BANYUWANGI, KOMPAS.com - Jemari Dwi Agustini bergerak perlahan mengikuti arahan pengajar di hadapannya.
Tatapannya fokus, sesekali mengernyit saat berusaha mengingat bentuk isyarat yang baru dipelajari.
Di surau sederhana yang berdampingan dengan Rumah Al-Irsyad di Kelurahan Temenggungan, Kecamatan Banyuwangi, perempuan 29 tahun itu sedang belajar membaca Al-Qur'an.
Baca juga: Tersembunyi di Masjid Nabawi, Museum Ini Simpan Al-Quran Berusia Lebih dari 800 Tahun
Tak terdengar lantunan ayat seperti lazimnya pengajian.
Yang tampak justru puluhan pasang tangan bergerak lincah membentuk huruf demi huruf.
Dalam keheningan itulah, ayat-ayat suci dipelajari melalui bahasa isyarat.
Setiap Minggu, surau tersebut menjadi tempat berkumpulnya para Teman Tuli dari berbagai wilayah Banyuwangi.
Mereka mengikuti kegiatan Ngaji Bareng Tuli yang digelar Rumah Quran Sahabat Tuli Irsyadut Tholibien Banyuwangi.
Bagi Dwi, perjalanan menuju tempat mengaji bukanlah perkara mudah.
Ia harus menempuh jarak sekitar 10 kilometer dari rumahnya di Kelurahan Dadapan, Kecamatan Kabat.
Namun jarak itu tak pernah menjadi alasan untuk absen.
Keinginan mengenal Al-Qur'an telah lama tersimpan dalam dirinya.
Selama bertahun-tahun, ia merasakan betapa terbatasnya akses belajar agama bagi Orang Tuli.
"Kami ingin mengenal Al-Qur'an karena Allah. Selama ini kami Tuli belum pernah belajar ngaji seperti orang umum yang mengaji pakai berbicara, namun kami tidak bisa berbicara dan mendengar. Hari ini kami belajar kegiatan ngaji pakai bahasa isyarat," tulis Dwi.
Baca juga: Arab Saudi Bagikan 1,9 Juta Al Quran Terjemahan 80 Bahasa ke Jamaah Haji Dunia
Sebelum menemukan tempat belajar tersebut, Dwi berusaha belajar sendiri.
Ia menghafalkan isyarat hijaiyah dan bahasa isyarat keislaman secara mandiri.
Ia juga sempat berpindah-pindah tempat belajar.
Namun baru di Rumah Quran Sahabat Tuli, ia merasa menemukan ruang yang benar-benar memahami kebutuhannya.
Tak masalah baginya harus kembali memulai dari Iqro jilid satu.
Yang terpenting, kini ia memiliki kesempatan belajar yang selama ini sulit diperoleh.
"Kami senang bisa mengaji Al-Qur'an pakai bahasa isyarat," ujarnya.
Di sudut lain ruangan, Buhari tampak tak kalah bersemangat.
Pelajar kelas X SLB Bina Insani Bangsring itu datang dari Desa Alasbuluh, Kecamatan Wongsorejo.
Ia menempuh jarak 31 kilometer untuk sampai ke sana.
Dengan tenang, remaja 16 tahun tersebut memperagakan bahasa isyarat Surat Al-Fatihah yang baru dipelajarinya.
Gerakannya mantap.
Sesekali ia tersenyum ketika mendapat apresiasi dari pengajar.
Saat ditanya bagaimana pendapatnya tentang kegiatan itu, jawabannya sederhana.
"Bagus," katanya singkat.
Meski hanya satu kata, jawaban itu seolah mewakili perasaan banyak peserta yang hadir hari itu.
Sebab bagi mereka, belajar mengaji bukan hanya soal mengenal huruf dan ayat.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut menghadirkan kesempatan yang selama ini sulit dijangkau: kesempatan untuk belajar agama dengan cara yang bisa mereka pahami.
Baca juga: Awal Puasa 2026, Ini Hikmah Puasa Ramadhan Menurut Alquran
Di tengah keterbatasan akses pendidikan keagamaan bagi penyandang tuli, surau kecil di Temenggungan itu menjadi ruang yang membuka jalan.
Dalam bahasa yang tak bersuara, mereka menemukan cara untuk mendekat kepada kitab sucinya.
Dan setiap pekan, melalui gerakan tangan yang sederhana, mereka terus mengeja satu demi satu ayat, meniti jalan menuju pemahaman yang selama ini mereka rindukan.
Di balik terselenggaranya Ngaji Bareng Tuli, terdapat perjalanan panjang yang telah dirintis sejak bertahun-tahun lalu.
Direktur Laznas Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi dan sekretaris Pimpinan Cabang Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi, Taufiq Shaleh, mengungkapkan, Banyuwangi pernah memiliki seorang guru SLB bernama Ustadz Zarkasyi yang mengembangkan bahasa isyarat khusus untuk pembelajaran huruf hijaiyah bagi Orang Tuli.
Namun, sebelum metode tersebut berkembang lebih jauh, Ustadz Zarkasyi meninggal dunia.
Kondisi itu membuat upaya pembelajaran Al-Qur'an untuk Teman Tuli sempat kehilangan arah karena sulitnya menemukan guru yang mampu mengajar menggunakan bahasa isyarat.
Baca juga: Keutamaan Puasa Ramadhan Menurut Alquran dan Hadis
Titik terang muncul ketika Kementerian Agama merilis bahasa isyarat hijaiyah.
Sejumlah anggota komunitas Tuli kemudian mempelajari metode tersebut dan mendapatkan pelatihan hingga mampu menjadi pengajar.
Di saat yang sama, komunitas Tuli juga menginginkan tempat belajar yang tetap karena selama ini harus berpindah-pindah lokasi.
"Kami akhirnya sepakat. Kami siapkan tempat dan fasilitas, mereka belajar mengaji di sini," ujarnya.
Program yang baru berjalan sekitar sebulan itu kini diikuti 20 hingga 25 peserta dari berbagai wilayah Banyuwangi.
Untuk mendukung pembelajaran, Al-Irsyad menyediakan tempat, buku mengaji, serta metode yang terus disesuaikan dengan kebutuhan penyandang tuli.
"Harapan kami semoga kegiatan ini bisa istikamah, kontinyu, dan konsisten. Yang terpenting teman-teman Tuli bisa mengaji dan kami memfasilitasi agar prosesnya berjalan lancar," tandasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang