Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Apa Itu Sedekah Barcode? Solusi Jemaah Haji Bisa Masuk Raudhah

Kompas.com, 15 Mei 2026, 13:00 WIB
Pythag Kurniati,
Khairina

Tim Redaksi

MADINAH, KOMPAS.com- Istilah sedekah biasanya identik dengan berbagi harta atau makanan.

Namun di Tanah Suci Madinah, muncul sebuah fenomena yang dikenal dengan sebutan “sedekah barcode”. Apa itu?

Aksi berbagi ini menjadi jembatan kebaikan bagi sesama jemaah haji agar bisa merasakan nikmatnya beribadah di Raudhah.

Sebab untuk bisa masuk ke Raudhah, jemaah harus memiliki barcode dari aplikasi Nusuk sebagai akses masuk.

Baca juga: Masuk Raudhah Kini Wajib Nusuk, Ini Cara Daftar dan Reservasinya

Jemaah yang sudah berhasil mendapatkan barcode akses masuk ke Raudhah melalui aplikasi Nusuk, bisa memberikannya secara sukarela kepada jemaah lain yang belum pernah berkunjung atau kesulitan menggunakan smartphone.

Untuk diketahui, Raudhah yang dikenal sebagai taman surga, merupakan area di antara rumah dan mimbar Rasulullah SAW yang selalu menjadi titik ziarah utama dan tempat mustajab untuk berdoa. Agar bisa masuk, jemaah harus mendaftar via aplikasi Nusuk atau skema tasreh dari pemerintah Arab Saudi.

Sayangnya, transisi ke sistem digital ini membawa tantangan tersendiri. Keterbatasan kemampuan dalam mengoperasikan ponsel pintar menjadi kendala nyata di lapangan, terutama bagi para lansia.

“Jamaah kita ada yang memiliki telepon genggam, tetapi tidak bisa mendaftar karena gaptek. Ada pula yang tidak membawa telepon seluler," ungkap Koordinator Bimbingan Ibadah Sektor 5 Daker Madinah, Miftahul Anwar.

Melihat kondisi tersebut, tim Pembimbing Ibadah (Bimbad) bergerak aktif melakukan sosialisasi setiap hari, mulai dari usai waktu Ashar hingga menjelang tengah malam.

Fokus utamanya adalah memastikan keadilan akses bagi seluruh jemaah dalam satu rombongan, agar tidak ada yang merasa ditinggalkan karena masalah teknis.

“Kami tidak menginginkan dalam satu kamar misalnya, berisi empat orang, tiga orang bisa berkunjung tiga-empat kali, namun satu orang belum sekali pun," kata beliau.

Baca juga: Masuk Raudhah Gratis, PPIH Ungkap Modus Calo Patok Tarif Rp 5 Juta

Miftahul menjelaskan, tantangan ini semakin nyata mengingat sekitar 40 persen jemaah Indonesia adalah lansia yang kesulitan dengan sistem digital. "Karena itu, kami membantu mereka untuk bisa ke Raudhah. Bahkan kami menyosialisasikan adanya sedekah barcode," jelasnya.

Teknis sedekah barcode ini sangat praktis. Jemaah akan mendaftarkan jadwal kunjungan melalui akun Nusuk pribadinya. Setelah mendapatkan barcode yang sah, akses tersebut tidak dipakai sendiri, melainkan diberikan kepada jemaah lain yang belum pernah menginjakkan kaki di Raudhah.

“Jadi jamaah tersebut mendaftarkan dengan akun Nusuk, namun tidak dipakai untuk dirinya sendiri. Justru disedekahkan kepada jamaah lain karena dirinya sudah pernah ke Raudhah," tutur Miftahul.

Baca juga: Cara Resmi Masuk Raudhah di Masjid Nabawi, Jemaah Haji Wajib Tahu

Inisiatif ini pun menuai apresiasi. Muhammad Subhan, ketua regu dari kloter 39 Solo (SOC 39), mengakui besarnya manfaat sedekah barcode bagi anggota regunya yang memiliki keterbatasan.

Ia sangat bersyukur warganya akhirnya bisa beribadah di Raudhah. Subhan juga memuji dedikasi para petugas di lapangan.

“Petugas memberikan pelayanan baik, tidak hanya mengedukasi soal kartu Nusuk, bahkan mengantar kami para jamaah hingga ke pintu Raudhah," pungkas jemaah asal Jepara tersebut.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar