KOMPAS.com – Kucing sering disebut sebagai hewan kesayangan Nabi Muhammad. Namun, di balik itu, terdapat beragam hewan lain yang pernah dipelihara beliau, masing-masing dengan kisah yang sarat makna.
Riwayat-riwayat tentang hewan peliharaan Rasulullah tidak hanya menunjukkan sisi keseharian beliau, tetapi juga menggambarkan ajaran Islam tentang kasih sayang terhadap seluruh makhluk hidup.
Dalam berbagai hadis disebutkan bahwa memperlakukan hewan dengan baik merupakan bagian dari akhlak mulia seorang Muslim.
Sikap Rasulullah terhadap hewan bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari ajaran. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari disebutkan bahwa orang yang menyayangi makhluk hidup akan mendapatkan rahmat dari Allah SWT.
Dalam buku Ar-Rahiq al-Makhtum karya Shafiyurrahman al-Mubarakfuri dijelaskan bahwa kehidupan Rasulullah penuh dengan nilai kasih sayang, tidak hanya kepada manusia tetapi juga kepada hewan. Hal ini menjadi dasar etika Islam dalam memperlakukan makhluk lain.
Baca juga: Awal Mula Wukuf di Arafah, Kisah Pertemuan Nabi Adam dan Hawa
Salah satu hewan paling dikenal dalam kehidupan Rasulullah adalah unta bernama Qiswa. Dalam buku Qiswa, Unta Kesayangan Nabi Muhammad karya Ceng Ahmar Syamsi disebutkan bahwa unta ini memiliki peran penting dalam perjalanan dakwah.
Qiswa bukan sekadar alat transportasi. Ia menjadi saksi berbagai peristiwa penting, termasuk perjalanan hijrah dan aktivitas harian Rasulullah.
Perhatian beliau terhadap kesehatan dan makanan unta ini menunjukkan bahwa hewan pun memiliki hak untuk diperlakukan dengan baik.
Rasulullah juga memiliki beberapa kuda yang digunakan dalam perjalanan dan peperangan. Kuda pertama beliau bernama As-Sakb, yang dibeli dari seorang Badui.
Dalam kitab ‘Umdah al-Ahkam karya Abdul Ghani Al-Maqdisi disebutkan bahwa Rasulullah mengganti nama kuda tersebut dan merawatnya dengan baik. Kuda ini bahkan pernah digunakan dalam perlombaan dan memenangkan pacuan.
Selain As-Sakb, terdapat kuda lain seperti Al-Murtajaz, Lizaz, hingga Al-Ward. Sebagian di antaranya merupakan hadiah dari para sahabat atau pemimpin wilayah lain, menunjukkan hubungan diplomatik yang terjalin saat itu.
Baca juga: Rahasia Jendela Masjid Nabawi Tak Pernah Tutup, Bukti Cinta Hafshah kepada Nabi
Baghal hasil persilangan antara kuda dan keledai juga termasuk hewan peliharaan Rasulullah. Hewan ini dikenal dengan nama Duldul.
Duldul sering digunakan sebagai tunggangan dalam perjalanan. Menariknya, Rasulullah sendiri menyiapkan makanan untuknya, termasuk menumbuk gandum. Hal ini menunjukkan keterlibatan langsung beliau dalam merawat hewan.
Menurut berbagai riwayat, Duldul hidup cukup lama bahkan setelah wafatnya Rasulullah, hingga akhirnya meninggal di wilayah Yanbu.
Selain hewan tunggangan, Rasulullah juga memelihara hewan ternak seperti kambing dan domba.
Tercatat ada beberapa kambing yang beliau terima sebagai hadiah, seperti Ujrah, Zamzam, dan Barakah.
Dalam buku Zadul Ma’ad karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dijelaskan bahwa Rasulullah menjalani kehidupan yang sederhana, termasuk dalam hal konsumsi.
Kambing dan domba menjadi bagian dari kebutuhan sehari-hari, baik untuk susu maupun daging.
Namun demikian, cara beliau memperlakukan hewan-hewan ini tetap penuh kasih, tanpa menyiksa atau membebani secara berlebihan.
Rasulullah juga memiliki keledai bernama Ufair, yang merupakan hadiah dari penguasa Mesir, Al-Muqauqis. Keledai ini digunakan sebagai tunggangan dalam berbagai aktivitas.
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Ufair memiliki warna abu-abu dan menjadi salah satu hewan yang cukup dekat dengan Rasulullah. Bahkan, ada riwayat yang menyebutkan bahwa keledai ini wafat pada masa Haji Wada’.
Selain Ufair, terdapat pula keledai lain yang diberikan oleh sahabat seperti Sa’ad bin Ubadah, yang menunjukkan kebiasaan saling memberi hadiah di kalangan masyarakat saat itu.
Baca juga: Rangkuman Isra Miraj: Kisah Perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam Semalam dan Maknanya bagi Umat Islam
Dari berbagai kisah tersebut, tampak jelas bahwa hubungan Rasulullah dengan hewan tidak sekadar fungsional. Hewan bukan hanya alat, tetapi juga makhluk hidup yang harus dihormati.
Dalam perspektif fikih, memperlakukan hewan dengan baik merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.
Rasulullah melarang menyiksa hewan, membebani di luar kemampuan, atau mengabaikan kebutuhan dasar mereka.
Hal ini sejalan dengan prinsip rahmatan lil ‘alamin bahwa Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam, termasuk hewan.
Kisah hewan peliharaan Rasulullah membuka sisi lain dari kehidupan beliau yang sering kali luput dari perhatian.
Di balik peran besar sebagai nabi dan pemimpin, terdapat keteladanan sederhana dalam memperlakukan makhluk hidup.
Di era modern, ketika isu kesejahteraan hewan semakin mendapat perhatian global, ajaran Rasulullah justru telah lebih dulu menanamkan nilai-nilai tersebut.
Menyayangi hewan bukan hanya tindakan kemanusiaan, tetapi juga bagian dari ibadah. Dari unta hingga keledai, setiap kisah menjadi pengingat bahwa kasih sayang tidak mengenal batas, bahkan kepada makhluk yang tidak bisa berbicara.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang