Editor
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى:
مَآ أَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِيٓ أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Ketakwaan bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi keyakinan yang menghujam dalam hati dan tercermin dalam amal saleh sehari-hari.
Orang yang bertakwa akan selalu berusaha melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ia yakin bahwa seluruh perjalanan hidupnya berada dalam genggaman Allah SWT. Tidak ada satu pun kejadian di alam semesta ini yang terjadi secara kebetulan. Semua telah ditetapkan oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Kita memasuki bulan Safar, bulan kedua dalam kalender Hijriah. Sayangnya, hingga hari ini masih berkembang anggapan di tengah masyarakat bahwa Safar adalah bulan sial, bulan yang penuh bala dan kesialan.
Baca juga: Khutbah Jumat 24 Juli 2026: Amalan Rutin untuk Lebih Dekat dengan Rasulullah SAW
Akibat keyakinan tersebut, sebagian orang merasa takut melaksanakan akad nikah, menunda membangun rumah, enggan membuka usaha, bahkan mengurungkan perjalanan penting hanya karena bertepatan dengan bulan Safar.
Padahal, apabila keyakinan seperti ini dibiarkan, maka sedikit demi sedikit ia akan menggerogoti akidah seorang muslim. Sebab seseorang akan lebih takut kepada pergantian bulan daripada kepada Allah SWT.
Bukankah ini sangat berbahaya?
Islam datang justru untuk membebaskan manusia dari belenggu takhayul, khurafat, dan mitos yang tidak memiliki dasar.
Kepercayaan bahwa Safar adalah bulan pembawa sial merupakan warisan masyarakat jahiliyah sebelum datangnya Islam.
Dalam Islam, mempercayai adanya kesialan pada waktu, tempat, atau makhluk tertentu dikenal dengan istilah tathayyur.
Tathayyur bukan sekadar kebiasaan buruk, tetapi merupakan penyakit akidah karena menjadikan selain Allah sebagai penentu nasib.
Padahal seluruh takdir hanya berada di tangan Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
Artinya,
"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi maupun pada dirimu melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah." (QS. Al-Hadid: 22)
Ayat ini mengajarkan bahwa segala sesuatu telah ditetapkan Allah. Musibah bukan karena bulan Safar. Rezeki bukan karena hari tertentu. Kesuksesan bukan karena tanggal yang dianggap baik. Semuanya adalah kehendak Allah SWT.
Rasulullah SAW juga telah menghancurkan seluruh mitos jahiliyah mengenai kesialan waktu melalui sabdanya:
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ
Artinya,
"Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada tathayyur (anggapan sial), tidak ada burung hantu pembawa sial, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini sangat jelas.
Rasulullah SAW menolak keyakinan bahwa Safar membawa kesialan.
Beliau ingin mengajarkan kepada umatnya bahwa hati seorang mukmin harus terbebas dari rasa takut kepada selain Allah.
Karena itu, seorang muslim tidak boleh membatalkan pernikahan, menunda usaha, mengurungkan perjalanan, ataupun menghentikan aktivitas kebaikan hanya karena memasuki bulan Safar.
Islam adalah agama yang membangun optimisme.
Setiap hari adalah kesempatan untuk memperbanyak amal saleh.
Setiap bulan adalah ladang pahala.
Tidak ada bulan yang membawa kesialan.
Yang mendatangkan kesialan justru adalah dosa, kemaksiatan, serta jauhnya manusia dari petunjuk Allah.
Ketika seseorang meninggalkan salat, memakan harta haram, memutus silaturahim, berbuat zalim, dan enggan bertaubat, di situlah letak kesialan yang sesungguhnya.
Sebaliknya, ketika seorang hamba bertakwa, memperbanyak istighfar, bersedekah, menjaga amanah, dan bertawakal kepada Allah, maka seluruh waktunya akan dipenuhi keberkahan.
Karena itu janganlah kita takut kepada bulan.
Takutlah apabila hati kita jauh dari Allah.
Jangan takut kepada tanggal.
Takutlah apabila amal kita kosong dari keikhlasan.
Jangan takut kepada mitos.
Takutlah jika iman kita melemah sehingga mudah mempercayai sesuatu yang tidak pernah diajarkan Rasulullah SAW.
Baca juga: Khutbah Jumat 24 Juli 2026: Bulan Safar, Bulan Sial bagi yang Maksiat, Berkah bagi yang Taat
Allah SWT kembali mengingatkan:
وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ ۚ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya,
"Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya." (QS. Yunus: 107)
Inilah akidah seorang muslim.
Segala sesuatu kembali kepada Allah.
Apabila memperoleh nikmat, bersyukurlah.
Apabila mendapatkan musibah, bersabarlah.
Apabila menghadapi kesulitan, berdoalah.
Apabila diberi kemudahan, jangan sombong.
Jangan pernah menggantungkan harapan kepada benda, hari, tanggal, atau bulan tertentu.
Gantungkan seluruh hidup hanya kepada Allah SWT.
Semoga Allah menjaga akidah kita, menguatkan keimanan kita, menjauhkan kita dari syirik, khurafat, dan takhayul, serta menjadikan kita hamba-hamba yang hanya bertawakal kepada-Nya.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ.
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ:
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
Marilah kita menutup khutbah hari ini dengan memperbarui keyakinan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang mampu mendatangkan manfaat maupun mudarat tanpa izin Allah SWT.
Bulan Safar hanyalah salah satu dari dua belas bulan yang Allah ciptakan. Ia tidak membawa kesialan dan tidak pula membawa keberuntungan dengan sendirinya. Yang menentukan seluruh perjalanan hidup kita hanyalah Allah Rabbul 'Alamin.
Karena itu, janganlah kita membiarkan mitos menguasai hati. Jangan sampai kita lebih percaya kepada cerita turun-temurun daripada kepada Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah SAW.
Seorang mukmin sejati adalah orang yang melangkah dengan penuh optimisme. Ia bekerja dengan sungguh-sungguh, berikhtiar secara maksimal, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan penuh tawakal.
Jika Allah memberikan ujian, ia bersabar.
Jika Allah melimpahkan nikmat, ia bersyukur.
Jika Allah membuka pintu rezeki, ia semakin rendah hati.
Dan jika Allah menunda harapannya, ia tetap berbaik sangka kepada-Nya.
Inilah akhlak orang-orang yang bertakwa.
Di tengah derasnya arus informasi saat ini, kita harus semakin cerdas dalam menjaga akidah. Jangan mudah mempercayai ramalan, primbon, hitungan hari, mitos bulan tertentu, ataupun berbagai bentuk takhayul yang tidak memiliki dasar dalam syariat.
Sebaliknya, marilah kita memperbanyak amal saleh pada setiap waktu. Jadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk membaca Al-Qur'an, memperbanyak istighfar, bersedekah, menyambung silaturahmi, menolong sesama, dan meningkatkan kualitas ibadah.
Karena sesungguhnya keberkahan waktu tidak ditentukan oleh nama bulannya, tetapi oleh amal yang kita isi di dalamnya.
Baca juga: Khutbah Jumat 24 Juli 2026: Benarkah Penderitaan Membuat Kita Lebih Dekat dengan Allah SWT?
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang memiliki akidah yang lurus, hati yang bersih, serta keyakinan yang kokoh hanya kepada-Nya.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَاجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَاءً رَخَاءً وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ،
إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Disusun berdasarkan materi karya KH Misbahul Munir, S.Ag., M.M., Sekretaris Umum MUI Kota Tangerang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang