KOMPAS.com - Direktur NU Online Hamzah Sahal menilai dinamika dan perbedaan pendapat yang kerap terjadi di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) merupakan sesuatu yang wajar dalam organisasi besar.
Menurutnya, perdebatan, kritik, hingga perbedaan pandangan yang muncul di tubuh NU justru menunjukkan bahwa demokrasi berjalan dan tidak perlu dipandang sebagai ancaman bagi organisasi.
Hamzah menegaskan, tradisi perbedaan pendapat telah lama menjadi bagian dari kultur organisasi yang didirikan para ulama tersebut.
Bahkan, tradisi itu sudah berlangsung sejak masa kepemimpinan Presiden keempat RI sekaligus tokoh NU, Gus Dur.
“Gagasan-gagasan Gus Dur tentang solidaritas, tentang kebersamaan hidup di tengah perbedaan, tentang kritikisme itu sekarang banyak ditiru. Maka di lingkungan NU kritik-kritik itu biasa, dinamis sekali,” kata Hamzah di Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu terkejut ketika melihat perdebatan yang terjadi di lingkungan NU.
Sebab, perbedaan pandangan merupakan konsekuensi dari organisasi yang memberi ruang bagi diskusi dan kritik.
“Ini mungkin bising, ya. Tapi demokrasi memang bising. Perbedaan-perbedaan itu biasa. Namanya perbedaan tidak dianggap masalah,” ujarnya.
Baca juga: Wasekjen PBNU: Jika Gus Dur Masih Hidup, Beliau Pasti Kritik NU Saat Ini
Hamzah kemudian mengibaratkan dinamika di tubuh NU seperti pertandingan sepak bola yang berlangsung penuh persaingan di lapangan, tetapi tetap menjunjung sportivitas setelah pertandingan berakhir.
“Main bola saja di lapangan saling berkejaran, berkompetisi, bahkan saling tendang. Tapi setelah peluit berakhir, setelah 90 menit habis itu salaman, rangkul-rangkulan. Kalau yang menang dikasih ucapan selamat. Jadi tidak boleh setelah selesai pertandingan masih ribut terus,” ungkapnya.
Menurut Hamzah, budaya seperti itulah yang selama ini hidup di lingkungan NU. Perbedaan pandangan boleh terjadi, tetapi tetap harus berada dalam koridor persaudaraan dan penghormatan terhadap sesama warga organisasi.
Ia mencontohkan bagaimana tradisi tersebut terlihat pada masa kepemimpinan Gus Dur di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Saat itu, sejumlah gagasan Gus Dur kerap memicu perdebatan di kalangan ulama maupun warga NU.
“Ketika Gus Dur membuat ide pribumisasi Islam, ketika beliau sering mengisi acara di gereja, ada kiai-kiai yang keberatan. Tetapi karena ada penghargaan terhadap perbedaan, tidak agresif kepada Gus Dur. Maksimal itu minta tabayun, minta klarifikasi. Tidak sampai memecat Gus Dur,” jelasnya.
Baca juga: Gus Yahya: Kritik Gus Dur Soal Keikhlasan Harus Membayangi Kader NU
Hamzah mengatakan para ulama senior NU pada masa itu memilih menyikapi perbedaan dengan cara yang bijak. Mereka tetap menyampaikan pandangan masing-masing tanpa harus memecah organisasi.
Ia mencontohkan sikap Kiai As'ad Syamsul Arifin yang memilih menjaga jarak terhadap sejumlah gagasan Gus Dur yang tidak sejalan dengan pandangannya, tetapi tidak mengajak warga NU untuk berkonflik.
“Beliau sangat bijaksana. Jadi beliau mengatakan, saya tidak mau ikut-ikut. Saya pribadi tidak ikut, saya juga tidak akan mengajak santri saya. Silakan saja diatur. Itu menunjukkan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan,” kata Hamzah.
Contoh lain, lanjut Hamzah, terlihat saat muncul polemik penerimaan dana SDSB yang pernah menjadi kontroversi besar di lingkungan NU pada masa lalu.
Menurutnya, peristiwa itu menunjukkan bahwa para tokoh NU lebih mengedepankan introspeksi daripada konflik terbuka.
“Nah waktu itu Kiai Ali Yafie sampai memilih mengundurkan diri. Tetapi beliau tidak memecat Gus Dur. Tidak mengajak orang untuk berkonflik. Beliau memilih mundur. Menurut saya itu hasil dari introspeksi dan sikap yang arif,” ujarnya.
Hamzah menilai budaya otokritik atau kritik terhadap diri sendiri yang diwariskan Gus Dur juga menjadi salah satu alasan mengapa NU mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan hingga saat ini.
“Autokritik itu hal yang khas dari Gus Dur. Bukan hanya pemerintah yang dikritik, umat Islam dikritik, bahkan NU sendiri sering sekali dikritik oleh Gus Dur,” tegasnya.
Baca juga: Gus Yahya: Pemimpin Baru NU Masa Depan Harus Paham Isu Global
Menurut Hamzah, semangat otokritik tersebut penting untuk menjaga organisasi tetap sehat dan terbuka terhadap perubahan.
“Kalau autokritik itu insya Allah tidak akan ada orang yang merasa paling benar. Akan ada introspeksi bersama-sama. Itu yang menurut saya penting,” ucapnya.
Di tengah berbagai dinamika yang terjadi, Hamzah mengaku tetap optimistis terhadap masa depan NU. Ia melihat banyak perkembangan positif, terutama dalam regenerasi kepemimpinan dan keterlibatan generasi muda.
“Optimis, optimis di tengah ketidakoptimisan. Ada kekhawatiran, tentu ada. Tetapi di banyak lini juga ada optimisme. Anak mudanya bagus, keilmuannya masih jalan, ahlussunnah wal jamaah menyebar dengan baik,” katanya.
Ia juga menyoroti tingginya jumlah masyarakat yang masih mengidentifikasi diri sebagai warga NU sebagai salah satu modal besar organisasi ke depan.
“Ada orang yang masih mengaku NU sampai 53 sampai 55 persen, itu kan optimisme. Tinggal bagaimana meningkatkan kualitas ber-NU,” ungkapnya.
Menurut Hamzah, tantangan terbesar NU saat ini bukan lagi soal mempertahankan jumlah pengikut, melainkan memperkuat kualitas pemahaman keagamaan dan kebangsaan warganya.
“PR kita bukan hanya soal ritual. Ritual itu fondasi. Tetapi juga bagaimana hidup bersama di tengah kebhinekaan, di tengah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Itu yang harus terus diperkuat,” jelas Hamzah.
Karena itu, ia mengajak seluruh warga NU, khususnya generasi muda, untuk tidak melihat perbedaan pendapat sebagai ancaman.
Sebaliknya, perbedaan harus dipandang sebagai bagian dari proses demokrasi yang sehat selama tetap dibingkai oleh persaudaraan, dialog, dan penghormatan terhadap sesama.
“Demokrasi memang bising. Tetapi selama tujuannya untuk kebaikan bersama dan tetap menjaga persaudaraan, itu hal yang normal,” pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang