KOMPAS.com - Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Rahmat Hidayat Pulungan menilai almarhum Presiden keempat RI sekaligus tokoh besar Nahdlatul Ulama (NU), Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, kemungkinan besar akan melontarkan kritik terhadap kondisi NU saat ini yang dinilai semakin berjarak dari persoalan umat.
Pernyataan tersebut disampaikan Rahmat saat berbicara mengenai tantangan organisasi di tengah perubahan sosial masyarakat Indonesia dan menjelang Muktamar NU yang akan datang.
Menurut Rahmat, salah satu kekuatan utama Gus Dur selama memimpin dan menjadi tokoh NU adalah kedekatannya dengan warga serta kemampuannya menjaga konsolidasi di tingkat akar rumput. Hal itu dinilai berbeda dengan kondisi yang terjadi saat ini.
“Kalau beliau masih hidup, pasti beliau akan bilang kalian ini semakin berjarak dengan masalah, semakin berjarak dengan umat atau dengan jamaah,” kata Rahmat di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Baca juga: Soal Konsesi Tambang, Gus Yahya Tegaskan PBNU Tak Mau Jadi Naga ke-10
Ia menilai Gus Dur merupakan figur yang tidak hanya memiliki ketokohan besar di tingkat nasional dan internasional, tetapi juga tetap menjaga hubungan dengan basis-basis NU di berbagai daerah.
“Gus Dur itu menurut saya luar biasa. Dengan ketokohannya yang luar biasa, dengan kekuatan pribadinya yang luar biasa, beliau masih punya waktu untuk terus melakukan konsolidasi di kantong-kantong atau di basis NU,” ujarnya.
Rahmat kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan situasi yang menurutnya terjadi saat ini.
Ia menilai konsolidasi di kalangan elite organisasi lebih sering dilakukan menjelang agenda politik internal seperti Muktamar, sementara setelah agenda tersebut selesai aktivitas konsolidasi dengan warga menjadi berkurang.
“Kalau yang sekarang kan kalau kita lihat tokoh-tokoh NU ini melakukan konsolidasi karena mau muktamar. Setelah muktamar, tidak ada yang konsolidasi lagi, tidak ada yang mengurus lagi,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, Rahmat juga menyoroti perubahan karakter masyarakat Indonesia yang menurutnya perlu dibaca secara serius oleh organisasi keagamaan, termasuk NU.
Ia menjelaskan bahwa komposisi masyarakat saat ini tidak lagi didominasi oleh masyarakat pedesaan seperti beberapa dekade lalu.
Baca juga: PBNU: Idul Adha Jadi Momentum Memperkuat Ketaatan dan Semangat Pengorbanan
Menurut dia, masyarakat Indonesia kini terdiri dari sekitar 20 persen masyarakat perkotaan, 40 persen masyarakat urban, dan 40 persen masyarakat desa.
Perubahan tersebut membawa konsekuensi terhadap cara organisasi membangun komunikasi dan pengaruh di tengah masyarakat.
Rahmat menilai NU belum memiliki langkah yang cukup sistematis untuk menjawab kebutuhan kelompok masyarakat urban yang jumlahnya terus meningkat.
Padahal kelompok tersebut memiliki karakter yang lebih kritis, lebih terbuka terhadap informasi, dan cenderung menilai organisasi berdasarkan kontribusi nyata yang diberikan.
Ia mengingatkan bahwa kondisi tersebut membuat NU tidak bisa lagi mengandalkan pola-pola lama dalam membangun kedekatan dengan masyarakat.
“PBNU atau NU secara umum tidak punya langkah-langkah strategis yang sistemik bagaimana eksis di masyarakat urban ini,” ucapnya.
Selain itu, Rahmat juga menyinggung dampak konflik internal yang kerap muncul ke ruang publik.
Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap organisasi.
Ia menilai anak-anak muda saat ini membutuhkan figur, keteladanan, dan panduan yang jelas. Karena itu, ketika mereka melihat konflik yang terus terjadi di ruang publik, minat untuk mendekat kepada organisasi dapat berkurang.
“Ketika melihat yang punya terlalu sering ribut, terlalu sering konflik di ruang publik, mereka jadi malas,” kata Rahmat.
Baca juga: Gus Yahya: Pemimpin Baru NU Masa Depan Harus Paham Isu Global
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa NU saat ini telah berkembang menjadi entitas publik yang tidak lagi hanya dinilai berdasarkan sejarah dan jasa para pendirinya.
Menurutnya, masyarakat kini lebih menaruh perhatian pada kontribusi nyata yang dapat diberikan organisasi kepada publik.
“NU itu sekarang sudah menjadi entitas publik. Bukan lagi menjadi entitas yang privat. Publik itu melihat apa yang sudah dikontribusikan, apa yang sudah dikerjakan,” ujarnya.
Rahmat menilai perubahan cara pandang tersebut harus menjadi perhatian serius bagi para pemimpin NU ke depan.
Ia mengatakan organisasi perlu menghadirkan program-program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini, termasuk di bidang pendidikan dan pemberdayaan ekonomi.
Dalam pandangannya, salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah memperkuat akses pendidikan berkualitas bagi masyarakat urban melalui pendirian sekolah-sekolah unggulan yang dapat dijangkau kalangan menengah.
Selain itu, ia juga mendorong lahirnya transformasi organisasi yang lebih terbuka terhadap gagasan-gagasan baru serta memberi ruang lebih besar kepada generasi muda.
Rahmat menegaskan bahwa semangat yang diwariskan Gus Dur tidak hanya berkaitan dengan pluralisme dan demokrasi, tetapi juga tentang keberanian untuk terus hadir di tengah persoalan masyarakat.
Karena itu, menurutnya, pelajaran penting yang dapat diambil dari kepemimpinan Gus Dur adalah menjaga kedekatan dengan umat serta memastikan organisasi tetap relevan dengan perubahan zaman.
“Jangan sampai kita semakin jauh dari masalah umat dan jamaah. Itu yang menurut saya akan selalu diingatkan oleh Gus Dur,” pungkas Rahmat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang