Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Surah Ali Imran Ayat 92: Belajar Melepas Harta yang Dicintai

Kompas.com, 29 Juni 2026, 19:03 WIB
Fitri Anggiawati,
Farid Assifa

Tim Redaksi

BANYUWANGI, KOMPAS.com - Suasana di sekitar Masjid Nabawi siang itu barangkali sama teriknya dengan hari-hari biasa di Madinah.

Namun, bagi para sahabat Nabi, atmosfer batin mereka sedang diguncang oleh sebuah wahyu baru yang turun kepada Rasulullah SAW.

Sebuah ayat dari Surah Ali 'Imran ayat 92 bergema, membawa standar baru tentang apa itu esensi memberi:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ

“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentangnya.” (QS Ali Imran: 92)

Bagi seorang Abu Thalhah al-Anshari, ayat ini bukan sekadar angin lalu.

Baca juga: Surah Asy-Syura Ayat 40: Antara Keadilan Qishash dan Indahnya Pintu Maaf

Beliau adalah salah satu orang kaya di Madinah, dan di antara sekian banyak asetnya, ada satu tempat yang paling memikat hatinya: sebuah kebun kurma bernama Bairuha’.

Kebun itu terletak tepat di depan Masjid Nabawi, memiliki air yang sangat segar, dan Rasulullah sendiri sering singgah ke sana untuk berteduh dan meminum airnya.

Tanpa menunda-nunda, Abu Thalhah langsung menemui Rasulullah dan berkata, "Wahai Rasulullah, harta yang paling aku cintai adalah Bairuha’. Dan sekarang, kebun itu aku sedekahkan untuk Allah. Aku mengharap kebaikan dan simpanan pahalanya di sisi Allah."

Kisah legendaris yang diabadikan dalam Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim ini menjadi potret nyata bagaimana generasi terbaik Islam merespons perintah langit.

Menanggapi hal ini, Dai Lajnah Dakwah PC Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi, Ustadz Ahsanul Falihin, memberikan ulasan mendalam mengenai makna psikologis di balik ibadah infak.

"Ayat yang mulia ini sebenarnya adalah seruan halus bagi kita untuk berkorban sekaligus melatih diri melepaskan keterikatan atau belenggu cinta terhadap harta. Makna inti dari ayat ini adalah mendahulukan cinta kepada Allah di atas segalanya," kata Ustadz Ahsanul Falihin.

Beliau melanjutkan bahwa manusia secara fitrah memiliki kecenderungan untuk menggenggam erat apa yang mereka sukai.

Namun, Islam menawarkan jalan mendaki menuju puncak keimanan yang disebut dengan al-birr (kebajikan yang sempurna).

"Seseorang tidak akan mencapai derajat al-birr, yaitu tingkat iman yang paling tinggi dan keridhaan di sisi Allah, kecuali jika ia berani bersedekah dan menafkahkan sebagian dari harta yang ia cintai—harta yang justru hatinya sedang terpaut erat kepadanya," tegasnya.

Seringkali, ketika mendengar kisah Abu Thalhah, muncul bisikan di dalam hati kita: “Bagaimana dengan kita yang belum memiliki harta sekelas kebun Bairuha’?”

Menjawab keraguan tersebut, Ustadz Ahsanul Falihin mengingatkan agar umat Muslim melihat bagian penutup dari ayat tersebut secara utuh.

Allah SWT berfirman: “Apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentangnya.”

"Cakupan infak ini luas dan tidak terbatas hanya pada harta yang bernilai fantastis atau paling berharga di mata manusia saja. Allah menutup ayat ini dengan kalimat tersebut justru untuk menenangkan hati setiap hamba-Nya," jelas Ustadz Ahsanul Falihin.

Menurutnya, penutup ayat ini adalah sebuah jaminan dan pelipur lara.

Baik infak itu berjumlah besar seperti kebun Abu Thalhah, atau hanya sebutir kurma dari seorang fakir, semuanya berada dalam radar pengetahuan Allah.

"Apa pun yang kita infakkan, baik sedikit maupun banyak, pasti diketahui oleh Allah dan tidak akan pernah disia-siakan. Semua akan diberi balasan pahala yang adil," pungkasnya.

Baca juga: Surah Al Anam Ayat 29, Ingatkan Tentang Kehidupan Setelah Kematian

Pada akhirnya, Ali 'Imran ayat 92 tidak sedang menguji seberapa tebal dompet kita, melainkan seberapa lapang hati kita untuk mengetuk pintu surga menggunakan sesuatu yang paling berat untuk kita lepaskan.

Kebun Bairuha' mungkin sudah tiada secara fisik hari ini, namun "sumur-sumur" keikhlasan baru harus terus digali di dalam hati setiap Muslim yang merindukan kebajikan sempurna.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar