Editor
KOMPAS.com - Malam 1 Suro dalam kalender Jawa menjadi salah satu tradisi yang masih dijaga masyarakat Jawa hingga saat ini.
Momen pergantian tahun dalam kalender Jawa tersebut tidak hanya memiliki makna budaya, tetapi juga mengandung nilai spiritual yang kuat.
Setiap tahunnya, malam Satu Suro diisi dengan berbagai ritual dan laku batin yang bertujuan mendekatkan diri kepada Tuhan serta melakukan introspeksi diri.
Baca juga: 11 Weton Tulang Wangi Terkait Malam 1 Suro, Apakah Anda Salah Satunya?
Tradisi ini merupakan hasil perpaduan antara ajaran Islam dan budaya Jawa yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Dilansir dari Antara, istilah "Suro" berasal dari kata Asyura dalam bahasa Arab yang berarti “sepuluh”.
Baca juga: Mengenal Kalender Jawa yang Diciptakan Raja Ketiga Mataram Islam
Kata tersebut merujuk pada hari ke-10 bulan Muharram yang memiliki keutamaan tersendiri dalam ajaran Islam.
Dalam perkembangannya, masyarakat Jawa mengadaptasi pelafalan kata Asyura menjadi “Suro”.
Nama tersebut kemudian digunakan sebagai sebutan bagi bulan pertama dalam kalender Jawa.
Tradisi malam Satu Suro tidak dapat dipisahkan dari peran Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram Islam.
Pada Jumat Legi bulan Jumadil Akhir tahun 1555 Saka atau bertepatan dengan 8 Juli 1633 Masehi, Sultan Agung meresmikan kalender Jawa-Islam.
Kalender tersebut merupakan sistem penanggalan yang menggabungkan unsur kalender Saka yang berbasis Hindu dengan kalender Hijriah yang berbasis Islam.
Langkah itu tidak hanya bertujuan mengatur sistem waktu, tetapi juga menjadi strategi budaya untuk menyatukan masyarakat Jawa yang kala itu terdiri atas kelompok santri dan abangan.
Melalui kalender baru tersebut, nilai-nilai kejawen yang telah berkembang di tengah masyarakat dapat berjalan berdampingan dengan ajaran Islam yang semakin kuat di Tanah Jawa.
Kebijakan itu kemudian menjadi salah satu simbol akulturasi budaya yang masih bertahan hingga sekarang.
Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, malam 1 Suro dipandang sebagai waktu yang memiliki dimensi spiritual kuat.
Malam tersebut diyakini sebagai momen ketika batas antara alam gaib dan dunia manusia menjadi lebih tipis.
Karena itu, sebagian masyarakat percaya malam Satu Suro menjadi waktu turunnya arwah leluhur yang membawa perlindungan dan berkah.
Keyakinan tersebut melahirkan berbagai tradisi spiritual yang masih dijalankan hingga kini.
Masyarakat biasanya mengisi malam Satu Suro dengan tirakat, doa bersama, ziarah kubur, serta selametan.
Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk rasa syukur, introspeksi diri, dan upaya mendekatkan diri kepada Tuhan.
Tradisi itu dapat dilakukan secara individu maupun berkelompok.
Tujuannya adalah membersihkan jiwa, memohon keselamatan, serta berharap keberkahan bagi diri sendiri dan keluarga.
Praktik-praktik tersebut menunjukkan adanya perpaduan antara nilai Islam dan budaya Jawa yang menekankan keseimbangan, harmoni, serta kehidupan spiritual.
Salah satu warisan budaya yang ditinggalkan Sultan Agung adalah tradisi ziarah kubur pada Jumat Legi.
Kegiatan tersebut biasanya disertai dengan pengajian, doa bersama, dan haul untuk mengenang para leluhur.
Ketika tanggal 1 Suro bertepatan dengan Jumat Legi seperti yang terjadi tahun ini, sebagian masyarakat Jawa meyakini malam tersebut memiliki nilai kesakralan yang lebih tinggi dibandingkan biasanya.
Pada momentum tersebut, masyarakat cenderung lebih berhati-hati dalam bertindak dan menghindari kegiatan yang bersifat hura-hura.
Sebaliknya, malam Satu Suro lebih banyak diisi dengan aktivitas keagamaan, refleksi diri, dan kegiatan spiritual lainnya.
Perayaan malam Satu Suro merupakan hasil proses panjang yang mempertemukan tradisi Islam dan kejawen dalam satu ruang budaya yang harmonis.
Melalui pendekatan yang dilakukan Sultan Agung Hanyokrokusumo, tradisi ini berkembang menjadi simbol persatuan sekaligus pengingat pentingnya nilai spiritual dalam kehidupan masyarakat.
Malam Satu Suro juga menjadi bukti bagaimana masyarakat Jawa mampu mempertahankan warisan budaya tanpa meninggalkan nilai-nilai agama yang dianutnya.
Hingga kini, tradisi tersebut tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Jawa yang religius, reflektif, dan menjunjung tinggi kearifan lokal.
Meski sebagian larangan yang berkembang di masyarakat bersifat mitologis, malam 1 Suro tetap memiliki makna penting sebagai momentum introspeksi diri, memperkuat hubungan dengan Tuhan, serta menghargai warisan budaya yang telah membentuk identitas masyarakat Jawa selama berabad-abad.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang