Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Marbot Masjid Asal Bulukumba Berangkat Haji dari Menabung Hasil Panen Sawah

Kompas.com, 19 Mei 2026, 19:54 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Seorang jamaah calon haji asal Bulukumba menjadi perhatian di Asrama Haji Sudiang Makassar menjelang keberangkatan ke Tanah Suci.

Sosok tersebut adalah Umar Abd Azis, jamaah Kloter 39 Embarkasi Makassar yang mengaku berangkat haji dari hasil kerja keras sebagai petani sawah dan marbot masjid.

Kisah perjuangannya menabung sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun menarik perhatian jamaah lain di Aula Arafah.

Baca juga: 15 Tahun Menabung dari Gaji Marbot, Hamdi Akhirnya Berhaji Bersama Istri

Setelah menunggu sejak 2011, Umar akhirnya bersiap berangkat ke Makkah bersama rombongan jamaah haji lainnya.

Umar Abd Azis terlihat mengenakan seragam haji lengkap dengan syal identitas tergantung di lehernya saat berada di Aula Arafah, Asrama Haji Sudiang Makassar, Senin (18/5/2026) malam.

Baca juga: Kisah Ummu Mahjan, Marbot Wanita di Masjid Nabawi yang Dimuliakan Rasulullah SAW

Meski tampil sederhana, Umar tampak penuh semangat menjelang keberangkatannya ke Tanah Suci.

Berangkat Haji dari Hasil Panen Sawah

Umar mengungkapkan biaya keberangkatan hajinya berasal dari hasil kerja keras selama bertahun-tahun sebagai petani sawah sekaligus marbot masjid di kampung halamannya.

“Perasaannya Alhamdulillah, syukur, kerja keringat saya, naik ke Tanah Suci hasil keringat,” katanya kepada Tribun Timur saat ditemui di Aula Arafah.

Ia mengaku mulai mendaftar haji sejak tahun 2011. Untuk memenuhi biaya perjalanan haji, Umar rutin menyisihkan sebagian hasil panennya sebagai tabungan.

“Mendaftar dari tahun 2011. Saya petani sawah dan marbot masjid,” ungkapnya.

Menurut Umar, setiap musim panen tiba dirinya selalu membagi hasil pendapatan untuk kebutuhan sehari-hari dan tabungan haji.

“Menabung kalau sudah panen, kalau 5 juta saya bagi dua itu. Karena kalau Rp10 juta, kan dua kali satu tahun. Jadi, kalau dapat 10 juta, dua kali panen, Rp5 juta,” ujarnya.

Sudah Tujuh Tahun Menjadi Marbot Masjid

Selain bekerja sebagai petani, Umar juga mengabdikan dirinya sebagai marbot masjid selama tujuh tahun terakhir.

Ia menceritakan awal mula menjadi marbot terjadi setelah marbot sebelumnya meninggal dunia dan dirinya diminta membantu mengurus masjid.

“Jadi marbot, dulu saya itu, karena dulu habis kecelakaan. Jadi, ada di itu, dulu marbotnya mati. Jadi, mati, saya dipanggil di situ sama panitia,” kata dia.

“Sudah 7 tahunan jadi marbot sampai sekarang,” tambahnya.

Bersiap Berangkat Bersama Kloter 39 Embarkasi Makassar

Kini, setelah menunggu selama belasan tahun, Umar bersiap berangkat ke Tanah Suci bersama jamaah lainnya dalam Kloter 39 Embarkasi Makassar.

Ia berharap dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji dalam kondisi sehat dan lancar.

“Saya berdoa, mudah-mudahan sehat dan bisa sukses,” jealsnya.

Kloter 39 Embarkasi Makassar dijadwalkan berangkat menuju Jeddah, Arab Saudi, pada Selasa (19/5/2026) sekitar pukul 18.45 WITA.

Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Kisah Marbot Masjid asal Bulukumba Berangkat Haji Setelah 15 Tahun, https://makassar.tribunnews.com/haji/1838404/kisah-marbot-masjid-asal-bulukumba-berangkat-haji-setelah-15-tahun

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
30 Ucapan Tahun Baru Islam 1448 H untuk Spanduk dan Baliho Penuh Makna
30 Ucapan Tahun Baru Islam 1448 H untuk Spanduk dan Baliho Penuh Makna
Aktual
Hukum Menyandang Gelar Haji dan Hajjah, Tradisi atau Ajaran Islam? Simak Penjelasannya
Hukum Menyandang Gelar Haji dan Hajjah, Tradisi atau Ajaran Islam? Simak Penjelasannya
Aktual
5 Tradisi Tahun Baru Islam di Indonesia yang Masih Lestari, dari Mabit hingga Tabuik
5 Tradisi Tahun Baru Islam di Indonesia yang Masih Lestari, dari Mabit hingga Tabuik
Aktual
10 Doa agar Terhindar dari Fitnah Akhir Zaman dan Dajjal
10 Doa agar Terhindar dari Fitnah Akhir Zaman dan Dajjal
Doa dan Niat
6 Tradisi Tahun Baru Islam di Berbagai Negara, dari Indonesia hingga Mesir
6 Tradisi Tahun Baru Islam di Berbagai Negara, dari Indonesia hingga Mesir
Aktual
Surah Al Mulk, Amalan Malam yang Disebut Menyelamatkan dari Azab Kubur
Surah Al Mulk, Amalan Malam yang Disebut Menyelamatkan dari Azab Kubur
Doa dan Niat
Hidup Sezaman Nabi Muhammad, Ratu Shima Viral hingga Jazirah Arab
Hidup Sezaman Nabi Muhammad, Ratu Shima Viral hingga Jazirah Arab
Aktual
Sejarah Kota Mekkah, Tempat Kelahiran Nabi Muhammad SAW dan Pusat Peradaban Islam
Sejarah Kota Mekkah, Tempat Kelahiran Nabi Muhammad SAW dan Pusat Peradaban Islam
Aktual
Surah Al Ikhlas Hanya 4 Ayat, Mengapa Setara Sepertiga Al-Qur'an?
Surah Al Ikhlas Hanya 4 Ayat, Mengapa Setara Sepertiga Al-Qur'an?
Doa dan Niat
7 Amalan Menyambut Tahun Baru Islam 1448 H, Dari Muhasabah hingga Puasa Muharram
7 Amalan Menyambut Tahun Baru Islam 1448 H, Dari Muhasabah hingga Puasa Muharram
Aktual
7 Tradisi Tahun Baru Islam di Indonesia, dari Pawai Obor hingga Tabuik
7 Tradisi Tahun Baru Islam di Indonesia, dari Pawai Obor hingga Tabuik
Aktual
Puasa Muharram 2026 Berapa Hari? Ini Jadwal Lengkap, Niat, dan Keutamaannya
Puasa Muharram 2026 Berapa Hari? Ini Jadwal Lengkap, Niat, dan Keutamaannya
Doa dan Niat
Khutbah Jumat 12 Juni 2026: Jadikan Muharram Momentum Hijrah Spiritual
Khutbah Jumat 12 Juni 2026: Jadikan Muharram Momentum Hijrah Spiritual
Aktual
Tahun Baru Islam 2026 Tanggal Berapa? Cek Tanggal dan Jadwal Liburnya
Tahun Baru Islam 2026 Tanggal Berapa? Cek Tanggal dan Jadwal Liburnya
Aktual
Kemenhaj Bagikan 4 Tips Terhindar dari Badal Haji Fiktif
Kemenhaj Bagikan 4 Tips Terhindar dari Badal Haji Fiktif
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com