Editor
KOMPAS.com – Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Pusat Aisyiyah mengusulkan pembaruan panduan penanganan darurat bencana guna mengoptimalkan pemenuhan gizi bagi ibu dan anak, terutama sejak fase tanggap darurat hingga masa pemulihan.
Ketua LLHPB PP Aisyiyah Rahmawati Husein menegaskan bahwa kebutuhan gizi balita harus menjadi perhatian utama dalam setiap penanganan bencana. Menurutnya, kondisi gizi anak saat masa pemulihan sangat ditentukan oleh langkah-langkah yang dilakukan sejak awal bencana terjadi.
“Jadi memang penting itu memastikan kebutuhan balita saat darurat dan pemulihan. Karena darurat itu penting, apalagi transisi daruratnya saja masih berjalan sampai sekarang di Tamiang. Sudah enam bulan masih transisi darurat,” kata Rahmawati dalam forum laporan publik kegiatan edukasi gizi di daerah bencana, dikutip di Jakarta, Minggu (21/6/2026).
Baca juga: Doa Menghadapi Musibah Gempa Bumi serta Hikmah Terjadinya Bencana dalam Islam
Rahmawati yang juga merupakan Anggota Unsur Pengarah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjelaskan, pembahasan mengenai pemenuhan gizi tidak boleh hanya dilakukan setelah situasi bencana mereda. Menurutnya, aspek tersebut harus menjadi bagian dari respons kemanusiaan sejak hari-hari pertama penanganan darurat.
Ia mengungkapkan, Kementerian Kesehatan melalui Pusat Krisis sebenarnya telah memiliki Panduan Operasional Pemberian Makanan bagi Bayi dan Anak dalam Situasi Darurat yang diterbitkan pada 2014 dan diperbarui pada 2019. Namun, pengalaman di lapangan menunjukkan perlunya penyempurnaan agar panduan tersebut lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat terdampak bencana saat ini.
“Kementerian Kesehatan melalui Pusat Krisis sudah punya panduan operasional pemberian makanan bagi bayi dan balita. Itu tahun 2019 dan ada sebelumnya tahun 2014. Mungkin usulan kita dari acara hari ini bisa untuk penyempurnaan itu,” ujarnya.
Salah satu aspek yang dinilai perlu diperkuat dalam standar operasional prosedur (SOP) penanganan bencana adalah kualitas bantuan pangan yang disalurkan kepada masyarakat. Rahmawati menilai bantuan pangan tidak cukup hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan kalori, tetapi juga harus memperhatikan kandungan gizi yang dibutuhkan anak-anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
Ia menyoroti masih banyaknya bantuan pangan berupa makanan instan yang kurang mendukung kebutuhan gizi jangka panjang, seperti mi instan, biskuit, dan kental manis.
“Bagaimana membangun kesadaran itu penting. Jadi kegiatan-kegiatan pada saat tanggap darurat itu tidak hanya kegiatan pemberian makanan yang tadi juga tidak tepat, ada makanan instan kemudian kental manis, tetapi membangun kesadaran gizi dari kandungan itu menjadi penting,” kata Rahmawati.
Selain memperhatikan kualitas pangan, Rahmawati juga menekankan pentingnya pelibatan perempuan dan komunitas lokal dalam proses pemulihan pascabencana. Menurutnya, masyarakat setempat memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai sumber pangan lokal yang tersedia dan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
Sementara itu, Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Budi Setiawan menilai aspek gizi kelompok rentan harus terintegrasi dalam pengelolaan dapur umum, baik pada masa tanggap darurat maupun pemulihan.
Menurut Budi, dapur umum tidak hanya bertugas menyediakan makanan bagi penyintas bencana, tetapi juga memastikan kebutuhan gizi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui terpenuhi dengan baik.
Baca juga: Cuaca Ekstrem Melanda, Ini Doa Perlindungan dan Panduan Siaga Bencana
“Di masa pemulihan ini makanan instan perlu dihentikan. Setiap dapur umum hendaknya memiliki panduan yang jelas mengenai kebutuhan gizi kelompok rentan, terutama anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui,” ujar Budi.
Usulan pembaruan panduan penanganan bencana tersebut diharapkan dapat memperkuat sistem respons kemanusiaan di Indonesia, sehingga pemenuhan gizi kelompok rentan tetap terjaga sejak masa darurat hingga proses pemulihan berlangsung.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang