Editor
KOMPAS.com-Ibadah haji merupakan perjalanan suci untuk memenuhi panggilan Allah SWT.
Seorang Muslim yang berangkat ke Tanah Suci perlu meluruskan niat, bukan untuk wisata, mencari gelar, atau mendapat pujian.
Khutbah Jumat oleh Drs KH Amin Munawar, M.A, Ketua 1 MUI Kota Tangerang yang dilansir di laman MUI, mengingatkan bahwa haji harus dijalankan dengan hati yang suci dan niat semata-mata karena Allah SWT.
Jamaah diajak menjaga ketakwaan, membersihkan hati, dan menjadikan ibadah haji sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
الَسَّلامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُه
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا سُبُلَ السَّلَامِ وَأَفْهَمَناَ بِشَرِيْعَةِ النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ ذُوالْجَلَالِ وَالْاِ كْرَامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الَلّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّ يْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيٰٓاَيُّهَا الْإِخْوَانُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَي اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قاَلَ تَعَالٰى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا)، وَقَالَ تَعَالَى (يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ)
وَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى أَيْضًا فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْم (فِيهِ ءَايَٰتٌۢ بَيِّنَٰتٌ مَّقَامُ إِبْرَٰهِيمَ ۖ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ)
Para Hadirin Sidang Jumat yang Dirahmati Allah SWT,
Melalui mimbar ini, dengan khutbah Jumat yang singkat di siang hari ini, marilah kita hubungkan jiwa dan raga kita kepada Allah SWT, atas segala limpahan anugerah dan percikan rahmat, serta karunia Allah yang senantiasa dicurahkan kepada kita.
Alhamdulillah sampai kepada detik yang berbahagia ini, tiada kata yang paling indah yang dapat kita ucapkan dan tiada ungkapan yang paling indah untuk disampaikan, melainkan ucapan dan ungkapan penuh rasa syukur kepada Allah SWT.
Baca juga: Khutbah Jumat 15 Mei 2026: Kurban Mengajarkan Kepedulian dan Pengorbanan
Sampai pada kesempatan ini kita dapat duduk simpuh penuh dengan khidmat, ikhlas dan rela meninggalkan segala aktivitas, kesibukan, waktu istirahat, tugas pokok dan penting, dan berbagai hal lainnya.
Semua kita tinggalkan, dengan niat suci, langkah suci, dan pakaian kita yang serba suci. Kemudian kita menundukkan kepala di tempat yang suci dan mulia ini dalam rangka berdialog langsung dengan Yang Mahasuci melalui shalat Jumat di siang hari ini.
Tentunya dengan harapan, semoga shalat Jumat kita, termasuk ibadah-ibadah lain, baik sunnah maupun fardhu, senantiasa diterima Allah SWT.
Tidak lupa semoga shalawat serta salam senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW, juga kepada keluarga, dan kepada para sahabatnya, serta kepada seluruh kaum muslimin dan muslimat, baik mereka yang masih hidup maupun yang telah mendahului kita.
Para Hadirin Sidang Jumat yang Dirahmati Allah SWT,
Dalam kesempatan ini, khatib akan menyampaikan khutbah dengan tema “Pergi Haji ke Tanah Suci dengan Hati yang Suci”.
Terkait hal ini, ada beberapa catatan penting yang harus diperhatikan.
1. Berangkat ke Tanah Suci jangan ada niat lain
Ketahuilah bahwa berangkat haji ke Tanah Suci bukanlah untuk jalan-jalan, piknik, berwisata atau lainnya, melainkan berangkat dengan tujuan utama semata-mata untuk beribadah. Karena itu, jangan ada niat lain selain ibadah kepada Allah SWT.
2. Berangkat ke Tanah Suci hanya untuk beribadah menunaikan rukun Islam yang kelima
Pergi haji ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah haji merupakan rukun Islam kelima, yang mana hal itu wajib dilakukan oleh umat Islam yang mampu. Bila ia menghindar untuk melaksanakannya, padahal ia mampu, maka ia berdosa besar, kecuali jika terdapat alasan syar’i terkait uzurnya.
Berdasarkan riwayat hadis, orang tersebut bisa terkena ancaman dua pilihan, yakni “…maka silakan, dia mati sebagai Yahudi atau Nasrani.” (HR Baihaqi)
Dalam kitab Sunan at-Tirmidzi, terdapat hadis yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ مَلَكَ زَادًا وَرَاحِلَةً تُبَلِّغُهُ إِلَى بَيْتِ اللَّهِ وَلَمْ يَحُجَّ؛ فَلَا عَلَيْهِ أَنْ يَمُوتَ يَهُودِيًّا أَوْ نَصْرَانِيًّا
Artinya: “Barang siapa memiliki bekal dan kendaraan yang cukup untuk mengantarkannya ke Baitullah, namun ia tidak berhaji, maka tidak mengapa ia mati dalam keadaan Yahudi atau Nasrani".
Dalam riwayat lain, disebutkan dengan redaksi sebagai berikut:
مَنْ لَمْ تَحْبِسْهُ حَاجَةٌ ظَاهِرَةٌ أَوْمَرَضٌ حَابِسٌ أَوْسُلْطَانٌ جَائِرٌ وَلَمْ يَحُجَّ فَلْيَمُتْ اِنْ شَاءَ يَهُوْدِيًّا وَاِنْ شَاءَ نَصْرَانِيًّا
Artinya: “Barang siapa tidak ada hajat yang nyata menghalanginya, atau sakit yang mencegah, atau pemimpin yang zalim, lalu ia tidak berhaji, maka silakan ia mati dalam keadaan Yahudi atau jika Nasrani.” (HR Baihaqi)
Dalam Alquran, Allah SWT berfirman:
فِيْهِ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبْرٰهِيْمَ ەۚ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَانَ اٰمِنًا ۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا ۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ
Artinya: “Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barang siapa yang memasukinya (Baitullah), amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.” (QS. Ali Imran: 97)
Di sini ditegaskan, bahwa ibadah haji di Tanah Suci benar-benar diwajibkan bagi yang mampu. Dan jika hal itu diingkari, maka perbuatan yang demikian ini merupakan dosa besar, bahkan terancam keabsahan imannya.
Baca juga: Khutbah Jumat 15 Mei 2026: Waspada Terjangkit Virus Takabur
Para Hadirin Sidang Jumat yang Dirahmati Allah SWT,
3. Sucikanlah hati dan luruskan niat pergi haji ke Tanah Suci
Tanamkan niat suci dalam hati, menyerahkan diri kepada Yang Mahasuci, dengan bimbingan Kitab Suci Alquran Al-Karim, bahwa Islam sebagai agama fitrah yang memelihara kesucian.
Ketika kita lahir, kita dalam keadaan suci, kemudian kehidupan kita terpelihara kesuciannya dengan bimbingan Alquran sebagai “hudan linnaas”, petunjuk umat manusia.
Ketundukan kita beribadah juga hanya kepada Allah yang Mahasuci. Ketika kita mati pun, harus dalam keadaan suci. Karena itu, maka tidak ada lagi balasan lain bagi orang yang selalu memelihara kesuciannya kecuali surga sebagai ganjarannya.
4. Betapa merugi orang yang berangkat haji ke Tanah Suci dengan niat selain ibadah
Tanah Suci, Makkah dan Madinah adalah tempat yang paling dirindukan oleh setiap muslim. Keberangkatan haji atau umroh merupakan undangan khusus dari Allah SWT. Namun, di balik kemuliaan tempat tersebut, ada ujian terbesar bagi para tamu Allah, yaitu ujian niat.
Sesungguhnya, alangkah ruginya orang yang berangkat ke Tanah Suci, menghabiskan biaya besar, tenaga fisik yang ekstra, dan meninggalkan keluarga, namun niatnya bukan untuk ibadah. Padahal niat yang lurus karena Allah adalah fondasi. Jika fondasi ini rusak, maka bangunan ibadah itu akan runtuh.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatnya.” (HR Bukhari)
Oleh karena itu, niat pergi ke Tanah Suci harus benar-benar dijaga untuk beribadah kepada Allah SWT semata. Tidak ada niat lainnya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Lantas apa saja kerugian orang yang pergi ke Tanah Suci bukan karena ibadah? Setidaknya ada tiga hal yang dapat direnungkan.
1. Kehilangan nilai ibadah (sia-sia)
Ketahuilah, pada dasarnya Allah tidak menerima ibadah yang dicampuri dengan riya’ (ingin dipuji) atau sum’ah (ingin didengar/populer). Jika hal itu tak mampu dicegah, maka perjalanan ke Tanah Suci menjadi sekadar jalan-jalan atau wisata, tanpa membawa pulang pahala haji mabrur, yang mana balasannya adalah surga.
2. Pengorbanan materi yang mubazir
Sebagaimana kita ketahui, bahwa haji dan umroh adalah ibadah yang menggabungkan fisik dan harta. Mengeluarkan biaya besar, menguras tabungan, bahkan berutang, tetapi hanya untuk mendapatkan gelar haji atau bisa foto di depan Ka’bah, adalah kerugian harta yang nyata. Karena semua itu tidak bernilai di sisi Allah. Maka, berhati-hatilah menjaga niat yang benar, yaitu semata beribadah kepada Allah, memenuhi panggilan-Nya.
3. Tidak mendapatkan ampunan
Tujuan utama ke Tanah Suci adalah bertaubat dan membersihkan diri. Jika niatnya salah, jangankan diampuni dosanya, justru bisa jadi malah menambah dosa karena kesombongan atau pamer ibadah haji belaka. Na’udzubillah min dzalik.
Jamaah yang Dimuliakan Allah,
Mari kita luruskan niat, “Lillahi Ta’ala”, semata-mata karena Allah SWT. Jangan biarkan perjalanan suci ternodai oleh tujuan duniawi.
Mari kita berdoa agar Allah menjaga hati kita dan menerima ibadah kita. Dan demi kebahagiaan, keselamatan dunia dan akhirat yang hakiki, kekal nan abadi, maka bertakwalah kita kepada Allah SWT.
Allah berfirman dalam Alquran, tepatnya dalam surat An-Nahl ayat 128:
إِنَّ اللّٰهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَواْ وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ
Artinya: “Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Demikianlah khutbah Jumat yang dapat khatib sampaikan dalam kesempatan yang singkat ini. Semoga khutbah perihal ketakwaan dan niat yang suci dalam ibadah di Tanah Suci membawa manfaat dan memberi keberkahan bagi kita semua.
Dan semoga kita digolongkan sebagai hamba-hamba Allah yang istiqamah dalam menjalankan semua perintah dan menjauhi larangan-Nya. Amin ya Rabbal ‘Alamin.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَآئِرِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Tags: rukun Islam,haji,takwa,niat,ibadah
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang