Editor
KOMPAS.com – Menjelang pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Ploso, Kediri, para ulama dan pengurus PCNU se-Jawa Timur memperkuat tradisi keilmuan melalui kegiatan bedah kitab Ithafu Ummatil Muqtafa karya Dr KH Zulfa Mustofa.
Kegiatan yang berlangsung di Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan, Jombang, pada Jumat (19/6/2026) itu dihadiri jajaran pengurus PCNU se-Jawa Timur dari unsur Syuriah dan Tanfidziyah, para pengasuh pondok pesantren, serta pemerhati kajian keislaman.
Bedah kitab menghadirkan langsung penulisnya, Dr. KH. Zulfa Mustofa, bersama Wakil Rais Aam PBNU KH Afifuddin Muhajir yang dikenal luas sebagai ulama pesantren dengan kontribusi besar dalam pengembangan pemikiran fikih, termasuk fikih tata negara di Indonesia.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian menyambut Munas dan Konbes NU sekaligus upaya memperkuat tradisi intelektual yang selama ini menjadi ciri khas Nahdlatul Ulama.
Dalam sambutannya, KH Zulfa Mustofa menyampaikan bahwa Jombang melalui Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (UNIPDU) dan Yayasan Darul Ulum turut mengambil bagian dalam rangkaian kegiatan menjelang Munas dan Konbes NU.
Baca juga: KH Zulfa Kembalikan Mandat Pj Ketum PBNU, Jabatan Gus Yahya Pulih
"Jombang melalui UNIPDU dan Yayasan Darul Ulum juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan bedah kitab yang beriringan dengan Munas dan Konbes NU di Ploso. Semoga amal saleh para masyayikh, para kiai, dan seluruh keluarga besar pesantren terus menjadi keberkahan bagi umat dan bangsa," ujar KH Zulfa dalam keterangan tertulis, Senin (22/6/2026).
Menurutnya, forum ilmiah seperti bedah kitab memiliki peran penting dalam menjaga kesinambungan tradisi keilmuan pesantren yang berpijak pada khazanah klasik sekaligus mampu menjawab perkembangan zaman.
Kitab Ithafu Ummatil Muqtafa sendiri merupakan karya yang ditulis KH Zulfa Mustofa selama kurang lebih delapan tahun. Proses penulisannya dimulai pada masa pandemi Covid-19 dan menjadi salah satu dari sejumlah karya ilmiah yang berhasil diselesaikannya pada periode tersebut.
"Saya mulai menulis kitab ini pada masa Covid-19. Pada masa itu saya menyelesaikan beberapa kitab. Setiap kitab yang saya tulis memiliki latar belakang dan sejarah penulisannya masing-masing. Karena itu, di bagian mukadimah setiap kitab selalu saya jelaskan konteks dan perjalanan yang melatarbelakangi lahirnya karya tersebut," jelasnya.
Kitab berbahasa Arab tersebut mengupas secara mendalam tentang Ushul Fiqh, yakni metodologi dan kaidah dalam memahami, menggali, serta menetapkan hukum Islam. Para peserta menilai karya tersebut memiliki bobot akademik yang kuat dan layak menjadi referensi di lingkungan pesantren maupun perguruan tinggi Islam.
Dalam pemaparannya, KH Zulfa menegaskan pentingnya penguasaan Ushul Fiqh dalam merespons berbagai persoalan keagamaan yang terus berkembang di tengah masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa proses pengambilan hukum tidak bisa dilakukan hanya dengan menyalin atau mengimpor fatwa dari wilayah lain tanpa mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat Indonesia.
"Kita dalam berfatwa atau menjawab suatu persoalan tidak boleh begitu saja mengimpor fatwa dari luar. Bisa jadi kondisi masyarakat kita berbeda dengan kondisi masyarakat di tempat lain. Kalau memang terdapat kesamaan sebab hukum dan kesamaan kasus, tentu bisa dijadikan rujukan. Namun kalau hanya sekadar copy-paste, belum tentu sesuai dengan realitas yang dihadapi masyarakat kita," tegas KH. Zulfa Mustofa.
Menurutnya, salah satu fungsi utama Ushul Fiqh adalah menjembatani antara teks-teks keagamaan dan realitas sosial yang terus berkembang. Dengan pendekatan tersebut, hukum Islam dapat tetap berpegang pada prinsip syariat sekaligus relevan dengan kebutuhan umat pada setiap masa.
Salah seorang peserta yang hadir mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia menilai bedah kitab menjadi ruang penting untuk menghidupkan kembali tradisi intelektual Nahdlatul Ulama.
"Kegiatan ini sangat baik karena menghidupkan kembali semangat keilmuan yang selama ini menjadi ciri khas Nahdlatul Ulama. Tradisi berpikir yang menggabungkan warisan ulama dengan kebutuhan zaman perlu terus diperkuat. Bedah kitab semacam ini penting diperluas di berbagai daerah sebagai penegasan identitas keulamaan dan intelektualitas NU," ujarnya.
Selain bedah kitab, KH. Zulfa Mustofa juga mengikuti forum silaturahmi bersama para pengurus PCNU se-Jawa Timur dan para pengasuh pondok pesantren. Dalam suasana penuh kekeluargaan, para peserta membahas berbagai dinamika yang berkembang di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Baca juga: Hari Pertama Kerja, Pj Ketum PBNU KH Zulfa Klaim NU Sudah Normal
Mereka berharap berbagai perbedaan dan dinamika organisasi dapat dikelola secara bijaksana demi memperkuat peran NU dalam memberikan kontribusi nyata bagi umat, bangsa, dan negara, terutama bagi kelompok masyarakat yang membutuhkan pendampingan.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa yang dipimpin Rais Syuriah PBNU KH. Ahmad Sadid dari Jember. Dalam doanya, ia memohon agar Nahdlatul Ulama senantiasa diberi kekuatan, persatuan, dan keberkahan untuk terus menghadirkan kemaslahatan bagi Indonesia.
Melalui kegiatan bedah kitab ini, semangat keilmuan yang menjadi fondasi perjuangan Nahdlatul Ulama diharapkan terus tumbuh dan berkembang sebagai bekal penting menyongsong Munas dan Konbes NU mendatang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang