Editor
KOMPAS.com - Pemberangkatan jemaah haji Embarkasi Surabaya kini memasuki gelombang kedua.
Hingga Jumat (8/5/2026), total 23.519 jemaah telah diterbangkan ke Tanah Suci untuk menjalankan rukun Islam kelima .
Berbeda dari jemaah gelombang pertama, pada fase ini, seluruh jemaah yang berangkat langsung menuju Jeddah diwajibkan mengenakan pakaian ihram sejak dari Asrama Haji Sukolilo Surabaya.
Baca juga: Pemberangkatan Jemaah Haji Bangkalan Diwarnai Laporan Kehilangan Dompet dan Handphone
Kebijakan tersebut dilakukan agar jemaah tidak melewati batas miqat sebelum melaksanakan umrah wajib.
Selain itu, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Surabaya juga mencatat adanya jemaah yang dipulangkan karena alasan kesehatan.
Baca juga: Andre Rosiade Bagi-bagi Uang Saku 100 Riyal untuk Jemaah Haji Kloter Terakhir Embarkasi Padang
Sejak keluar dari kamar asrama menuju bus pemberangkatan ke Bandara Juanda, seluruh jemaah pria tampak mengenakan kain ihram berwarna putih tanpa jahitan.
Sementara itu, jemaah perempuan menggunakan pakaian muslimah sesuai ketentuan ibadah haji.
Ketua PPIH Embarkasi Surabaya, Asadul Anam, menjelaskan teknis pemberangkatan gelombang kedua berbeda dengan gelombang pertama.
Pada gelombang kedua yang dimulai sejak Kloter 57 hingga Kloter 116, seluruh jemaah langsung diterbangkan menuju Jeddah untuk menjalankan umrah wajib setibanya di Arab Saudi.
Karena itu, jemaah harus sudah mengenakan pakaian ihram sejak keberangkatan dari embarkasi agar tidak melewati batas miqat.
"Begitu jemaah mendarat di Jeddah sudah memakai ihram. Sebab langsung umrah wajib dengan sarat memakai ihram saat miqat. Kesiapan jemaah harus terkoordinasi dengan baik sejak di Embarkasi," kata Anam.
Ia menjelaskan, penggunaan ihram sejak dari embarkasi dilakukan untuk memastikan jemaah tidak melewati ketentuan miqat yang telah ditetapkan dalam syariat Islam.
Selain proses pemberangkatan, PPIH Embarkasi Surabaya juga mencatat ada empat jemaah yang dipulangkan ke daerah asal sebelum keberangkatan.
Menurut Anam, keempat jemaah tersebut dinyatakan tidak laik terbang karena kondisi kesehatan.
Salah satu jemaah berasal dari Kabupaten Jombang dan mengalami demensia hingga akhirnya dipulangkan ke keluarga.
"Ada satu jemaah dari Jombang mengalami demensia dan dikembalikan ke daerah. Keluarga ikhlas dan rela," terang Anam.
Jemaah tersebut sebelumnya sempat dirujuk ke RS Menur dan dinyatakan mengalami gangguan jiwa.
Selain dari Jombang, tiga jemaah lain yang berasal dari Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Lamongan juga dipulangkan karena sakit.
Anam menegaskan kesehatan menjadi salah satu syarat utama istithaah atau kemampuan menjalankan ibadah haji.
Karena itu, ia meminta pemeriksaan kesehatan jamaah dilakukan secara ketat sejak di daerah asal agar tidak ada jemaah yang dipulangkan setelah tiba di embarkasi.
"Tidak sedikit yang memaksakan diri. Mekso jaluk Istithaah. Sampai ada menyalahkan kapasitas dokter. Sebaiknya menerima keputusan dokter daripada merepotkan banyak pihak," kata Anam.
Menurutnya, banyak jemaah yang sudah berpamitan dengan keluarga dan masyarakat di kampung sehingga merasa kecewa ketika harus dipulangkan karena kondisi kesehatan.
PPIH Embarkasi Surabaya juga menerima laporan tiga jemaah meninggal dunia di Arab Saudi.
Ketiganya yakni Kamariyah Dul Tayib dari Kloter 8 Kabupaten Pasuruan, Abdul Wachid dari Kloter 7 Kabupaten Pasuruan, serta Fajar Puja Sasmita dari Kloter 11 Kota Malang.
Sementara itu, hingga saat ini terdapat tujuh jemaah yang masih mengalami penundaan keberangkatan di Asrama Haji Embarkasi Surabaya, terdiri dari lima jemaah sakit dan dua pendamping.
Artikel ini telah tayang di TribunJatim.com dengan judul "Jelang Terbang, Sebanyak 4 Jemaah Haji Embarkasi Surabaya Dipulangkan, Ada yang Karena Demensia".
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang