diisi dengan perhatian dan keteladanan, dapat memberikan dampak yang jauh lebih besar.
Mendidik atau menitipkan bukanlah dua pilihan yang harus dipertentangkan. Keduanya bisa berjalan berdampingan, selama prinsip utama tetap dijaga, anak adalah amanah yang tidak bisa dialihkan sepenuhnya.
Daycare mungkin membantu menjaga dan merawat, tetapi orang tualah yang membentuk jiwa.
Dan di antara keduanya, sosok ibu tetap berada di pusat, sebagai madrasah pertama yang menanamkan nilai, membentuk karakter, dan menuntun arah kehidupan anak.
Karena pada akhirnya, yang akan diingat anak bukan hanya di mana ia dititipkan, tetapi bagaimana ia dibesarkan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang