Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

3 Tokoh Muda NU Kumpul di Cirebon, Sinyal Regenerasi Kepemimpinan PBNU Menguat

Kompas.com, 15 Mei 2026, 08:47 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Pertemuan tiga tokoh muda Nahdlatul Ulama dalam satu forum kaderisasi di Cirebon mendadak menjadi perhatian warga Nahdliyin. Kehadiran mereka dinilai mengirimkan sinyal kuat tentang semakin menguatnya regenerasi kepemimpinan di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Tiga figur yang hadir tersebut adalah Gus Yusuf Chudlori, KH Imam Jazuli, dan Gus Miftah Maulana Habiburrahman. Ketiganya mengikuti Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU) di Cirebon pada 13 hingga 17 Mei 2026.

Forum kaderisasi strategis itu digelar di Ballroom Hotel Aston Cirebon dan diikuti berbagai kader NU dari sejumlah daerah. Ketiga tokoh tampak aktif mengikuti seluruh rangkaian kegiatan pengaderan yang menjadi salah satu jenjang penting dalam pembentukan kader strategis NU.

Baca juga: PBNU Gelar Pleno 21 Mei, Bahas Lokasi Munas-Konbes dan Muktamar NU

Suasana kebersamaan terlihat jelas sepanjang kegiatan. Gus Yusuf Chudlori, KH Imam Jazuli, dan Gus Miftah tampil serasi mengenakan kemeja putih dan peci hitam khas santri, menghadirkan simbol kesederhanaan sekaligus kesatupaduan di tengah dinamika internal organisasi.

Tidak terlihat sekat maupun rivalitas di antara mereka. Sebaliknya, forum tersebut justru memperlihatkan keakraban dan komunikasi cair antartokoh yang selama ini dikenal memiliki basis pengaruh berbeda di kalangan Nahdliyin.

Kegiatan PMKNU dipandu langsung oleh instruktur senior NU, Masyhuri Malik. Kehadiran para tokoh besar dalam forum kaderisasi itu dinilai sebagai bentuk ketundukan terhadap mekanisme organisasi dan pentingnya tradisi pengaderan di tubuh NU.

“PMKNU bukan sekadar kegiatan administratif, tetapi ruang penyamaan visi, penguatan ideologi organisasi, dan ikhtiar menjaga kesinambungan kepemimpinan NU,” ujar KH Masyhuri Malik dalam sesi pembukaan kegiatan dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (15/5/2026).

Menurut sejumlah peserta, momen berkumpulnya tiga tokoh tersebut memiliki makna simbolik yang kuat bagi masa depan organisasi.

“Ini bukan sekadar formalitas pengaderan. Kehadiran beliau-beliau adalah pesan kuat bahwa masa depan NU berada di tangan pemimpin yang tidak hanya populer, tetapi juga terdidik secara organisatoris,” ujar salah satu peserta PMKNU di lokasi kegiatan.

Kehadiran ketiga figur tersebut juga dinilai mencerminkan soliditas lintas spektrum di lingkungan Nahdlatul Ulama. Gus Yusuf dikenal sebagai tokoh pesantren dan budayawan dengan jejaring politik yang luas. KH Imam Jazuli dikenal sebagai konseptor pendidikan dan pengasuh pesantren modern di Cirebon. Sementara Gus Miftah selama ini identik dengan dakwah milenial yang menjangkau berbagai kalangan masyarakat.

Meski memiliki latar dan karakter dakwah berbeda, ketiganya tampak menyatu dalam semangat kaderisasi dan penguatan jam’iyyah.

“NU dibangun melalui tradisi ilmu, adab, dan kaderisasi. Karena itu siapa pun tokohnya harus tetap tunduk pada mekanisme organisasi,” ujar salah satu panitia kegiatan.

PMKNU sendiri merupakan salah satu jenjang kaderisasi formal Nahdlatul Ulama yang dipersiapkan untuk melahirkan kader-kader pemimpin di level strategis organisasi. Forum ini menekankan penguatan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, manajemen organisasi, kepemimpinan, hingga strategi kebangsaan.

Baca juga: PBNU Sahkan Panitia Muktamar ke-35 NU, Gus Ipul Ditunjuk Jadi Ketuanya

Momen kebersamaan di Cirebon tersebut menjadi pemandangan sejuk bagi warga Nahdliyin. Di tengah dinamika menjelang agenda-agenda besar organisasi, para tokoh NU justru menunjukkan teladan tentang kompetisi sehat yang dibalut semangat ukhuwah Nahdliyyah.

Pertemuan itu sekaligus mengirimkan pesan penting bahwa regenerasi kepemimpinan NU harus dibangun di atas fondasi kaderisasi, loyalitas organisasi, dan komitmen menjaga persatuan jam’iyyah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Kemenag Gelar Festival Literasi Islam, Ada Pameran Percetakan Al-Qur'an
Kemenag Gelar Festival Literasi Islam, Ada Pameran Percetakan Al-Qur'an
Aktual
Wasekjen PBNU Soroti Arogansi Hotman Paris, Tak Layak Jadi Teladan Generasi Muda
Wasekjen PBNU Soroti Arogansi Hotman Paris, Tak Layak Jadi Teladan Generasi Muda
Aktual
Kemenag: Tunjangan Guru dan Dosen Cair Minggu Depan
Kemenag: Tunjangan Guru dan Dosen Cair Minggu Depan
Aktual
Berapa Jumlah Rakaat Shalat Taubat? Ini Penjelasan dan Dalilnya
Berapa Jumlah Rakaat Shalat Taubat? Ini Penjelasan dan Dalilnya
Aktual
Bolehkah Mengulang Shalat Taubat dalam Sehari? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Bolehkah Mengulang Shalat Taubat dalam Sehari? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Aktual
Kemenag Siapkan Materi Pencegahan LGBTQ dalam Kurikulum, Tindak Lanjuti Perpres Nomor 111 Tahun 2025
Kemenag Siapkan Materi Pencegahan LGBTQ dalam Kurikulum, Tindak Lanjuti Perpres Nomor 111 Tahun 2025
Aktual
Anggaran Tambahan Sudah Masuk, Kemenag Cairkan Tunjangan Profesi Guru-Dosen Minggu Depan
Anggaran Tambahan Sudah Masuk, Kemenag Cairkan Tunjangan Profesi Guru-Dosen Minggu Depan
Aktual
7 Adab Imam Shalat Berjamaah Menurut Imam Al-Ghazali Agar Ibadah Lebih Sempurna
7 Adab Imam Shalat Berjamaah Menurut Imam Al-Ghazali Agar Ibadah Lebih Sempurna
Aktual
Tokoh NU Banten Dorong PBNU Kembali ke Khittah, Sebut Pengurus Harus Jadi 'Pelayan Ulama'
Tokoh NU Banten Dorong PBNU Kembali ke Khittah, Sebut Pengurus Harus Jadi "Pelayan Ulama"
Aktual
Kapan Shalat Taubat Dilakukan? Simak Penjelasan Waktu Terbaik dan Harus Dihindari
Kapan Shalat Taubat Dilakukan? Simak Penjelasan Waktu Terbaik dan Harus Dihindari
Aktual
Tunjangan Profesi Guru dan Dosen Kemenag 2025 Cair Minggu Depan
Tunjangan Profesi Guru dan Dosen Kemenag 2025 Cair Minggu Depan
Aktual
Ponpes Bahrul Ulum Tegaskan Netral Jelang Muktamar NU 2026, Fokus Layani Muktamirin
Ponpes Bahrul Ulum Tegaskan Netral Jelang Muktamar NU 2026, Fokus Layani Muktamirin
Aktual
3 Syarat Agar Taubat Diterima Allah Menurut Penjelasan Ulama
3 Syarat Agar Taubat Diterima Allah Menurut Penjelasan Ulama
Aktual
Tata Cara Shalat Taubat Lengkap dengan Niat dan Doa
Tata Cara Shalat Taubat Lengkap dengan Niat dan Doa
Doa dan Niat
Kemenhaj Umumkan Daftar Jemaah Haji 2027, ASN Diminta Segera Bangun Komunikasi
Kemenhaj Umumkan Daftar Jemaah Haji 2027, ASN Diminta Segera Bangun Komunikasi
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar