KOMPAS.com – Transformasi digital dalam penyelenggaraan ibadah haji terus dilakukan Arab Saudi menjelang musim haji 1447 Hijriah atau Haji 2026.
Tidak hanya memperkuat layanan transportasi, keamanan, dan kesehatan, pemerintah Saudi kini juga memperluas akses layanan digital bagi jutaan jemaah dari berbagai negara melalui aplikasi nasional Tawakkalna.
Dilansir dari Saudi Press Agency (SPA), aplikasi serba guna Tawakkalna kini menyediakan layanan dalam 19 bahasa internasional untuk memudahkan jemaah haji dan petugas selama berada di Tanah Suci.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar Otoritas Data dan Kecerdasan Buatan Arab Saudi atau Saudi Data and AI Authority (SDAIA) dalam meningkatkan integrasi layanan haji berbasis teknologi digital.
Kehadiran fitur multibahasa tersebut dinilai penting karena musim haji mempertemukan jutaan Muslim dari berbagai latar belakang bahasa, budaya, dan negara.
Dengan dukungan layanan digital yang lebih mudah dipahami, pemerintah Saudi berharap pengalaman ibadah jemaah menjadi lebih nyaman, aman, dan efisien.
Baca juga: Via Aplikasi Tawakkalna Izin Haji Kini Bisa Diakses Sebelum Berangkat
Aplikasi Tawakkalna sebelumnya dikenal luas sebagai platform layanan digital nasional Saudi yang digunakan selama masa pandemi Covid-19.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, fungsinya berkembang menjadi pusat layanan publik terintegrasi, termasuk untuk kebutuhan ibadah haji dan umrah.
Pada musim haji 2026, Tawakkalna dirancang untuk mendampingi perjalanan jemaah sejak tiba di Arab Saudi hingga kembali ke negara asal.
Seluruh proses layanan dibuat lebih sederhana agar jemaah dapat mengakses berbagai kebutuhan administratif maupun informasi penting langsung melalui ponsel.
Bahasa yang tersedia mencakup Arab, Inggris, Indonesia, Hindi, Urdu, Turki, Prancis, Bengali, Persia, Melayu, Rusia, Mandarin, Filipina, Jerman, Belanda, Jepang, Italia, Spanyol, hingga Portugis.
Ketersediaan bahasa Indonesia menjadi salah satu fitur penting mengingat Indonesia merupakan negara dengan jumlah jemaah haji terbesar di dunia.
Dalam buku Digital Religion: Understanding Religious Practice in New Media Worlds karya Heidi Campbell dijelaskan bahwa transformasi digital kini menjadi bagian penting dalam praktik keagamaan modern, termasuk dalam pengelolaan ibadah berskala global seperti haji.
Teknologi, menurut Campbell, tidak lagi sekadar alat komunikasi, tetapi telah menjadi sarana pelayanan spiritual dan pengelolaan pengalaman keagamaan masyarakat modern.
Salah satu fitur utama Tawakkalna pada musim haji tahun ini adalah integrasi dengan platform izin haji digital “Tasreeh”.
Melalui sistem tersebut, jemaah dapat melihat dan mengakses berbagai dokumen penting secara digital tanpa harus membawa banyak dokumen fisik selama perjalanan ibadah.
Aplikasi ini memungkinkan pengguna memeriksa izin haji resmi, kartu identitas jemaah, izin masuk Makkah, hingga dokumen terkait pekerjaan, sukarelawan, dan kendaraan operasional haji.
Integrasi digital tersebut menjadi bagian dari upaya Saudi memperketat pengawasan haji ilegal sekaligus mempercepat layanan administrasi bagi jutaan jemaah internasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, Arab Saudi memang terus memperluas digitalisasi layanan publik di sektor haji sebagai bagian dari program Visi Saudi 2030.
Pemerintah Saudi menilai penggunaan teknologi menjadi solusi penting untuk mengelola mobilitas jutaan orang dalam waktu yang sangat singkat.
Baca juga: Arab Saudi Rilis Panduan Kesehatan Haji dalam 8 Bahasa, Salah Satunya Indonesia
Fitur menarik lain dalam aplikasi Tawakkalna ialah layanan mendengarkan khutbah Arafah dalam berbagai bahasa internasional.
Khutbah Arafah merupakan salah satu momen paling penting dalam musim haji karena disampaikan saat puncak wukuf di Padang Arafah pada 9 Dzulhijjah.
Melalui fitur tersebut, jemaah dari berbagai negara dapat memahami isi khutbah secara lebih mudah tanpa terkendala bahasa.
Selain itu, Tawakkalna juga menyediakan layanan permintaan ambulans darurat, informasi cuaca real-time di kawasan tempat suci, arah kiblat, waktu salat, hingga akses membaca Al Quran digital.
Layanan ini dirancang untuk membantu jemaah menjalankan ibadah dengan lebih tenang dan praktis di tengah padatnya aktivitas selama musim haji.
Dalam buku Managing the Hajj karya Dr. Muhammad Ilyas dijelaskan bahwa pengelolaan haji modern membutuhkan kombinasi antara pelayanan spiritual dan teknologi informasi agar mobilitas serta keselamatan jemaah dapat terjaga secara optimal.
Arab Saudi saat ini memang sedang melakukan transformasi besar-besaran dalam sistem penyelenggaraan haji.
Digitalisasi menjadi salah satu fokus utama pemerintah untuk meningkatkan kualitas layanan sekaligus mengurangi antrean dan kepadatan administrasi di lapangan.
Selain Tawakkalna, Saudi juga mengembangkan platform Nusuk yang kini menjadi pusat layanan haji dan umrah digital bagi jutaan pengguna global.
Melalui Nusuk, jemaah dapat melakukan pemesanan paket ibadah, izin masuk tempat suci, layanan transportasi, hingga pemantauan jadwal perjalanan.
SDAIA sebagai lembaga yang mengelola pengembangan data dan kecerdasan buatan di Arab Saudi juga terus memperluas pemanfaatan teknologi AI dalam pengelolaan musim haji.
Teknologi tersebut digunakan untuk analisis kepadatan jemaah, pemantauan mobilitas, sistem keamanan, hingga pengaturan lalu lintas di kawasan Makkah, Mina, dan Arafah.
Dalam buku Artificial Intelligence and Digital Transformation in the Middle East karya Mohamed Zaki disebutkan bahwa Arab Saudi menjadi salah satu negara Timur Tengah yang paling agresif mengembangkan layanan publik berbasis AI dan digitalisasi pemerintahan.
Baca juga: Jelang Haji 2026, Saudi Siapkan Call Center 24 Jam dalam 11 Bahasa
Penyelenggaraan ibadah haji saat ini bukan hanya persoalan ritual keagamaan, tetapi juga tantangan manajemen manusia terbesar di dunia.
Setiap tahun, jutaan Muslim bergerak hampir bersamaan menuju titik-titik utama seperti Masjidil Haram, Mina, Muzdalifah, dan Arafah.
Kondisi tersebut membuat penggunaan teknologi menjadi sangat penting untuk membantu pengaturan mobilitas, keamanan, komunikasi, hingga layanan kesehatan.
Dalam buku The Hajj: Pilgrimage in Islam karya Eric Tagliacozzo dan Shawkat Toorawa dijelaskan bahwa modernisasi haji telah mengubah wajah penyelenggaraan ibadah dari sistem tradisional menjadi operasi global yang melibatkan teknologi tinggi dan koordinasi lintas sektor.
Meski demikian, esensi spiritual haji tetap menjadi pusat utama perjalanan umat Islam ke Tanah Suci.
Bagi jutaan jemaah internasional, keberadaan layanan digital multibahasa seperti Tawakkalna dinilai sangat membantu, terutama bagi mereka yang baru pertama kali datang ke Arab Saudi.
Akses informasi yang mudah dipahami dapat mengurangi kebingungan, mempercepat layanan, sekaligus meningkatkan rasa aman selama menjalankan ibadah.
Pemerintah Saudi berharap pengembangan aplikasi digital tidak hanya mempercepat layanan administratif, tetapi juga membantu jemaah lebih fokus menjalankan ibadah dengan nyaman dan khusyuk.
Di tengah terus meningkatnya jumlah jemaah dari seluruh dunia, transformasi digital seperti yang dilakukan melalui Tawakkalna diperkirakan akan menjadi bagian penting masa depan penyelenggaraan ibadah haji global.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang