KOMPAS.com – Menjelang kepulangan dari Tanah Suci, banyak jemaah haji mulai berburu oleh-oleh untuk dibawa pulang kepada keluarga, kerabat, maupun tetangga.
Tradisi membawa buah tangan dari Makkah dan Madinah sudah menjadi bagian yang melekat dalam perjalanan ibadah haji masyarakat Indonesia.
Mulai dari kurma, tasbih, sajadah, hingga berbagai produk khas Arab Saudi menjadi pilihan favorit jemaah. Namun, tidak semua barang bisa dimasukkan begitu saja ke dalam koper bagasi pesawat.
Baca juga: Jumlah Bus Shalawat akan Dikurangi Bertahap Seiring Pulangnya Jemaah Haji ke Tanah Air
Setiap musim haji, masih ditemukan koper jemaah yang harus dibongkar saat pemeriksaan karena berisi barang yang dilarang atau tidak sesuai aturan penerbangan.
Akibatnya, proses kepulangan menjadi lebih lama dan berpotensi menimbulkan kendala di bandara.
Lantas, oleh-oleh apa saja yang aman dan diperbolehkan masuk ke dalam koper bagasi? Berikut penjelasannya.
Aturan mengenai barang bawaan bukan sekadar formalitas. Ketentuan tersebut dibuat untuk menjaga keselamatan penerbangan, keamanan penumpang, serta mencegah kerusakan pada sistem pesawat.
Dalam buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah yang diterbitkan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi dijelaskan bahwa setiap penumpang wajib mematuhi regulasi terkait barang bawaan, baik yang dimasukkan ke bagasi maupun dibawa ke kabin.
Selain aturan maskapai, terdapat pula ketentuan keamanan internasional yang mengatur larangan membawa bahan berbahaya, benda tajam, bahan peledak, hingga cairan tertentu dalam jumlah besar.
Karena itulah, jemaah perlu memahami mana barang yang aman dibawa sebagai oleh-oleh dan mana yang berpotensi ditahan petugas.
Baca juga: Khatib Wukuf Arafah: Oleh-oleh Terbaik Haji adalah Takwa dan Perubahan Diri
Secara umum, sebagian besar oleh-oleh khas Tanah Suci dapat dimasukkan ke koper bagasi selama tidak termasuk barang berbahaya atau dilarang oleh aturan penerbangan.
Kurma menjadi oleh-oleh paling populer yang dibawa jemaah haji. Buah khas Timur Tengah ini relatif aman dimasukkan ke dalam koper bagasi.
Jenis kurma yang banyak diburu antara lain Ajwa, Sukari, Safawi, Amber, hingga Medjool. Agar tidak rusak selama perjalanan, kurma sebaiknya disimpan dalam kemasan yang rapat dan kuat.
Menurut buku Ensiklopedia Haji dan Umrah karya Ahmad Sarwat, kurma memiliki nilai historis dan spiritual yang tinggi bagi umat Islam karena merupakan salah satu makanan yang sering dikonsumsi Rasulullah SAW.
Berbagai jenis kacang Arab, pistachio, almond, hingga cokelat khas Timur Tengah umumnya diperbolehkan masuk bagasi.
Selain tahan lama, produk makanan kering seperti ini tidak menimbulkan risiko kebocoran sehingga aman dibawa dalam perjalanan jarak jauh.
Tasbih menjadi salah satu buah tangan yang paling sering dibeli jemaah. Benda ini tersedia dalam berbagai bahan, mulai dari kayu, batu alam, hingga mutiara sintetis.
Karena tidak termasuk barang berbahaya, tasbih dapat dimasukkan ke koper bagasi tanpa kendala.
Sajadah khas Makkah dan Madinah juga menjadi pilihan favorit oleh-oleh haji. Ukurannya yang fleksibel membuat sajadah mudah dilipat dan disimpan di dalam koper.
Banyak jemaah membeli sajadah dengan motif Masjidil Haram atau Masjid Nabawi sebagai kenang-kenangan dari Tanah Suci.
Mukena, sarung, peci, gamis, jilbab, serta perlengkapan ibadah lainnya termasuk kategori barang yang aman dibawa dalam bagasi.
Produk-produk ini juga menjadi oleh-oleh yang banyak diminati karena dianggap memiliki nilai religius sekaligus fungsi yang bermanfaat.
Parfum khas Arab merupakan salah satu produk favorit jemaah. Namun, jemaah perlu memperhatikan jenis dan kemasannya.
Parfum padat atau parfum yang dikemas sesuai aturan maskapai umumnya diperbolehkan. Sebaliknya, parfum cair dalam jumlah besar perlu mengikuti ketentuan penerbangan terkait barang cair.
Miniatur Ka'bah, gantungan kunci, magnet kulkas, kaligrafi, hingga berbagai kerajinan tangan khas Timur Tengah biasanya aman dimasukkan ke koper bagasi.
Namun, pastikan tidak terdapat bagian tajam atau material yang dilarang dalam penerbangan.
Selain barang yang dilarang secara resmi, ada pula sejumlah oleh-oleh yang sebaiknya dihindari karena berisiko menimbulkan masalah selama penerbangan.
Misalnya makanan beraroma kuat seperti ikan asin, durian, atau makanan fermentasi tertentu. Aroma menyengat dapat mengganggu kenyamanan penumpang lain dan berpotensi menimbulkan keluhan selama perjalanan.
Jemaah juga disarankan tidak membawa cairan dalam jumlah besar seperti madu, sambal, kecap, atau minyak tertentu karena berisiko bocor di dalam bagasi.
Kebocoran cairan dapat merusak barang milik sendiri maupun koper penumpang lain yang berada dalam satu kompartemen kargo.
Baca juga: Unik, Makanan di Armuzna Juga Bisa Jadi Oleh-oleh Jamaah Haji Indonesia
Pertanyaan ini hampir selalu muncul setiap musim haji. Jawabannya adalah tidak.
Air zamzam tidak diperbolehkan dimasukkan ke dalam koper bagasi maupun tas kabin. Ketentuan ini telah diterapkan oleh otoritas Arab Saudi dan maskapai penerbangan yang melayani penerbangan haji.
Menurut penjelasan Kementerian Agama RI pada penyelenggaraan ibadah haji, distribusi air zamzam untuk jemaah Indonesia dilakukan secara resmi setelah jemaah tiba di tanah air atau melalui asrama haji masing-masing daerah.
Larangan tersebut diberlakukan untuk menghindari kebocoran yang dapat merusak sistem penanganan bagasi dan mengganggu keamanan penerbangan.
Tidak sedikit koper jemaah yang harus dibongkar saat pemeriksaan karena ditemukan membawa air zamzam secara tidak sesuai prosedur.
Jika ditemukan, petugas berhak menahan bahkan mengeluarkan air zamzam dari koper sebelum diterbangkan.
Selain air zamzam, terdapat sejumlah barang yang secara umum tidak diperbolehkan berada di dalam koper bagasi, di antaranya:
Dalam buku Keamanan Penerbangan Sipil karya H.K. Martono dijelaskan bahwa pembatasan barang bawaan merupakan bagian dari standar keselamatan penerbangan internasional yang diterapkan hampir di seluruh negara.
Baca juga: 5 Toko Oleh-oleh Haji di Jogja Terlengkap, Cocok untuk Belanja Sesuai Budget
Agar oleh-oleh tiba dalam kondisi baik, jemaah dapat menerapkan beberapa langkah sederhana.
Pertama, gunakan kemasan tambahan seperti plastik vakum atau bubble wrap untuk barang yang mudah rusak.
Kedua, tempatkan barang berat di bagian bawah koper dan barang ringan di bagian atas.
Ketiga, pisahkan makanan dari barang elektronik atau pakaian untuk menghindari kontaminasi aroma.
Keempat, pastikan berat koper tidak melebihi batas yang ditentukan maskapai.
Terakhir, beri identitas yang jelas pada koper agar mudah dikenali saat pengambilan bagasi.
Membeli oleh-oleh memang menjadi kebiasaan yang menyenangkan bagi jemaah haji. Namun, hal terpenting adalah memastikan seluruh barang yang dibawa sesuai aturan penerbangan dan tidak menimbulkan risiko keamanan.
Kurma, tasbih, sajadah, mukena, pakaian muslim, serta berbagai suvenir khas Arab Saudi menjadi pilihan oleh-oleh yang relatif aman dimasukkan ke koper bagasi.
Sebaliknya, air zamzam, benda tajam, bahan berbahaya, serta cairan tertentu perlu mendapat perhatian khusus karena berpotensi ditahan saat pemeriksaan.
Dengan memahami aturan sejak awal, jemaah dapat pulang ke tanah air dengan lebih tenang, nyaman, dan tanpa kendala di bandara, sekaligus tetap membawa kenangan indah dari perjalanan spiritual di Tanah Suci.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang