Editor
KOMPAS.com - Penyelenggaraan ibadah haji 2026 mulai dievaluasi sebagai bagian dari persiapan menghadapi musim haji berikutnya.
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Evaluasi Penyelenggaraan Ibadah Haji dengan melibatkan seluruh jajaran pusat dan daerah.
Forum tersebut diharapkan mampu mengidentifikasi berbagai kekurangan yang masih terjadi selama operasional haji tahun ini.
Baca juga: Komisi VIII DPR Ingatkan Potensi Kenaikan Biaya Haji 2027, Kemenhaj Diminta Tingkatkan Efisiensi
Hasil evaluasi akan menjadi dasar penyempurnaan pelayanan kepada jemaah pada penyelenggaraan haji mendatang.
Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf meminta Rakernas Evaluasi Penyelenggaraan Ibadah Haji 2026 menjadi forum evaluasi yang terbuka untuk mengidentifikasi berbagai kekurangan dalam penyelenggaraan haji.
Baca juga: Kemenhaj Minta PPIU Tertibkan Keberangkatan Umrah di Terminal 2F, Bagasi Harus Berlabel
Menurutnya, seluruh kekurangan harus dibahas secara terbuka agar dapat menjadi dasar perbaikan pelayanan, bukan untuk mencari pihak yang harus disalahkan.
“Rapat Kerja Nasional Evaluasi Penyelenggaraan Haji tahun 2026 ini tentu menjadi peluang, kesempatan untuk kita bisa menemukan berbagai kekurangan-kekurangan yang telah dan sedang kita laksanakan untuk menjadi bagian perbaikan pelayanan haji ke depan,” kata Menhaj Irfan saat membuka Rakernas Evaluasi Penyelenggaraan Ibadah Haji di Jakarta, Sabtu (4/7/2026)
Rakernas tersebut diikuti seluruh pejabat Kemenhaj pusat dan daerah serta dipusatkan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, hingga beberapa hari ke depan.
Menurut Irfan, pendekatan evaluasi yang terbuka akan membuat penyelenggaraan ibadah haji pada musim berikutnya lebih siap, terencana, dan optimal.
Menhaj Irfan mengatakan salah satu aspek yang masih membutuhkan perhatian serius adalah layanan kesehatan jemaah haji.
Ia mengungkapkan bahwa angka kematian jemaah pada penyelenggaraan haji 2026 berhasil ditekan sekitar 25 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski demikian, jumlah tersebut masih dinilai cukup tinggi sehingga perlu menjadi fokus perbaikan.
"Angka kematian 350 (orang) sekian masih besar. Karena itu, salah satu PR (Pekerjaan Rumah) nanti adalah terkait dengan istitha’ah kesehatan,” katanya.
Selain mengevaluasi berbagai kekurangan, Menhaj Irfan menilai penyelenggaraan haji tahun ini juga mencatat sejumlah kemajuan melalui berbagai inovasi pelayanan.
Beberapa pembaruan yang telah diterapkan antara lain alokasi kuota haji provinsi yang lebih berkeadilan, penurunan biaya haji sekitar Rp2 juta, serta distribusi Kartu Nusuk kepada jemaah sejak masih berada di Tanah Air.
Menurutnya, berbagai inovasi tersebut telah memberikan manfaat yang langsung dirasakan jemaah dan perlu terus disempurnakan melalui proses evaluasi.
Menhaj Irfan juga menyoroti pelayanan di Mina, Arab Saudi, yang masih menjadi salah satu titik lemah dalam operasional haji tahun ini.
Karena itu, ia meminta seluruh peserta Rakernas merumuskan langkah-langkah konkret untuk meningkatkan kualitas layanan di kawasan tersebut.
“Kita tahu Mina menjadi salah satu titik kelemahan kita dalam pelayanan kemarin. Apapun yang bisa kita lakukan untuk perbaikan Mina tentu harus kita rumuskan pada Rakernas evaluasi ini,” kata Menhaj.
Selain agenda evaluasi, Kemenhaj juga akan menggelar retret bagi jajaran kementerian sebagai bagian dari persiapan penyelenggaraan ibadah haji berikutnya.
Menurut Menhaj Irfan, kegiatan tersebut bertujuan memperkuat kualitas sumber daya manusia, baik dari sisi fisik maupun mental, sekaligus membangun kekompakan antarpersonel agar pelaksanaan ibadah haji pada musim mendatang dapat berjalan lebih baik.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang