Editor
KOMPAS.com - Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Ditjen Bimas Islam) Kementerian Agama memanfaatkan fenomena Rashdul Qiblat atau saat matahari tepat berada di atas Ka'bah untuk menggelar Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026.
Program ini mendapat sambutan luas dari masyarakat dengan ratusan ribu titik verifikasi arah kiblat yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Melalui gerakan tersebut, Kemenag tidak hanya mengajak masyarakat mengecek akurasi arah kiblat, tetapi juga meningkatkan pemahaman tentang ilmu falak.
Baca juga: Cara Memperbarui Arah Kiblat Secara Mandiri, Cukup Gunakan Tongkat
Fenomena Rashdul Qiblat tahun ini berlangsung pada 15–16 Juli 2026 dan dimanfaatkan sebagai metode ilmiah untuk menentukan arah Ka'bah.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag, Arsad Hidayat, mengungkapkan Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026 diikuti 725.669 titik lokasi yang telah didaftarkan dari berbagai daerah.
Baca juga: Rashdul Qiblat 15-16 Juli 2026, Ini Waktu dan Cara Cek Arah Kiblat Secara Akurat
“Kami mencatat ada 725.669 titik lokasi yang didaftarkan ikut dalam Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026,” terang Arsad Hidayat di Jakarta, Jumat (17/7/2026).
Ia menjelaskan, sebaran titik verifikasi arah kiblat tersebut meliputi 67.867 masjid, 576.309 rumah, 49.680 musala, 233 restoran, 114 hotel, serta 31.466 lokasi lainnya.
“Sebaran titik lokasi verifikasi arah kiblat ini terdiri atas: 67.867 masjid, 576.309 rumah, 49.680 musala, 233 restoran, 114 hotel, dan 31.466 lokasi lainnya. Ini belum menghitung jika dalam satu titik itu virifikasi dilakukan di tiga atau lebih lokasi,” sambungnya.
Pusat pemantauan Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026 dipusatkan di Unit Percetakan Al-Qur'an (UPQ), Ciawi, Bogor.
Sebelum pelaksanaan verifikasi arah kiblat, Kemenag juga menggelar International Seminar on Islamic Astronomy yang menghadirkan pakar astronomi dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Fenomena matahari tepat di atas Ka'bah merupakan peristiwa astronomi yang terjadi dua kali dalam setahun.
Pada saat itu, posisi matahari berada tepat di titik zenit Ka'bah sehingga bayangan benda yang berdiri tegak lurus dapat digunakan sebagai acuan untuk menentukan arah kiblat dengan tingkat akurasi yang tinggi.
Pada 2026, fenomena tersebut berlangsung pada 15–16 Juli pukul 16.27 WIB atau 17.27 WITA.
Masyarakat cukup menyiapkan tongkat atau benda yang dipasang tegak lurus di tempat terbuka, kemudian mengamati arah bayangan yang terbentuk.
Garis yang ditarik dari ujung bayangan menuju pangkal tongkat menunjukkan arah Ka'bah sehingga dapat digunakan untuk memverifikasi arah kiblat.
“Alhamdulillah Gerakan Nasional Rashdul Kiblat ini disambut antusias dengan keikutsertaan ratusan ribu pendaftar yang ingin mempraktikkan langsung metode ini,” tegasnya.
Selain memverifikasi arah kiblat, Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026 juga bertujuan meningkatkan literasi masyarakat mengenai ilmu falak sebagai salah satu instrumen penting dalam pelayanan keagamaan.
Program tersebut diharapkan menjadi sarana edukasi publik mengenai pentingnya ilmu falak sekaligus memperkuat akurasi arah kiblat di masjid, musala, rumah, maupun fasilitas umum lainnya.
Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026 juga mendapat respons positif dari masyarakat.
Sekretaris PCNU Kota Semarang, Jumarno, menilai program tersebut mudah diterapkan dan memberikan manfaat bagi umat, khususnya dalam proses verifikasi arah kiblat.
“Terima kasih atas program gerakan Indonesia Berkiblat yang diprakarsai oleh Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah,” ucapnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang