BANYUWANGI, KOMPAS.com - Suasana di sekitar Masjid Nabawi siang itu barangkali sama teriknya dengan hari-hari biasa di Madinah.
Namun, bagi para sahabat Nabi, atmosfer batin mereka sedang diguncang oleh sebuah wahyu baru yang turun kepada Rasulullah SAW.
Sebuah ayat dari Surah Ali 'Imran ayat 92 bergema, membawa standar baru tentang apa itu esensi memberi:
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ
“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentangnya.” (QS Ali Imran: 92)
Bagi seorang Abu Thalhah al-Anshari, ayat ini bukan sekadar angin lalu.
Baca juga: Surah Asy-Syura Ayat 40: Antara Keadilan Qishash dan Indahnya Pintu Maaf
Beliau adalah salah satu orang kaya di Madinah, dan di antara sekian banyak asetnya, ada satu tempat yang paling memikat hatinya: sebuah kebun kurma bernama Bairuha’.
Kebun itu terletak tepat di depan Masjid Nabawi, memiliki air yang sangat segar, dan Rasulullah sendiri sering singgah ke sana untuk berteduh dan meminum airnya.
Tanpa menunda-nunda, Abu Thalhah langsung menemui Rasulullah dan berkata, "Wahai Rasulullah, harta yang paling aku cintai adalah Bairuha’. Dan sekarang, kebun itu aku sedekahkan untuk Allah. Aku mengharap kebaikan dan simpanan pahalanya di sisi Allah."
Kisah legendaris yang diabadikan dalam Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim ini menjadi potret nyata bagaimana generasi terbaik Islam merespons perintah langit.
Menanggapi hal ini, Dai Lajnah Dakwah PC Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi, Ustadz Ahsanul Falihin, memberikan ulasan mendalam mengenai makna psikologis di balik ibadah infak.
"Ayat yang mulia ini sebenarnya adalah seruan halus bagi kita untuk berkorban sekaligus melatih diri melepaskan keterikatan atau belenggu cinta terhadap harta. Makna inti dari ayat ini adalah mendahulukan cinta kepada Allah di atas segalanya," kata Ustadz Ahsanul Falihin.
Beliau melanjutkan bahwa manusia secara fitrah memiliki kecenderungan untuk menggenggam erat apa yang mereka sukai.
Namun, Islam menawarkan jalan mendaki menuju puncak keimanan yang disebut dengan al-birr (kebajikan yang sempurna).
"Seseorang tidak akan mencapai derajat al-birr, yaitu tingkat iman yang paling tinggi dan keridhaan di sisi Allah, kecuali jika ia berani bersedekah dan menafkahkan sebagian dari harta yang ia cintai—harta yang justru hatinya sedang terpaut erat kepadanya," tegasnya.
Seringkali, ketika mendengar kisah Abu Thalhah, muncul bisikan di dalam hati kita: “Bagaimana dengan kita yang belum memiliki harta sekelas kebun Bairuha’?”
Menjawab keraguan tersebut, Ustadz Ahsanul Falihin mengingatkan agar umat Muslim melihat bagian penutup dari ayat tersebut secara utuh.
Allah SWT berfirman: “Apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentangnya.”
"Cakupan infak ini luas dan tidak terbatas hanya pada harta yang bernilai fantastis atau paling berharga di mata manusia saja. Allah menutup ayat ini dengan kalimat tersebut justru untuk menenangkan hati setiap hamba-Nya," jelas Ustadz Ahsanul Falihin.
Menurutnya, penutup ayat ini adalah sebuah jaminan dan pelipur lara.
Baik infak itu berjumlah besar seperti kebun Abu Thalhah, atau hanya sebutir kurma dari seorang fakir, semuanya berada dalam radar pengetahuan Allah.
"Apa pun yang kita infakkan, baik sedikit maupun banyak, pasti diketahui oleh Allah dan tidak akan pernah disia-siakan. Semua akan diberi balasan pahala yang adil," pungkasnya.
Baca juga: Surah Al Anam Ayat 29, Ingatkan Tentang Kehidupan Setelah Kematian
Pada akhirnya, Ali 'Imran ayat 92 tidak sedang menguji seberapa tebal dompet kita, melainkan seberapa lapang hati kita untuk mengetuk pintu surga menggunakan sesuatu yang paling berat untuk kita lepaskan.
Kebun Bairuha' mungkin sudah tiada secara fisik hari ini, namun "sumur-sumur" keikhlasan baru harus terus digali di dalam hati setiap Muslim yang merindukan kebajikan sempurna.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang