Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jelang Muktamar, Hamzah Sahal Optimistis Masa Depan NU Semakin Kuat

Kompas.com, 4 Juni 2026, 06:30 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Direktur NU Online Hamzah Sahal menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) memiliki alasan kuat untuk optimistis menghadapi masa depan organisasi menjelang Muktamar mendatang.

Di tengah berbagai dinamika yang terjadi, ia menilai regenerasi kepemimpinan di tubuh NU tetap berjalan dan tidak mengalami stagnasi sebagaimana anggapan sebagian pihak.

Menurut Hamzah, perbincangan mengenai regenerasi yang dianggap mandek sering kali muncul karena publik hanya melihat jajaran elite organisasi di tingkat nasional.

Padahal, jika melihat struktur kepengurusan di tingkat wilayah, cabang, hingga lembaga-lembaga NU, banyak posisi strategis yang kini diisi oleh generasi yang lebih muda.

“Harus berdasarkan data kalau bicara seperti itu. Karena kalau kita lihat di pengurus wilayah Nahdlatul Ulama, banyak yang masih muda. Ketua PWNU Jawa Tengah, misalnya, masih di bawah 50 tahun. Ketua PWNU DKI Jakarta juga belum tua. Di pengurus cabang Nahdlatul Ulama di banyak daerah itu usia 40-an tahun banyak sekali,” kata Hamzah di Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Hamzah menanggapi pandangan yang menyebut regenerasi kepemimpinan NU berjalan lambat dan belum memberikan ruang yang cukup bagi generasi muda.

Ia justru melihat proses kaderisasi di lingkungan NU terus berlangsung melalui berbagai jalur, baik di organisasi, pesantren, maupun lembaga-lembaga keilmuan yang menjadi tulang punggung organisasi.

“Di Lembaga Bahtsul Masail itu anak-anak muda semua. Mereka menjadi penerus tradisi keagamaan di Nahdlatul Ulama. Di pesantren jalan, di berbagai tingkatan NU juga jalan. Jadi kalau dikatakan tidak ada regenerasi, saya kira perlu melihat data yang lebih luas,” ujarnya.

Baca juga: Wasekjen PBNU: Konflik Internal Jadi Beban Berat Generasi Muda NU

Hamzah mengatakan regenerasi yang terjadi saat ini tidak hanya terlihat dari aspek kepemimpinan formal. Di bidang intelektual, menurutnya, muncul banyak generasi baru yang aktif sebagai penulis, akademisi, peneliti, hingga penggerak komunitas.

“Penulis-penulis intelektual Nahdlatul Ulama itu banyak sekali dan sekarang semakin beragam kemampuan serta minat studinya. Tidak hanya ilmu sosial dan humaniora, tetapi juga sains. Itu menunjukkan regenerasi berjalan,” ungkapnya.

Menurut Hamzah, perkembangan tersebut menjadi salah satu alasan yang membuat dirinya tetap optimistis terhadap masa depan NU menjelang Muktamar.

“Optimis, optimis di tengah ketidakoptimisan. Biasa ada kekhawatiran, ada kecemasan. Tetapi di banyak lini juga ada optimisme. Anak mudanya bagus, keilmuannya masih jalan, ahlussunnah wal jamaah menyebar dengan baik,” tegasnya.

Ia menambahkan, optimisme tersebut juga didukung oleh fakta bahwa NU masih menjadi organisasi kemasyarakatan Islam dengan basis massa yang sangat besar di Indonesia.

“Ada orang yang masih mengaku NU sampai 53 sampai 55 persen. Itu kan optimisme. Itu modal sosial yang sangat besar,” ucap Hamzah.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar NU ke depan bukan semata-mata mempertahankan jumlah warga yang besar, melainkan meningkatkan kualitas pemahaman keagamaan dan kebangsaan mereka.

“PR kita adalah bagaimana meningkatkan kualitas ber-NU. Bukan hanya soal ritual. Ritual itu fondasi, itu dasar. Tetapi juga bagaimana hidup bersama di tengah kebhinekaan Indonesia,” tuturnya.

Baca juga: Wasekjen PBNU: Jika Gus Dur Masih Hidup, Beliau Pasti Kritik NU Saat Ini

Selain regenerasi kepemimpinan, Hamzah juga menyoroti perkembangan dunia pesantren yang menurutnya turut menjadi indikator sehatnya proses kaderisasi di lingkungan NU.

Ia menyebut banyak pesantren kini melahirkan generasi muda dengan kompetensi yang semakin beragam.

“Pesantren sekarang tidak hanya mengajarkan ilmu keagamaan. Banyak yang mengembangkan sains, olahraga, seni, teknologi. Ini menunjukkan bahwa regenerasi berjalan dan mengikuti kebutuhan zaman,” katanya.

Menurut Hamzah, perkembangan tersebut membuktikan bahwa NU memiliki sumber daya kader yang cukup untuk melanjutkan estafet kepemimpinan organisasi di masa mendatang.

Ia juga menepis anggapan bahwa anak muda tidak lagi tertarik terlibat dalam aktivitas organisasi keagamaan.

Justru, kata dia, banyak anak muda yang aktif di berbagai platform media, komunitas, dan lembaga yang terhubung dengan NU.

“Anak-anak muda sekarang banyak sekali yang aktif. Mereka mungkin tidak selalu terlihat di panggung politik organisasi, tetapi mereka bergerak di bidang pendidikan, media, literasi, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.

Hamzah mencontohkan perkembangan jejaring media NU yang selama bertahun-tahun menjadi ruang bagi munculnya generasi baru penulis dan intelektual muda.

“Dulu sebelum pandemi, kami mencatat ada lebih dari 1.500 penulis aktif di berbagai jejaring media NU. Sekarang platformnya semakin banyak. Itu menunjukkan ruang kaderisasi intelektual terus berkembang,” ungkap Hamzah.

Baca juga: Gus Yahya: Pemimpin Baru NU Masa Depan Harus Paham Isu Global

Menjelang Muktamar, Hamzah berharap dinamika yang terjadi di tubuh organisasi dapat disikapi secara dewasa oleh seluruh warga NU.

Menurutnya, perbedaan pandangan merupakan hal yang lumrah dalam organisasi besar yang memiliki jutaan anggota.

Ia mengingatkan bahwa tradisi NU sejak lama dibangun di atas semangat musyawarah, penghormatan terhadap perbedaan, dan persaudaraan.

“Yang penting adalah menjaga kualitas organisasi dan memperkuat tradisi keilmuan. Regenerasi harus terus berjalan, anak muda harus diberi ruang, dan nilai-nilai ahlussunnah wal jamaah harus terus diwariskan,” jelasnya.

Karena itu, Hamzah mengaku tetap menaruh harapan besar terhadap masa depan NU. Menurutnya, keberadaan kader-kader muda di berbagai tingkatan organisasi menjadi bukti bahwa proses regenerasi tidak berhenti dan justru sedang berlangsung secara alami.

“Saya optimistis. Banyak anak muda yang bagus, banyak kader yang tumbuh di berbagai daerah, dan keilmuan juga terus berkembang. Tinggal bagaimana semuanya terus dirawat agar NU semakin kuat menghadapi tantangan zaman,” pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Kemenag Gelar Festival Literasi Islam, Ada Pameran Percetakan Al-Qur'an
Kemenag Gelar Festival Literasi Islam, Ada Pameran Percetakan Al-Qur'an
Aktual
Wasekjen PBNU Soroti Arogansi Hotman Paris, Tak Layak Jadi Teladan Generasi Muda
Wasekjen PBNU Soroti Arogansi Hotman Paris, Tak Layak Jadi Teladan Generasi Muda
Aktual
Kemenag: Tunjangan Guru dan Dosen Cair Minggu Depan
Kemenag: Tunjangan Guru dan Dosen Cair Minggu Depan
Aktual
Berapa Jumlah Rakaat Shalat Taubat? Ini Penjelasan dan Dalilnya
Berapa Jumlah Rakaat Shalat Taubat? Ini Penjelasan dan Dalilnya
Aktual
Bolehkah Mengulang Shalat Taubat dalam Sehari? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Bolehkah Mengulang Shalat Taubat dalam Sehari? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Aktual
Kemenag Siapkan Materi Pencegahan LGBTQ dalam Kurikulum, Tindak Lanjuti Perpres Nomor 111 Tahun 2025
Kemenag Siapkan Materi Pencegahan LGBTQ dalam Kurikulum, Tindak Lanjuti Perpres Nomor 111 Tahun 2025
Aktual
Anggaran Tambahan Sudah Masuk, Kemenag Cairkan Tunjangan Profesi Guru-Dosen Minggu Depan
Anggaran Tambahan Sudah Masuk, Kemenag Cairkan Tunjangan Profesi Guru-Dosen Minggu Depan
Aktual
7 Adab Imam Shalat Berjamaah Menurut Imam Al-Ghazali Agar Ibadah Lebih Sempurna
7 Adab Imam Shalat Berjamaah Menurut Imam Al-Ghazali Agar Ibadah Lebih Sempurna
Aktual
Tokoh NU Banten Dorong PBNU Kembali ke Khittah, Sebut Pengurus Harus Jadi 'Pelayan Ulama'
Tokoh NU Banten Dorong PBNU Kembali ke Khittah, Sebut Pengurus Harus Jadi "Pelayan Ulama"
Aktual
Kapan Shalat Taubat Dilakukan? Simak Penjelasan Waktu Terbaik dan Harus Dihindari
Kapan Shalat Taubat Dilakukan? Simak Penjelasan Waktu Terbaik dan Harus Dihindari
Aktual
Tunjangan Profesi Guru dan Dosen Kemenag 2025 Cair Minggu Depan
Tunjangan Profesi Guru dan Dosen Kemenag 2025 Cair Minggu Depan
Aktual
Ponpes Bahrul Ulum Tegaskan Netral Jelang Muktamar NU 2026, Fokus Layani Muktamirin
Ponpes Bahrul Ulum Tegaskan Netral Jelang Muktamar NU 2026, Fokus Layani Muktamirin
Aktual
3 Syarat Agar Taubat Diterima Allah Menurut Penjelasan Ulama
3 Syarat Agar Taubat Diterima Allah Menurut Penjelasan Ulama
Aktual
Tata Cara Shalat Taubat Lengkap dengan Niat dan Doa
Tata Cara Shalat Taubat Lengkap dengan Niat dan Doa
Doa dan Niat
Kemenhaj Umumkan Daftar Jemaah Haji 2027, ASN Diminta Segera Bangun Komunikasi
Kemenhaj Umumkan Daftar Jemaah Haji 2027, ASN Diminta Segera Bangun Komunikasi
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar