Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Keluarga Dilarang Jemput Jemaah Haji 2026 di Bandara Soetta, Ini Alasannya

Kompas.com, 2 Juni 2026, 05:45 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Momen kepulangan jemaah haji selalu menjadi saat yang paling dinantikan keluarga.

Setelah menjalani perjalanan spiritual selama lebih dari satu bulan di Tanah Suci, ribuan jemaah Indonesia mulai kembali ke tanah air secara bertahap pada Juni 2026.

Namun, di tengah antusiasme menyambut kepulangan para tamu Allah tersebut, keluarga jemaah diminta untuk tidak melakukan penjemputan langsung di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.

Imbauan ini disampaikan pengelola bandara guna menjaga kelancaran proses kepulangan jemaah haji sekaligus menghindari kepadatan di area terminal kedatangan.

General Manager Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Heru Karyadi, meminta masyarakat agar menunggu jemaah di lokasi debarkasi atau asrama haji masing-masing daerah.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh proses kedatangan berjalan tertib, aman, dan nyaman bagi seluruh pihak yang terlibat.

Baca juga: Romo Syafi’i: Gagasan Prabowo Bentuk Kemenhaj Terbukti Bikin Layanan Haji 2026 Lebih Baik

Mengapa Keluarga Diminta Tidak Menjemput di Bandara?

Kepulangan jemaah haji berbeda dengan kedatangan penumpang reguler pada umumnya. Setelah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, jemaah tidak langsung pulang ke rumah atau bertemu keluarga.

Mereka terlebih dahulu menjalani proses kedatangan yang telah diatur oleh pemerintah dan panitia penyelenggara haji.

Mulai dari pemeriksaan dokumen, penanganan bagasi, layanan kesehatan, hingga pengaturan transportasi menuju debarkasi menjadi bagian dari prosedur yang harus dilalui.

Oleh karena itu, kehadiran ribuan anggota keluarga di area terminal berpotensi menyebabkan kepadatan yang dapat menghambat kelancaran operasional bandara.

"Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan penjemputan langsung di area terminal kedatangan bandara guna menghindari kepadatan dan memastikan kelancaran operasional," ujar Heru Karyadi, dilansir dari ANTARA, Senin (1/6/2026).

Menurutnya, jemaah yang tiba di Bandara Soekarno-Hatta akan langsung diberangkatkan menuju debarkasi masing-masing sebelum melanjutkan perjalanan ke daerah asal.

Dengan demikian, keluarga dapat menunggu di asrama haji atau lokasi debarkasi yang telah ditentukan.

Terminal 2F Jadi Pusat Kedatangan Jemaah Haji

Untuk mendukung kelancaran fase pemulangan, seluruh proses kedatangan jemaah haji tahun 2026 dipusatkan di Terminal 2F Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Terminal tersebut telah disiapkan secara khusus sebagai pusat layanan haji, lengkap dengan berbagai fasilitas pendukung.

Beberapa fasilitas yang disiagakan antara lain area kedatangan khusus jemaah, sistem penanganan bagasi, layanan kesehatan, ruang tunggu, serta pengaturan lalu lintas kendaraan dan bus pengangkut jemaah menuju debarkasi.

Persiapan ini menjadi bagian dari upaya memastikan jemaah dapat kembali ke Indonesia dengan aman dan nyaman setelah menjalani rangkaian ibadah di Makkah, Madinah, Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Baca juga: Usai Haji 2026, Arab Saudi Bongkar Tenda Mina dan Mulai Persiapan Besar untuk Musim Haji Berikutnya

Kepulangan Haji Bukan Sekadar Perjalanan Pulang

Dalam perspektif keagamaan, kepulangan jemaah haji memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar kembali ke rumah.

Dalam buku Rahasia Haji dan Umrah karya Imam Al-Ghazali dijelaskan bahwa ibadah haji merupakan perjalanan spiritual yang bertujuan membersihkan hati, memperkuat keimanan, dan membentuk karakter seorang Muslim menjadi lebih baik.

Karena itulah, kepulangan dari Tanah Suci sering dimaknai sebagai awal dari fase baru kehidupan seorang Muslim.

Banyak keluarga yang menunggu dengan penuh haru karena berharap orang yang mereka sambut pulang membawa semangat baru dalam beribadah serta akhlak yang semakin baik.

Tradisi penyambutan jemaah haji bahkan telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia selama bertahun-tahun.

Meski demikian, pemerintah mengingatkan bahwa penyambutan tetap perlu dilakukan secara tertib dan mengikuti aturan yang telah ditetapkan.

Puluhan Ribu Jemaah Akan Tiba Sepanjang Juni

Fase pemulangan haji melalui Bandara Soekarno-Hatta dimulai pada 1 Juni 2026. Kloter pertama yang tiba berasal dari Jeddah dengan jemaah dari Debarkasi Pondok Gede dan Debarkasi Bekasi.

Secara keseluruhan, Bandara Soekarno-Hatta dijadwalkan melayani kepulangan sekitar 34.853 jemaah haji hingga 30 Juni 2026.

Jumlah tersebut terdiri dari:

  • 8.701 jemaah Debarkasi Pondok Gede
  • 12.092 jemaah Debarkasi Bekasi
  • 9.096 jemaah Debarkasi Banten
  • 4.964 jemaah transit menuju Lampung

Ribuan jemaah tersebut akan tiba secara bertahap melalui 84 kelompok terbang (kloter) menggunakan layanan maskapai Garuda Indonesia dan Saudia Airlines.

Besarnya jumlah jemaah yang datang setiap hari menjadi salah satu alasan utama pentingnya pengaturan arus penumpang dan kendaraan di area bandara.

Baca juga: Kopernya Tidak Cukup, Jemaah Haji Ini Nekat Kalungkan Boneka Unta demi Cucu

Koordinasi Lintas Instansi Jadi Kunci

Keberhasilan pemulangan jemaah haji tidak hanya bergantung pada pengelola bandara. Proses ini melibatkan banyak pihak, mulai dari Kementerian Agama, Kementerian Haji dan Umrah, maskapai penerbangan, petugas kesehatan, imigrasi, bea cukai, hingga pemerintah daerah.

Dalam buku Manajemen Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah karya M. Ali Hasan dijelaskan bahwa fase pemulangan merupakan salah satu tahapan paling kompleks dalam penyelenggaraan haji karena melibatkan koordinasi lintas sektor dan lintas wilayah.

Oleh karena itu, sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi faktor utama agar seluruh jemaah dapat kembali ke rumah masing-masing dengan aman.

"Kolaborasi seluruh stakeholder menjadi kunci keberhasilan operasional haji," kata Heru.

Menyambut Jemaah dengan Cara yang Tepat

Bagi keluarga, menunggu kepulangan anggota keluarga yang baru selesai berhaji tentu menjadi momen penuh kebahagiaan.

Namun, penyambutan yang dilakukan sesuai prosedur justru akan membantu memperlancar perjalanan jemaah.

Dengan menunggu di asrama haji atau debarkasi, keluarga dapat menyambut jemaah dengan lebih nyaman tanpa harus menghadapi kepadatan di area bandara.

Selain itu, jemaah juga memiliki waktu untuk menyelesaikan seluruh proses administrasi dan distribusi bagasi sebelum kembali ke rumah.

Seiring dimulainya fase pemulangan haji 2026, pemerintah berharap seluruh proses dapat berjalan lancar hingga kloter terakhir tiba di Indonesia.

Sementara bagi para jemaah, kepulangan dari Tanah Suci menjadi penanda berakhirnya perjalanan ibadah yang panjang sekaligus awal untuk menjaga nilai-nilai haji dalam kehidupan sehari-hari.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Mengenal Perjanjian Aqabah, Titik Balik Dakwah Islam Saat Musim Haji
Mengenal Perjanjian Aqabah, Titik Balik Dakwah Islam Saat Musim Haji
Aktual
Pelepasan Perdana Jemaah Haji Indonesia, Menhaj Doakan Haji Mabrur
Pelepasan Perdana Jemaah Haji Indonesia, Menhaj Doakan Haji Mabrur
Aktual
Jemaah Haji Surabaya Tak Perlu Antre Imigrasi, Cukup Pindai Iris Mata
Jemaah Haji Surabaya Tak Perlu Antre Imigrasi, Cukup Pindai Iris Mata
Aktual
5 Ciri Haji Mabrur, Tanda Ibadah Haji Membawa Perubahan Hidup
5 Ciri Haji Mabrur, Tanda Ibadah Haji Membawa Perubahan Hidup
Aktual
Keluarga Dilarang Jemput Jemaah Haji 2026 di Bandara Soetta, Ini Alasannya
Keluarga Dilarang Jemput Jemaah Haji 2026 di Bandara Soetta, Ini Alasannya
Aktual
Jangan Salah Bawa, Ini Daftar Oleh-oleh Haji yang Aman di Bagasi Pesawat
Jangan Salah Bawa, Ini Daftar Oleh-oleh Haji yang Aman di Bagasi Pesawat
Aktual
Jumlah Bus Shalawat akan Dikurangi Bertahap Seiring Pulangnya Jemaah Haji ke Tanah Air
Jumlah Bus Shalawat akan Dikurangi Bertahap Seiring Pulangnya Jemaah Haji ke Tanah Air
Aktual
MUBES NU DIY Dorong Reformasidi Tubuh NU, Soroti Kepemimpinan hingga Kemandirian Organisasi
MUBES NU DIY Dorong Reformasidi Tubuh NU, Soroti Kepemimpinan hingga Kemandirian Organisasi
Aktual
12 Kloter Telah Diberangkatkan ke Tanah Air, Kemenhaj Tegaskan Larangan Bawa Zamzam di Koper
12 Kloter Telah Diberangkatkan ke Tanah Air, Kemenhaj Tegaskan Larangan Bawa Zamzam di Koper
Aktual
Kepulangan Jemaah Haji 2026, Keluarga Diminta Tidak Menjemput di Bandara Soekarno-Hatta
Kepulangan Jemaah Haji 2026, Keluarga Diminta Tidak Menjemput di Bandara Soekarno-Hatta
Aktual
Pemerintah Didorong Percepat Pelunasan Haji Khusus 2027, Ini Alasannya
Pemerintah Didorong Percepat Pelunasan Haji Khusus 2027, Ini Alasannya
Aktual
Kloter Pertama Mulai Dipulangkan, 445 Jemaah Embarkasi Batam Diberangkatkan ke Tanah Air
Kloter Pertama Mulai Dipulangkan, 445 Jemaah Embarkasi Batam Diberangkatkan ke Tanah Air
Aktual
Timwas Haji DPR Usulkan Lembaga Resmi Badal Haji untuk Cegah Praktik Ilegal
Timwas Haji DPR Usulkan Lembaga Resmi Badal Haji untuk Cegah Praktik Ilegal
Aktual
Jemaah Haji Aceh Wafat di Tanah Suci Bertambah Jadi Enam Orang
Jemaah Haji Aceh Wafat di Tanah Suci Bertambah Jadi Enam Orang
Aktual
 Seorang Jemaah Haji Asal Bengkulu Wafat, Jenazah akan Dimakamkan di Makkah
Seorang Jemaah Haji Asal Bengkulu Wafat, Jenazah akan Dimakamkan di Makkah
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com