BANYUWANGI, KOMPAS.com - Di tengah riuhnya perdebatan modern tentang keadilan sosial dan kritik terhadap hak istimewa (privilege) berbasis dinasti atau kekayaan, sejarah pergerakan Islam di Indonesia sebenarnya telah memiliki rekam jejak yang sangat radikal dalam mendobrak sekat-sekat feodalisme.
Salah satu warisan pemikiran itu tersimpan rapi, namun sering kali luput dari amatan publik, di dalam bait-bait Mars Al-Irsyad Al-Islamiyyah.
Bagi masyarakat awam, lagu yang kerap dikumandangkan dalam pembukaan berbagai perhelatan resmi organisasi ini mungkin terdengar sebatas syair bahasa Arab yang estetis dan ritmis.
Namun, jika dibedah dengan kacamata sosiologis, mars ini melampaui batas-batas fungsi seremonialnya.
Baca juga: Kalender Juli 2026 Lengkap dengan Weton Jawa, Catat Jadwal Istiwa Azham dan Awal Bulan Shafar
Ia adalah sebuah manifesto perjuangan sosial yang mengajak kita mengenal kembali konsep Al-musawah, sebuah prinsip persamaan derajat manusia yang menjadi motor penggerak pembaruan Islam di Nusantara sejak awal abad ke-20.
Komitmen terhadap kesetaraan manusia ini termaktub secara jernih dalam salah satu bait penting Mars Al-Irsyad:
نَحْنُ حُمَاةُ السَّمْحَاءِ بِنَشْرِنَا رُوحَ التَّقْوَى
“Kita adalah para pengawal agama yang hanif dan penuh kelapangan, dengan menebarkan ruh ketakwaan.”
"Misi dakwah Islam yang diusung oleh Al-Irsyad sejak awal berdiri tidak hanya fokus mengoreksi kesalahan ibadah atau mengajak manusia shalat," kata Dai Lajnah Dakwah Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi, Ahsanul Falihin.
Lebih dari itu, menurutnya Al-Irsyad hadir untuk membangun tatanan masyarakat di atas fondasi ketakwaan, persaudaraan, keadilan, dan persamaan derajat antarmanusia, sehingga rahmat Islam dapat dirasakan oleh seluruh lapisan tanpa sekat sosial.
Ahsanul menjelaskan bahwa manifestasi penting dari ruh ketakwaan adalah tegaknya prinsip al-musawah. Di hadapan pencipta, stratifikasi sosial yang diciptakan oleh manusia, baik berdasarkan garis keturunan, suku, maupun akumulasi materi seketika runtuh.
Prinsip ini berakar kuat pada penegasan wahyu dalam Al-Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 13, bahwa yang paling mulia di sisi Allah adalah mereka yang paling bertakwa.
Melalui prinsip ini pula, sejarah mencatat bagaimana Islam menyatukan Bilal bin Rabah yang mantan budak Afrika, Salman Al-Farisi dari Persia, dan para bangsawan Quraisy seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq ke dalam satu saf yang setara.
Tidak ada hak istimewa keduniawian yang dibawa ke dalam ikatan akidah.
Semangat anti-feodalisme dan penegasan kesetaraan inilah yang dahulu diperjuangkan secara gigih oleh sang pendiri Al-Irsyad, Syaikh Ahmad Surkati.
Pada zamannya, beliau mendobrak adat-istiadat kaku yang mengagungkan sekelompok manusia hanya karena faktor nasab (keturunan) sementara merendahkan yang lain.
Dalam salah satu bait syairnya yang melegenda, Syaikh Ahmad Surkati menuliskan kritik tajam sekaligus reflektif:
لَا فَخْرَ بِالزِّيِّ وَلَا بِالنَّسَبِ • وَلَا بِجَمْعِ وَرِقٍ أَوْ ذَهَبِ
لَكِنَّهُ بِالْعِلْمِ وَالْآدَابِ • وَالدِّينِ مِصْبَاحُ أُولِي الْأَلْبَابِ
“Kemuliaan bukanlah karena pakaian atau keturunan, dan bukan pula karena menumpuk perak maupun emas. Akan tetapi, kemuliaan itu diraih dengan ilmu, adab, dan agama, yang menjadi pelita bagi orang-orang yang berakal.”
Melalui syair tersebut, Syaikh Surkati meredefinisi arti kemuliaan manusia modern.
Beliau mengingatkan umat melalui refleksi historis tentang kehancuran harta Qarun dan pembangkangan Kan'an putra Nabi Nuh, untuk membuktikan bahwa kekayaan dan nasab mulia tidak menjamin keselamatan tanpa iman.
وَإِنَّ أُمَّ النَّوْعِ حَوَّاءُ فَاعْلَمَا • وَآدَمُ أَبُو الْجَمِيعِ فَافْهَمَا
وَمَرْجِعُ الْكُلِّ إِلَى التُّرَابِ • وَمِنْهُ خَلْقُهُمْ بِلَا ارْتِيَابِ
“Ketahuilah bahwa Hawa adalah ibu seluruh umat manusia, dan Adam adalah ayah bagi mereka semua, maka pahamilah. Dan pada akhirnya seluruh manusia akan kembali ke tanah, dan darinya pula mereka diciptakan tanpa ragu.”
"Mengenal dan menghayati Mars Al-Irsyad hari ini menghadapkan kita pada sebuah cermin besar," tambah Ahsanul Falihin.
Di mana ketika ego sektoral, fanatisme kelompok, dan pamer kuasa marak terjadi di ruang publik, syair ini mengingatkan umat bahwa berasal dari asal usul yang sama, yaitu dari tanah, dan akan kembali menjadi tanah.
Baca juga: Bukan Sekadar Penutup Wajah, Burqa Koin Makkah Simpan Simbol Kekayaan dan Warisan Keluarga
Al-Irsyad melalui lembaga pendidikan dan dakwahnya sejak awal abad ke-20 konsisten mencetak manusia-manusia yang merdeka, yang menghargai sesama bukan karena atribut dunianya, melainkan karena ilmu, adab, dan ketakwaannya.
Mengumandangkan Mars Al-Irsyad di ruang-ruang pertemuan institusi seharusnya tidak lagi menjadi rutinitas yang kering.
Setiap baitnya adalah pengingat, bahwa tugas kemanusiaan kita belum usai: menegakkan keadilan, membumikan ilmu, dan memastikan bahwa tidak ada manusia yang merasa lebih tinggi dari manusia lainnya di muka bumi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang