MAKKAH, KOMPAS.com- Menjalani ujian akhir Sekolah Menengah Pertama umumnya diwarnai ketegangan di ruang kelas, diawasi guru, dan duduk terpaku pada lembar soal. Namun, tidak dengan yang dialami Aysylla Naila Sari.
Di usianya yang baru menginjak 15 tahun, siswi MTsN 1 Malang ini justru menatap layar ponselnya untuk menuntaskan ujian kelulusan melintasi batas negara. Dia menyelesaikan ujian dari Kota Suci Madinah.
"Jadi mengerjakan ujiannya di Madinah," cerita Ays kepada tim Media Center Haji 2026 di Marjan Alsalam Hostel, Makkah, Rabu (6/5/2026).
Baca juga: Kemenhaj Perkuat Satgas Haji Nonprosedural, 80 Keberangkatan WNI Ditunda
Pada musim haji 2026 ini, Ays, sapaan akrabnya, resmi mencatatkan diri sebagai jamaah haji termuda asal Kabupaten Malang. Pada pertengahan November 2025, surat pemberitahuan keberangkatan haji itu tiba.
Sambil menahan kegembiraan, hati Ays berkecamuk. Di satu sisi, ia sangat bersyukur mendapatkan panggilan langka tersebut. Namun di sisi lain, dia sebentar lagi melaksanakan ujian akhir sekolah.
Belum lagi mengenai aturan batas minimal berhaji yang dia ketahui adalah usia 17 tahun. Sementara usianya saat itu 14 tahun. Baru kemudian dia tahu ada aturan baru bahwa batas usia minimal diubah menjadi 13 tahun.
Masalah usia selesai, namun jadwal keberangkatannya ternyata berbenturan dengan ujian akhir kelulusan sekolah. Ays lantas berdiskusi panjang dengan wali kelas dan kepala sekolahnya.
Pihak sekolah memberikan dukungan penuh dan merumuskan solusi kreatif. Mengingat Ays harus terbang bersama kloter SUB 16 pada 25 April, dan pulang pada 6 Juni, maka jadwal ujiannya pun terpaksa dimajukan dan harus dibawa serta ke Tanah Suci. Pada 9 Juni mendatang, Ays dijadwalkan mengikuti wisuda.
Baca juga: 8 Calon Jemaah Haji Cadangan Asal Sumenep Berangkat Lebih Dulu dari Jemaah Reguler
Perjalanan Ays sempat tertundak ketika penerbangannya tertahan di Bandara Kualanamu, Medan. Hal ini berimbas pada terpangkasnya masa tinggal rombongan di Madinah menjadi hanya tujuh hari.
Di waktu yang terbatas, anak bungsu dari tiga bersaudara ini dituntut mahir membagi fokus. Dia tak boleh meninggalkan ibadah, tetapi harus bisa mengerjakan soal ujian.
"Ujiannya pakai HP, pakai aplikasi CBT," tuturnya membagikan pengalaman unik tersebut.
Selama lima hari beruntun, Ays berjibaku menyelesaikan 12 mata pelajaran bermodalkan ponsel pintar di tangannya. Tekanan akademik di negeri orang akhirnya berhasil ia lalui.
"Alhamdulillah lancar semua," tambahnya.
Meski masih memiliki tanggungan ujian praktik olahraga dan seni yang harus direkam, ia merasa sangat lega karena beban ujian tulis telah tuntas.
Rutinitas ujian ini pun tidak menghalanginya untuk merasakan syahdunya Madinah. Berbekal pendaftaran via aplikasi Nusuk, Ays telah memasuki Masjid Nabawi dan memanjatkan doa di Raudhah.
Baca juga: Keutamaan Haji Mabrur, Pulang Suci Bak Bayi yang Baru Lahir
Kehadiran Ays di Tanah Suci di usia yang amat belia adalah buah dari pandangan visioner kedua orang tuanya. Sang ayah, yang berprofesi sebagai nelayan, sangat memahami betapa panjangnya antrean haji di Indonesia.
Dia sendiri telah menunaikan rukun Islam kelima itu pada 2006. Tidak ingin anak-anaknya baru bisa berhaji di usia senja, ia segera mendaftarkan Ays yang saat itu masih bayi.
"Waktu itu didaftarkan saat usia 1 tahun 8 bulan," kenang gadis asal Sumbermanjing tersebut. Saat itu, pemerintah memang belum menerapkan aturan batas usia minimal untuk pendaftaran.
Kisah penantian selama 14 tahun ini kerap membuat teman-teman sekolahnya salah sangka. Banyak yang mengira Ays menggunakan jalur haji khusus demi bisa berangkat secepat itu, hingga akhirnya ia harus menjelaskan rekam jejak pendaftarannya sejak masa balita.
Meski sebelumnya sudah pernah mencicipi pengalaman umrah pada tahun 2023, perjalanan haji tetap memberikan resonansi batin yang berbeda bagi Ays.
"Vibes-nya itu berbeda gitu sama umrah, terus juga perjalanan ke masjidnya itu juga beda, hotelnya juga beda," jelasnya.
Baca juga: Jangan Asal Beli, Ini Oleh-oleh Haji yang Dilarang di Pesawat
Menjadi jamaah muda membuat Ays sadar akan pentingnya kesiapan fisik. Ia sangat mendukung langkah orang tua yang mendaftarkan anaknya sedini mungkin agar kelak bisa beribadah dalam kondisi bugar.
"Karena kalau (berangkat saat) sudah tua, sudah sepuh-sepuh itu, kasihan lihatnya. Jadi mumpung masih usia muda, cepat-cepat daftar aja," pesannya bijak.
Kini, setibanya di Makkah sejak 4 Mei lalu, Ays dan kakaknya baru satu kali ke Masjidil Haram untuk umrah wajib. Atas saran kakak ipar yang turut mendampingi, mereka memilih menyimpan tenaga untuk puncak ibadah haji nanti.
Meski begitu, Ays sudah menyempatkan waktu untuk memborong oleh-oleh saat masih berada di Madinah agar tidak mengganggu fokus doanya di Makkah.
"Sudah dikargoin juga, 20 kilo," imbuhnya mengakhiri cerita.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang