BANYUWANGI, KOMPAS.com - Dalam dinamika interaksi sosial sehari-hari, gesekan, kesalahpahaman, hingga konflik interpersonal kerap kali menjadi ujian yang tidak terhindarkan.
Saat rasa benci dibalas dengan benci, yang tercipta hanyalah lingkaran setan permusuhan yang kian membesar.
Namun, Al-Quran menawarkan sebuah strategi psikologis yang revolusioner dalam meretas kebencian tersebut.
Konsep mulia tersebut tertuang indah dalam Al-Quran Surah Fushshilat ayat 34.
Ayat ini bukan sekadar untaian firman, melainkan sebuah kaidah qurani yang agung serta panduan taktis bagi setiap manusia dalam membangun hubungan antarsosial.
Baca juga: Surah Asy-Syura Ayat 40: Antara Keadilan Qishash dan Indahnya Pintu Maaf
Allah SWT berfirman:
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan, seolah-olah menjadi teman yang sangat setia.” (QS Fushshilat: 34)
Melalui pendekatan tadabbur, ayat ini menyimpan tiga pilar penting yang mampu mengubah paradigma kita dalam menghadapi sebuah permusuhan:
Langkah awal untuk memahami ayat ini adalah menyadari adanya jurang pemisah yang sangat tegas antara kebaikan dan keburukan.
Keduanya berada pada kutub yang sepenuhnya bertolak belakang dan tidak akan pernah bertemu.
"Kebaikan dan keburukan itu berbeda secara mutlak, tidak sama, dan tidak akan pernah setara. Begitu pula halnya dengan iman dan kekufuran, atau ketaatan dan kemaksiatan. Perbedaan ini bersifat menyeluruh, baik dari sisi zatnya, sifat yang melekat padanya, maupun balasan yang telah disiapkan di sisi Allah Ta’ala kelak," ungkap Dai Lajnah Dakwah PC Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi, Ustadz Ahsanul Falihin.
Prinsip tersebut menyadarkan umat bahwa menyamakan respons baik dengan respons buruk adalah sebuah kekeliruan moral.
Kebaikan membawa dampak konstruktif dan ketenangan, sementara keburukan hanya melahirkan destruksi emosional.
Poin esensial kedua dari ayat ini adalah perintah langsung yang bernada instruktif (amr) dari Allah SWT: “Idfa’ billatii hiya ahsan”, tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih baik.
Ini adalah sebuah seni diplomasi jiwa tingkat tinggi.
Ustadz Ahsanul Falihin menjelaskan bahwa perintah ini menuntut kedewasaan spiritual yang luar biasa dari seorang Muslim.
Kita diajarkan untuk membalas setiap keburukan interpersonal dengan kebaikan yang tulus.
Ketika ada orang lain yang menumpahkan kemarahan kepada kita, benteng pertahanan terbaik adalah kesabaran.
Ketika menjumpai kebodohan, egoisme, atau perilaku kasar, penawarnya adalah kelembutan hati.
Secara psikologis, tindakan membalas keburukan dengan kebaikan bertindak layaknya air jernih yang menyiram kobaran api.
Langkah ini terbukti ampuh memadamkan bara kebencian yang menyala di dalam dada manusia, sekaligus melenyapkan segala bentuk dendam yang berpotensi merusak hubungan.
Ketika strategi "langit" ini diterapkan dalam realitas kehidupan, janji Allah dalam ayat tersebut akan menjadi nyata.
Akan terjadi sebuah lompatan perubahan psikologis yang luar biasa pada diri orang yang semula membenci kita.
Orang yang dahulu berbuat jahat, memusuhi, atau menaruh dendam kesumat, perlahan tapi pasti egonya akan melunak.
Baca juga: Doa Taubat dan Memohon Ampunan kepada Allah SWT, Lengkap dengan Arab dan Artinya
Berkat kebaikan yang konsisten dan kelapangan dada kita dalam memberikan maaf, sikap bermusuhan itu akan luntur.
Mereka akan berbalik arah menjadi seolah-olah teman dekat dan sahabat yang penuh dengan kasih sayang (waliyyun hamiim).
Melalui keindahan muamalah berbasis Surah Fushshilat ayat 34 ini, Islam mengajarkan sebuah pesan moral yang mendalam: kemenangan sejati atas musuh atau orang yang membenci kita bukanlah dengan cara menghancurkannya, melainkan dengan merengkuh hatinya dan mengubah permusuhan menjadi jalinan persaudaraan yang abadi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang