JEDDAH, KOMPAS.com - Insiden hilangnya paspor sempat mewarnai kepulangan jemaah haji Indonesia di Bandara King Abdulaziz, Jeddah, pada Rabu (3/6/2026). Namun, berkat bantuan petugas Daerah Kerja (Daker) Bandara bersama Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah, masalah tersebut dapat diselesaikan dalam waktu relatif cepat.
Hal ini dialami oleh Siti Khodijah (61) alias Emak Ijah, jemaah asal kloter JKG 4.
Pedagang kopi keliling di Pelabuhan Tanjung Priok ini tak kuasa menahan air mata saat menyadari paspornya raib menjelang jadwal naik pesawat.
Emak Ijah sempat khawatir jika dirinya harus tertahan di Arab Saudi. "Tadinya nangis Emak. Katanya Emak enggak boleh pulang. Akhirnya Emak nangis," ungkap Emak Ijah dengan mata berkaca-kaca saat dijumpai di bandara.
Baca juga: Kisah-kisah Anak Berbakti di Haji 2026: Demi Ibu, Gushendra Latihan Jalan 3 Km Per Hari
Saat proses pengurusan dokumen pengganti, petugas memboyong jemaah kloter JKG 4 ini ke fasilitas penginapan di Hotel Ashil untuk ditenangkan.
Petugas haji berinisiatif menghubungi keluarga Emak Ijah di Indonesia agar mereka tidak cemas.
Pendampingan di hari ulang tahunnya yang ke-61 ini pun membuat tangis sedih berubah menjadi rasa syukur.
Emak Ijah mendoakan para petugas yang telah membantunya. "Ya Allah, terima kasih para petugas haji yang di Madinah, maupun yang di hotel. Petugas-petugasnya istimewa semua, terima kasih. Emak cuma punya doa dan doa, mudah-mudahan mereka dipanjangkan umur sama Allah kesehatannya, umur yang panjang ya Allah. Diberikan ya Allah dia ketulusan hati untuk menjalankan tugas-tugasnya," tutur Emak Ijah terharu.
Insiden hilangnya dokumen krusial yang dialami Emak Ijah ternyata bukan satu-satunya kasus pada hari itu.
Kepala PPIH Arab Saudi Daker Bandara, Abdul Basir, mencatat ada jemaah dari embarkasi lain bernama Abas Suganda yang juga mengalami nasib serupa. "Hari ini ada dua jemaah haji yang kehilangan paspor," jelas Abdul Basir membenarkan situasi di lapangan.
Namun, berkat koordinasi cepat lintas instansi, ia memastikan masalah tersebut langsung tertangani. "Abas Suganda tetap dapat terbang dengan kloternya. Sementara Siti Khodijah dimutasi ke kloter KJT-5 dan terbang hari ini juga," ungkapnya.
Sementara itu, Sekretaris Daker Bandara, Aruji Maswatu, menjelaskan bahwa pihaknya langsung memprioritaskan pembuatan dokumen darurat agar kepulangan jemaah tidak tertunda lama. "Nah, ini penanganannya adalah kami di Daerah Kerja Bandara ini membuat permohonan ke KJRI. KJRI untuk diterbitkan yang kita sebut atau kita kenal dengan SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor). Nah, nanti SPLP telah terbit, kemudian akan diambil," urai Aruji.
Kecepatan penerbitan SPLP tersebut sangat bergantung pada respons pihak imigrasi.
Merespons kondisi darurat ini, Staf Teknis Imigrasi KJRI Jeddah, Okky Aditya Yaqsa, menjamin bahwa instansinya selalu memberikan atensi maksimal agar jemaah tidak telantar. "KJRI berkomitmen menyelesaikan proses SPLP secepat mungkin demi pelayanan terbaik kepada jemaah haji. KJRI juga mendukung penuh PPIH Arab Saudi," tegas Okky.
Baca juga: Tak Ada Riwayat Sakit, Jemaah Haji Jember Meninggal dalam Tidur di Mekkah
Belajar dari rentetan peristiwa ini, pihak Daker Bandara mewanti-wanti jemaah haji yang masih dalam gelombang kepulangan.
Jemaah diimbau untuk lebih disiplin menjaga dokumen utama dan jangan mengeluarkan paspor dari tas kecil yang dikalungkan di dada demi kelancaran perjalanan pulang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang