KOMPAS.com - Di tengah lautan manusia yang memenuhi Padang Arafah pada tahun ke-10 Hijriah, Rasulullah SAW berdiri di atas untanya dan menyampaikan sebuah khutbah yang kemudian dikenang sebagai salah satu pesan paling bersejarah dalam Islam.
Khutbah itu bukan khutbah biasa. Para sahabat menyadari ada suasana haru yang berbeda ketika Nabi Muhammad SAW berbicara di hadapan puluhan ribu umat Islam yang datang menunaikan Haji Wada, haji pertama sekaligus terakhir beliau.
Di Padang Arafah itulah Rasulullah SAW menyampaikan pesan tentang persaudaraan, keadilan, hak perempuan, larangan riba, kesetaraan manusia, hingga pedoman hidup umat Islam sampai akhir zaman.
Banyak ulama menyebut khutbah tersebut sebagai rangkuman nilai-nilai utama ajaran Islam yang disampaikan langsung menjelang wafatnya Rasulullah SAW.
Hingga kini, isi khutbah wada masih sering dikutip dalam kajian Islam karena dinilai mengandung pesan kemanusiaan yang begitu kuat dan relevan sepanjang masa.
Lalu bagaimana suasana Haji Wada saat itu? Apa saja isi khutbah terakhir Rasulullah SAW di Hari Arafah? Berikut penjelasan lengkapnya.
Peristiwa khutbah terakhir Rasulullah SAW terjadi saat pelaksanaan Haji Wada pada 10 Hijriah.
Dikutip dari buku Teladan Indah Rasulullah dalam Ibadah karya Ahmad Rofi’ Usmani, Rasulullah SAW berangkat menunaikan haji bersama ribuan kaum Muslimin dari Madinah menuju Makkah.
Setelah tiba di Mina pada hari Tarwiyah, Nabi Muhammad SAW melaksanakan shalat Zuhur, Ashar, Magrib, Isya, dan Subuh di sana. Keesokan harinya, beliau bergerak menuju Padang Arafah.
Dalam buku Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam dijelaskan bahwa ribuan tenda telah berdiri di Arafah untuk menyambut kedatangan kaum Muslimin.
Jumlah umat Islam yang hadir ketika itu diperkirakan mencapai lebih dari 100.000 orang. Situasi tersebut menjadi salah satu pertemuan terbesar umat Islam pada masa Rasulullah SAW.
Baca juga: Wukuf Arafah: Doa Jemaah Haji Indonesia dan Harapan Terkabul
Saat matahari tergelincir pada 9 Dzulhijjah, Rasulullah SAW menaiki untanya dan mulai menyampaikan khutbah di hadapan umat Islam.
Dalam buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad karya KH Moenawar Chalil dijelaskan bahwa Rasulullah SAW meminta Rabi’ah bin Umayyah menyampaikan ulang khutbah beliau dengan suara lantang agar dapat didengar seluruh jamaah.
Khutbah tersebut kemudian dikenal sebagai Khutbah Wada atau khutbah perpisahan. Banyak sahabat merasa bahwa Rasulullah SAW sedang menyampaikan pesan terakhir kepada umatnya.
Hal itu tampak ketika beliau berkata:
“Barangkali aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian setelah tahun ini.”
Ucapan tersebut membuat suasana Padang Arafah dipenuhi rasa haru.
Salah satu pesan utama dalam khutbah terakhir Rasulullah SAW adalah larangan menzalimi sesama manusia.
Beliau menegaskan bahwa darah, harta, dan kehormatan seorang Muslim adalah sesuatu yang suci.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya darahmu dan hartamu haram atas kalian sebagaimana sucinya hari ini, bulan ini, dan negeri ini.”
Dalam buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa khutbah tersebut menjadi dasar penting dalam ajaran Islam tentang perlindungan hak hidup dan hak kepemilikan manusia.
Islam melarang segala bentuk perampasan, kekerasan, dan penindasan terhadap sesama.
Baca juga: Ini Isi Khutbah Wukuf di Arafah Hari Ini
Khutbah wada juga memuat penegasan keras tentang penghapusan praktik riba yang saat itu masih lazim terjadi di masyarakat Arab.
Rasulullah SAW menyatakan seluruh praktik riba pada masa jahiliah dihapuskan. Beliau bahkan memulai dari keluarganya sendiri dengan menghapus riba milik Abbas bin Abdul Muthalib.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa Islam menekankan keadilan ekonomi dan melarang pengambilan keuntungan yang merugikan orang lain.
Dikutip dari buku Harta Haram Muamalat Kontemporer karya Dr Yusuf Al-Qaradawi, larangan riba menjadi salah satu fondasi utama sistem ekonomi Islam karena dapat menimbulkan ketimpangan sosial dan penindasan ekonomi.
Bagian paling terkenal dari khutbah terakhir Rasulullah SAW adalah pesan tentang persaudaraan dan kesetaraan seluruh umat manusia.
Rasulullah SAW bersabda:
“Wahai manusia, Tuhan kalian satu dan ayah kalian satu. Kalian semua berasal dari Adam dan Adam berasal dari tanah.”
Beliau juga menegaskan:
“Tidak ada kelebihan orang Arab atas non-Arab kecuali karena ketakwaannya.”
Pesan tersebut dianggap sangat revolusioner pada zamannya karena masyarakat Arab ketika itu masih dipenuhi fanatisme suku dan status sosial.
Dalam buku Ar-Rahiq Al-Makhtum karya Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dijelaskan bahwa Islam datang menghapus diskriminasi ras, warna kulit, dan keturunan.
Ukuran kemuliaan manusia di sisi Allah SWT hanyalah ketakwaannya.
Baca juga: Matahari Tepat di Atas Kabah pada Hari Arafah 2026, Fenomena Langka 33 Tahunan
Dalam khutbahnya, Rasulullah SAW juga berpesan agar umat Islam memperlakukan perempuan dengan baik.
Beliau mengingatkan bahwa perempuan adalah amanah dari Allah SWT.
Pesan tersebut menjadi salah satu bukti perhatian Islam terhadap hak-hak perempuan pada masa ketika kaum perempuan sering diperlakukan tidak adil.
Dikutip dari buku Ensiklopedi Wanita Muslimah karya Syaikh Ahmad Jad, khutbah wada menunjukkan bahwa Islam mengangkat martabat perempuan serta menempatkan hubungan suami istri dalam prinsip kasih sayang dan tanggung jawab.
Menjelang akhir khutbahnya, Rasulullah SAW menyampaikan pesan yang hingga kini menjadi pegangan utama umat Islam.
Beliau bersabda:
“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara. Jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian tidak akan sesat selamanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.”
Pesan tersebut menegaskan pentingnya Al-Qur’an dan sunnah sebagai pedoman hidup umat Islam.
Dalam buku Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi dijelaskan bahwa sunnah Rasulullah SAW menjadi penjelas ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Khutbah terakhir Rasulullah SAW membuat banyak sahabat menangis. Mereka merasa Nabi Muhammad SAW sedang memberikan pesan perpisahan.
Beberapa bulan setelah Haji Wada, Rasulullah SAW wafat di Madinah. Oleh karena itu, khutbah di Padang Arafah menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam perjalanan Islam.
Pesan-pesan yang disampaikan Rasulullah SAW saat itu tetap relevan hingga sekarang, terutama tentang keadilan, persaudaraan, penghormatan terhadap hak manusia, dan pentingnya menjaga ketakwaan.
Khutbah wada bukan hanya catatan sejarah, tetapi juga pelajaran besar bagi kehidupan modern.
Di tengah dunia yang masih dipenuhi konflik, diskriminasi, dan ketimpangan sosial, pesan Rasulullah SAW tentang persaudaraan dan kesetaraan manusia menjadi pengingat penting bagi seluruh umat.
Selain itu, khutbah tersebut juga mengajarkan pentingnya menjaga amanah, menghormati hak orang lain, menjauhi riba, serta menjadikan Al-Qur’an dan sunnah sebagai pedoman hidup.
Oleh karena itu, banyak ulama menilai khutbah terakhir Rasulullah SAW di Hari Arafah sebagai salah satu warisan spiritual terbesar dalam sejarah Islam.
Hingga lebih dari 14 abad berlalu, isi khutbah tersebut tetap mampu menggetarkan hati umat Islam di berbagai penjuru dunia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang