BANYUWANGI, KOMPAS.com - Dalam menjalani kehidupan yang serba cepat dan dinamis, banyak orang mengukur kasih sayang Allah semata dari pemenuhan materi, kelancaran rezeki, karier yang melonjak, atau kesehatan yang prima.
Padahal, ada satu indikator utama yang sering kali terlewatkan: sejauh mana seorang hamba diberi pemahaman terhadap agamanya.
Rasulullah SAW pernah menegaskan hal ini dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhuma:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
"Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, maka Allah akan pahamkan ia dalam urusan agama." (HR Al-Bukhari & Muslim)
Baca juga: Khutbah Jumat 31 Juli 2026: Memaknai Musibah Kekeringan dengan Bermuhasabah
Hadis ini menegaskan bahwa kebaikan paling agung yang bisa diraih seseorang adalah ilmu syar'i. Ilmu agama bukan sekadar pengetahuan akademis, melainkan warisan para Nabi (miratsul anbiyaa’) yang tidak bisa dinilai dengan materi duniawi.
Lafadz yufaqqihhu dalam hadis tersebut menyimpan makna yang mendalam.
Kata ini berakar dari tafaqquh, yang berarti pemahaman mendalam yang menembus hingga ke relung hati dan membuahkan amal nyata.
Banyak orang yang mengetahui hukum-hukum agama atau menghafal dalil, namun sedikit yang benar-benar memahaminya secara jujur dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dai Lajnah Dakwah PC Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi, Ustadz Ahsanul Falihin menyampaikan bahwa hidayah pemahaman merupakan taufiq murni dari Allah Ta'ala.
"Menempuh jalan belajar dan mendatangi majelis ilmu adalah kewajiban kita sebagai hamba. Namun, terbukanya mata hati hingga kita paham dan tergerak untuk beramal adalah taufiq serta hak prerogatif Allah semata. Ketika seseorang dimudahkan langkahnya untuk menuntut ilmu agama, itulah sinyal kuat bahwa Allah sedang menginginkan kebaikan bagi dirinya," ujarnya.
Penggunaan kata khairan (kebaikan) dalam bentuk nakirah (umum) pada hadis di atas mengandung dua makna penting: mencakup seluruh kebaikan dunia hingga akhirat, sekaligus menunjukkan betapa mulianya kedudukan ilmu agama di sisi Allah.
Dalam lanjutan hadis tersebut, Rasulullah SAW juga bersabda:
وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللَّهُ يُعْطِي وَلَنْ تَزَالَ هَذِهِ الْأُمَّةُ قَائِمَةً عَلَى أَمْرِ اللَّهِ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ
"Sesungguhnya aku hanyalah pembagi, dan Allah-lah yang memberi. Dan senantiasa akan ada segolongan dari umat ini yang tegak di atas perintah Allah. Tidak akan membahayakan mereka orang yang menyelisihinya, hingga datanglah ketetapan Allah." (HR Al-Bukhari)
Baca juga: Bolehkah Menambah Doa dalam Rukuk, Sujud, dan Tahiyat Shalat? Ini Penjelasan Hukumnya
Jika hari ini kita masih diberikan rasa haus akan ilmu, kemudahan untuk menghadiri majelis, dan kelembutan hati untuk menerima nasihat agama, maka itulah bukti nyata bahwa Allah sedang menyapa hamba-Nya dengan kasih sayang dan membukakan pintu kebaikan yang seluas-luasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang