Penulis
KOMPAS.com – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Zulfa Mustofa, mengajak para ulama, kiai, akademisi, dan kalangan pesantren untuk menghidupkan kembali tradisi menulis kitab sebagai warisan intelektual yang mampu menjaga kesinambungan ilmu dan membangun peradaban Islam.
Menurut KH Zulfa, kemajuan peradaban Islam sejak masa awal hingga berkembang di Nusantara tidak hanya ditopang oleh lahirnya ulama yang alim dan berakhlak, tetapi juga oleh karya-karya keilmuan yang mereka tinggalkan.
Kitab-kitab tersebut menjadi jembatan ilmu lintas generasi dan tetap memberi manfaat meski penulisnya telah wafat ratusan tahun.
"Tradisi ulama adalah tradisi ilmu. Dan tradisi ilmu tidak akan kokoh tanpa tradisi menulis. Karena itulah para ulama terdahulu tidak hanya mendidik murid, tetapi juga meninggalkan kitab sebagai warisan intelektual bagi umat," ujar KH Zulfa dalam keterangan tertulis, Rabu (9/7/2026).
Baca juga: Jelang Munas dan Konbes NU, Ulama dan Pengurus PCNU se-Jatim Bedah Kitab KH Zulfa Mustofa
Ia menilai pesantren yang selama ini dikenal sebagai pusat transmisi ilmu melalui kajian kitab kuning perlu mengambil peran lebih besar dengan melahirkan karya-karya baru yang mampu menjawab tantangan zaman.
Menurutnya, umat Islam kini menghadapi persoalan yang semakin kompleks, mulai dari perkembangan teknologi, perubahan sosial, hingga isu kebangsaan dan kemanusiaan.
Karena itu, diperlukan jawaban keilmuan dari ulama yang tidak hanya memahami tradisi, tetapi juga mampu membaca realitas kontemporer.
"Memang penting dan perlu, kita membaca, mengaji, dan mengkaji kitab para ulama terdahulu. Tetapi para ulama juga memiliki tanggung jawab moral untuk melahirkan karya yang dapat menjadi rujukan bagi generasi mendatang. Di situlah estafet keilmuan terus berjalan," katanya.
KH Zulfa menegaskan bahwa menulis kitab bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan bagian dari dakwah dan khidmat kepada umat.
Melalui karya tulis, ilmu dapat terus diwariskan, dipelajari, dikembangkan, serta menjangkau masyarakat lintas ruang dan waktu.
Ia juga mengingatkan bahwa sejarah mencatat para ulama besar dikenang bukan hanya karena keluasan ilmunya atau banyaknya murid, tetapi juga karena karya-karya yang mereka wariskan.
"Ceramah dapat menggerakkan hati pada masanya. Tetapi kitab menjaga ilmu tetap hidup sepanjang masa. Karena itu, setiap ulama perlu memiliki semangat untuk meninggalkan karya sebagai bagian dari amal jariyah keilmuan," terangnya.
Baca juga: Jelang Muktamar NU 2026, Gus Rijal Klaim Mayoritas PWNU Ingin Perubahan Total Kepengurusan PBNU
KH Zulfa berharap budaya membaca dan menulis dapat tumbuh kembali secara seimbang di lingkungan Nahdlatul Ulama, baik di pesantren, perguruan tinggi, maupun lembaga bahtsul masail. Dengan demikian, khazanah keilmuan Islam Indonesia terus berkembang dan memberikan kontribusi bagi peradaban dunia.
Seruan tersebut sekaligus menjadi latar belakang peluncuran kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa karya KH Zulfa Mustofa yang akan digelar pada Jumat, 10 Juli 2026, di Aula Sakinah Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat.
Selain diluncurkan, kitab tersebut juga akan dibedah sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali tradisi intelektual ulama melalui karya-karya yang berlandaskan sanad keilmuan, relevan dengan tantangan zaman, dan memperkaya literasi Islam di Indonesia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang