Editor
KOMPAS.com - Membaca Al-Quran merupakan ibadah yang tidak hanya menuntut kelancaran melafalkan ayat-ayat suci, tetapi juga ketepatan dalam cara membacanya.
Karena itu, setiap Muslim dianjurkan membaca Al-Quran dengan menerapkan ilmu tajwid dan tartil sebagaimana tuntunan syariat.
Keduanya memiliki peran penting dalam menjaga keaslian lafaz dan makna Al-Quran.
Baca juga: 7 Surah dan Ayat Al-Quran yang Dianjurkan untuk Dihafal Sebelum Ajal Menjemput
Tidak hanya memperindah bacaan, berikut penjelasan mengenai pentingnya tajwid dan tartil ketika Membaca Al-Quran.
Tajwid adalah ilmu yang mengatur tata cara melafalkan setiap huruf hijaiyah sesuai makhraj dan sifatnya.
Sementara itu, tartil berarti membaca Al-Quran secara perlahan, tenang, jelas, dan penuh penghayatan.
Baca juga: 5 Surat Terpendek dalam Al-Quran yang Mudah Dihafal dan Sering Dibaca Saat Shalat
Dengan menerapkan tajwid dan tartil, bacaan Al-Quran tidak hanya terdengar indah, tetapi juga sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. serta terhindar dari kesalahan yang dapat mengubah makna ayat.
Al-Quran merupakan kalam Allah Swt. yang menjadi petunjuk bagi umat manusia. Karena kemuliaannya, membaca Al-Quran harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan mengikuti kaidah yang telah ditetapkan.
Allah SWT berfirman:
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
Artinya: "Dan bacalah Al-Quran itu dengan perlahan-lahan (tartil)." (QS. Al-Muzzammil: 4).
Ayat tersebut menegaskan bahwa membaca Al-Quran tidak boleh dilakukan secara tergesa-gesa atau tanpa memperhatikan ketentuan bacaannya.
Ilmu tajwid berfungsi menjaga bacaan dari kesalahan yang dapat mengubah makna ayat. Sementara itu, tartil membantu pembaca menghayati setiap ayat sehingga pesan Al-Quran dapat lebih mudah dipahami dan direnungkan.
Pentingnya menerapkan ilmu tajwid juga dijelaskan oleh ulama qira'at terkemuka, Syekh Al-Jazari, dalam Manzhumah al-Jazariyyah:
وَالْأَخْذُ بِالتَّجْوِيدِ حِتْمٌ لَازِمُ # مَنْ لَمْ يُصَحِّحِ الْقُرآنَ آثِمُ
"Mengamalkan tajwid itu hukumnya wajib. Barang siapa tidak membenarkan bacaannya, maka ia berdosa."
لِأَنَّهُ بِهِ الإِلَهُ أَنْزَلا # وَهَكَذَا مِنْهُ إِلَيْنَا وَصَلَا
Artinya: "Karena Allah menurunkan Al-Quran beserta cara membacanya, dan seperti itulah sampai kepada kita."
Menurut penjelasan tersebut, Al-Quran tidak hanya diturunkan dalam bentuk lafaz, tetapi juga beserta tata cara membacanya.
Hal itu meliputi pelafalan huruf sesuai makhraj (makharijul huruf), penerapan hukum tajwid seperti pada nun dan mim sukun, kaidah panjang-pendek bacaan (mad), hingga aturan berhenti dan memulai bacaan (waqaf wa ibtida').
Syekh Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Yusuf bin Al-Jazari menjelaskan bahwa Al-Quran diturunkan sekaligus dengan cara membacanya sebagai bentuk mukjizat dan untuk menjaga kandungan maknanya.
Karena itu, mempelajari ilmu tajwid menjadi bagian penting agar seorang Muslim mampu membaca Al-Quran dengan benar sesuai tuntunan Rasulullah SAW.
Namun, kemampuan tersebut tidak dapat diperoleh hanya dengan belajar secara mandiri.
Diperlukan proses belajar yang berkesinambungan, ketekunan, serta bimbingan dari guru yang kompeten agar teori tajwid dapat diterapkan dengan benar dalam bacaan sehari-hari.
Dengan memahami tajwid dan membiasakan membaca Al-Quran secara tartil, seorang Muslim dapat menjaga keaslian bacaan sekaligus menghayati makna ayat-ayat yang dibacanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang