Editor
KOMPAS.com - Mendapatkan predikat haji mabrur adalah impian setiap Muslim yang menunaikan ibadah ke Tanah Suci. Namun, kemabruran bukanlah gelar yang otomatis melekat setelah pulang haji.
Dalam berbagai tausiyahnya, Buya Yahya menegaskan bahwa tanda utama haji mabrur justru terlihat dari perubahan hati dan perilaku setelah kembali ke tanah air.
Haji bukan sekadar ritual, melainkan momentum transformasi spiritual yang membentuk kepribadian seorang Muslim menjadi lebih dekat kepada Allah SWT.
Secara bahasa, kata mabrur berasal dari البرّ (al-birr) yang berarti kebaikan. Maka, haji mabrur adalah haji yang dipenuhi dengan kebaikan dan diterima oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.
Para ulama menjelaskan bahwa haji mabrur adalah:
Dengan demikian, haji adalah proses pembentukan jiwa agar terbiasa dalam kebaikan, bukan sekadar perjalanan fisik ke Baitullah.
Allah SWT berfirman:
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ...(QS. Al-Baqarah: 197)
Ayat ini menegaskan pentingnya menjaga lisan, perilaku, dan hati selama haji, serta memperbanyak kebaikan yang akan dicatat oleh Allah.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ"
(HR. Bukhari dan Muslim)
Tidak ada balasan bagi haji mabrur selain surga—sebuah ganjaran tertinggi bagi seorang hamba.
2. Menghapus Dosa
وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ
(HR. Muslim)
Haji yang dilakukan dengan benar mampu menghapus dosa-dosa yang telah lalu.
"لَا، لَكِنْ أَفْضَلُ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ"
(HR. Bukhari)
Haji mabrur disebut sebagai jihad terbaik, terutama bagi mereka yang tidak terjun ke medan perang.
الْحُجَّاجُ وَالْعُمَّارُ وَفْدُ اللهِ...
(HR. Al-Bazzar)
Jemaah haji adalah tamu Allah, yang doanya diijabah dan permohonannya dikabulkan.
Menurut Buya Yahya, kemabruran haji terlihat dari perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Berikut tanda-tandanya:
Haji mabrur ditandai dengan perubahan positif, meski bertahap. Seseorang mulai meninggalkan kebiasaan buruk dan beralih pada kebaikan.
Setelah haji, seseorang menjadi lebih disiplin dalam shalat, rajin berzikir, dan menjaga ibadah sunnah.
Kemabruran tampak dari akhlak di rumah: lebih lembut kepada pasangan, sabar, dan tidak mudah marah.
Orang yang hajinya mabrur tidak hanya mengejar dunia, tetapi juga membimbing keluarganya menuju jalan Allah.
Gelar “haji” tidak membuatnya bangga diri. Justru ia semakin rendah hati (*tawaduk*) dan menjaga keikhlasan.
Ia terus memperbaiki diri dengan menghadiri majelis ilmu agar tetap istiqamah dalam kebaikan.
Baca juga: Haji Mabrur Tak Cukup Ihram, Ini Kunci Niat, Doa, dan Tanda-Tandanya
Dalam pandangan Buya Yahya, haji mabrur bukan akhir perjalanan, melainkan awal dari kehidupan baru yang lebih baik. Status ini bisa hilang jika seseorang kembali pada kemaksiatan atau terjebak dalam kesombongan.
Haji mabrur bukan sekadar status sosial, tetapi cerminan perubahan hati dan perilaku. Ia terlihat dari konsistensi dalam ibadah, akhlak yang semakin baik, serta keikhlasan dalam menjalani hidup.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga. Maka, tugas setiap jemaah bukan hanya meraih kemabruran, tetapi juga menjaganya sepanjang hidup.
Semoga Allah menganugerahkan kita semua haji yang mabrur dan kehidupan yang penuh keberkahan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang