Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mars Al-Irsyad: Manifesto Kesetaraan Islam dan Anti-Feodalisme

Kompas.com, 29 Juni 2026, 14:03 WIB
Fitri Anggiawati,
Farid Assifa

Tim Redaksi

BANYUWANGI, KOMPAS.com - Di tengah riuhnya perdebatan modern tentang keadilan sosial dan kritik terhadap hak istimewa (privilege) berbasis dinasti atau kekayaan, sejarah pergerakan Islam di Indonesia sebenarnya telah memiliki rekam jejak yang sangat radikal dalam mendobrak sekat-sekat feodalisme.

Salah satu warisan pemikiran itu tersimpan rapi, namun sering kali luput dari amatan publik, di dalam bait-bait Mars Al-Irsyad Al-Islamiyyah.

Bagi masyarakat awam, lagu yang kerap dikumandangkan dalam pembukaan berbagai perhelatan resmi organisasi ini mungkin terdengar sebatas syair bahasa Arab yang estetis dan ritmis.

Namun, jika dibedah dengan kacamata sosiologis, mars ini melampaui batas-batas fungsi seremonialnya.

Baca juga: Kalender Juli 2026 Lengkap dengan Weton Jawa, Catat Jadwal Istiwa Azham dan Awal Bulan Shafar

Ia adalah sebuah manifesto perjuangan sosial yang mengajak kita mengenal kembali konsep Al-musawah, sebuah prinsip persamaan derajat manusia yang menjadi motor penggerak pembaruan Islam di Nusantara sejak awal abad ke-20.

Meruntuhkan Kasta Sosial Melalui Ruh Takwa

Komitmen terhadap kesetaraan manusia ini termaktub secara jernih dalam salah satu bait penting Mars Al-Irsyad:

نَحْنُ حُمَاةُ السَّمْحَاءِ بِنَشْرِنَا رُوحَ التَّقْوَى

“Kita adalah para pengawal agama yang hanif dan penuh kelapangan, dengan menebarkan ruh ketakwaan.”

"Misi dakwah Islam yang diusung oleh Al-Irsyad sejak awal berdiri tidak hanya fokus mengoreksi kesalahan ibadah atau mengajak manusia shalat," kata Dai Lajnah Dakwah Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi, Ahsanul Falihin.

Lebih dari itu, menurutnya Al-Irsyad hadir untuk membangun tatanan masyarakat di atas fondasi ketakwaan, persaudaraan, keadilan, dan persamaan derajat antarmanusia, sehingga rahmat Islam dapat dirasakan oleh seluruh lapisan tanpa sekat sosial.

Ahsanul menjelaskan bahwa manifestasi penting dari ruh ketakwaan adalah tegaknya prinsip al-musawah. Di hadapan pencipta, stratifikasi sosial yang diciptakan oleh manusia, baik berdasarkan garis keturunan, suku, maupun akumulasi materi seketika runtuh.

Prinsip ini berakar kuat pada penegasan wahyu dalam Al-Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 13, bahwa yang paling mulia di sisi Allah adalah mereka yang paling bertakwa.

Melalui prinsip ini pula, sejarah mencatat bagaimana Islam menyatukan Bilal bin Rabah yang mantan budak Afrika, Salman Al-Farisi dari Persia, dan para bangsawan Quraisy seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq ke dalam satu saf yang setara.

Tidak ada hak istimewa keduniawian yang dibawa ke dalam ikatan akidah.

Semangat anti-feodalisme dan penegasan kesetaraan inilah yang dahulu diperjuangkan secara gigih oleh sang pendiri Al-Irsyad, Syaikh Ahmad Surkati.

Pada zamannya, beliau mendobrak adat-istiadat kaku yang mengagungkan sekelompok manusia hanya karena faktor nasab (keturunan) sementara merendahkan yang lain.

Dalam salah satu bait syairnya yang melegenda, Syaikh Ahmad Surkati menuliskan kritik tajam sekaligus reflektif:

لَا فَخْرَ بِالزِّيِّ وَلَا بِالنَّسَبِ • وَلَا بِجَمْعِ وَرِقٍ أَوْ ذَهَبِ

لَكِنَّهُ بِالْعِلْمِ وَالْآدَابِ • وَالدِّينِ مِصْبَاحُ أُولِي الْأَلْبَابِ

“Kemuliaan bukanlah karena pakaian atau keturunan, dan bukan pula karena menumpuk perak maupun emas. Akan tetapi, kemuliaan itu diraih dengan ilmu, adab, dan agama, yang menjadi pelita bagi orang-orang yang berakal.”

Melalui syair tersebut, Syaikh Surkati meredefinisi arti kemuliaan manusia modern.

Beliau mengingatkan umat melalui refleksi historis tentang kehancuran harta Qarun dan pembangkangan Kan'an putra Nabi Nuh, untuk membuktikan bahwa kekayaan dan nasab mulia tidak menjamin keselamatan tanpa iman.

وَإِنَّ أُمَّ النَّوْعِ حَوَّاءُ فَاعْلَمَا • وَآدَمُ أَبُو الْجَمِيعِ فَافْهَمَا

وَمَرْجِعُ الْكُلِّ إِلَى التُّرَابِ • وَمِنْهُ خَلْقُهُمْ بِلَا ارْتِيَابِ

“Ketahuilah bahwa Hawa adalah ibu seluruh umat manusia, dan Adam adalah ayah bagi mereka semua, maka pahamilah. Dan pada akhirnya seluruh manusia akan kembali ke tanah, dan darinya pula mereka diciptakan tanpa ragu.”

"Mengenal dan menghayati Mars Al-Irsyad hari ini menghadapkan kita pada sebuah cermin besar," tambah Ahsanul Falihin.

Di mana ketika ego sektoral, fanatisme kelompok, dan pamer kuasa marak terjadi di ruang publik, syair ini mengingatkan umat bahwa berasal dari asal usul yang sama, yaitu dari tanah, dan akan kembali menjadi tanah.

Baca juga: Bukan Sekadar Penutup Wajah, Burqa Koin Makkah Simpan Simbol Kekayaan dan Warisan Keluarga

Al-Irsyad melalui lembaga pendidikan dan dakwahnya sejak awal abad ke-20 konsisten mencetak manusia-manusia yang merdeka, yang menghargai sesama bukan karena atribut dunianya, melainkan karena ilmu, adab, dan ketakwaannya.

Mengumandangkan Mars Al-Irsyad di ruang-ruang pertemuan institusi seharusnya tidak lagi menjadi rutinitas yang kering.

Setiap baitnya adalah pengingat, bahwa tugas kemanusiaan kita belum usai: menegakkan keadilan, membumikan ilmu, dan memastikan bahwa tidak ada manusia yang merasa lebih tinggi dari manusia lainnya di muka bumi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Hukum Wudhu saat Masih Memakai Makeup dan Skincare, Sah atau Tidak? Ini Penjelasan Ulama
Hukum Wudhu saat Masih Memakai Makeup dan Skincare, Sah atau Tidak? Ini Penjelasan Ulama
Aktual
Merawat Sejak Lahir, Bolehkah Ayah Tiri Menjadi Wali Nikah? Begini Penjelasan Hukum Islam
Merawat Sejak Lahir, Bolehkah Ayah Tiri Menjadi Wali Nikah? Begini Penjelasan Hukum Islam
Aktual
Kemenhaj Imbau Masyarakat Cek Legalitas Travel Umrah, Jangan Tergiur Promosi Harga Murah
Kemenhaj Imbau Masyarakat Cek Legalitas Travel Umrah, Jangan Tergiur Promosi Harga Murah
Aktual
Kemenhaj: 90 Persen Jemaah Haji Indonesia Sudah Pulang, Petugas Tetap Siaga hingga Kloter Terakhir
Kemenhaj: 90 Persen Jemaah Haji Indonesia Sudah Pulang, Petugas Tetap Siaga hingga Kloter Terakhir
Aktual
Jelang Muktamar Ke-35 NU, KH Imam Jazuli dan Gus Muhaimin Bertemu Bahas Masa Depan NU
Jelang Muktamar Ke-35 NU, KH Imam Jazuli dan Gus Muhaimin Bertemu Bahas Masa Depan NU
Aktual
Para Ilmuwan Muslim yang Mengubah Dunia, dari Penemu Algoritma hingga Sains Modern
Para Ilmuwan Muslim yang Mengubah Dunia, dari Penemu Algoritma hingga Sains Modern
Aktual
Sakit atau Safar? Ini Cara Amalanmu Tetap Berpahala Sempurna
Sakit atau Safar? Ini Cara Amalanmu Tetap Berpahala Sempurna
Aktual
Mars Al-Irsyad: Manifesto Kesetaraan Islam dan Anti-Feodalisme
Mars Al-Irsyad: Manifesto Kesetaraan Islam dan Anti-Feodalisme
Aktual
Cak Imin: Santri Harus Punya Skill, Integritas, dan Taat Ilmu
Cak Imin: Santri Harus Punya Skill, Integritas, dan Taat Ilmu
Aktual
Kalender Juli 2026 Lengkap dengan Weton Jawa, Catat Jadwal Istiwa A'zham dan Awal Bulan Shafar
Kalender Juli 2026 Lengkap dengan Weton Jawa, Catat Jadwal Istiwa A'zham dan Awal Bulan Shafar
Aktual
Mulai 1 Juli, Jemaah Umrah dan Haji Khusus Wajib Berangkat Lewat Terminal 2F Soekarno-Hatta
Mulai 1 Juli, Jemaah Umrah dan Haji Khusus Wajib Berangkat Lewat Terminal 2F Soekarno-Hatta
Aktual
Bukan Sekadar Penutup Wajah, Burqa Koin Makkah Simpan Simbol Kekayaan dan Warisan Keluarga
Bukan Sekadar Penutup Wajah, Burqa Koin Makkah Simpan Simbol Kekayaan dan Warisan Keluarga
Aktual
Jelang Muktamar NU 2026, Rembug Warga NU Soroti Tata Kelola PBNU dan Beri Rekomendasi
Jelang Muktamar NU 2026, Rembug Warga NU Soroti Tata Kelola PBNU dan Beri Rekomendasi
Aktual
Gus Salam Maju Calon Ketum PBNU, Sebut Dapat Perintah dari KH Nurul Huda Djazuli
Gus Salam Maju Calon Ketum PBNU, Sebut Dapat Perintah dari KH Nurul Huda Djazuli
Aktual
Arab Saudi Resmi Pindah ke Cloud, Layanan Haji dan Umrah Makin Canggih
Arab Saudi Resmi Pindah ke Cloud, Layanan Haji dan Umrah Makin Canggih
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar