Editor
BANDUNG, KOMPAS.com - Persoalan lingkungan bukan hanya perkara sampah, pencemaran, atau kerusakan alam. Dalam Islam, menjaga lingkungan juga berkaitan dengan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Pandangan tersebut menjadi salah satu dasar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung mengembangkan Ecotheopedagogy, pendekatan pendidikan Islam yang memadukan nilai keagamaan, pendidikan, dan kesadaran lingkungan.
Melalui pendekatan tersebut, peserta didik tidak hanya diajak mengetahui persoalan lingkungan, tetapi juga memahami, merefleksikan, mencari solusi, hingga membiasakan diri menjaga alam dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: 7 Ide Pembungkus Daging Kurban Selain Kantong Plastik, Pilihan yang Lebih Ramah Lingkungan
Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama Muhammad Ali Ramdhani mengatakan, pendidikan memiliki peran dalam membentuk cara manusia memandang dan memperlakukan alam.
Menurutnya, pendidikan ekologi perlu meninggalkan cara pandang antroposentris yang menempatkan manusia sebagai penguasa alam.
Sebaliknya, peserta didik perlu memahami kedudukan manusia sebagai khalifah yang memiliki tanggung jawab merawat lingkungan.
“Ecotheopedagogy harus membawa peserta didik pada pembelajaran yang mendalam. Persoalan lingkungan tidak cukup hanya diketahui, tetapi harus dipahami, direfleksikan, dan dicari solusinya,” kata Ramdhani dikutip dari laman uinsgd.ac.id, Minggu (9/8/2026).
Baca juga: Mudik Lebaran 2026 Jangan Tinggalkan Sampah! MUI Ingatkan Bahaya Dampak Lingkungan
Menurut Ramdhani, membangun kesadaran ekologis tidak harus dimulai dari persoalan lingkungan dalam skala besar.
Tanggung jawab terhadap alam justru dapat ditanamkan dari lingkungan terdekat, seperti rumah, RT/RW, sekolah, dan madrasah.
Berbagai persoalan yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi bahan pembelajaran untuk membangun rasa ingin tahu sekaligus kesadaran peserta didik terhadap lingkungan.
Dengan demikian, pendidikan lingkungan tidak berhenti sebagai teori yang dipelajari di kelas, tetapi berkembang menjadi kebiasaan.
Ramdhani juga meminta buku Ecotheopedagogy yang tengah disusun merespons tiga nilai pendidikan yang dikembangkan Kementerian Agama, yakni maslahat, rukun, dan cerdas.
Materinya juga diharapkan menerapkan pendekatan deep learning sehingga peserta didik tidak hanya mengetahui persoalan lingkungan, tetapi mampu memahami hingga mencari penyelesaiannya.
Dekan FTK UIN Sunan Gunung Djati Bandung Fakry Hamdani mengatakan, pengembangan Ecotheopedagogy berangkat dari keprihatinan terhadap krisis ekologis sekaligus masih lemahnya kesadaran lingkungan dalam pendidikan.
Menurutnya, kerusakan lingkungan tidak bisa hanya dilihat sebagai persoalan teknis.
“Ini sebagai respons akademik dan spiritual atas krisis ekologis yang semakin mengancam keberlanjutan kehidupan di bumi. Krisis ini bukan sekadar masalah teknis atau kebijakan, melainkan cerminan krisis kesadaran, krisis moral, dan krisis spiritual yang membutuhkan jawaban mendasar dari seluruh dimensi kehidupan, termasuk dalam pendidikan,” jelasnya.
Islam, lanjut Fakry, memiliki khazanah yang membahas hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan. Nilai tersebut dinilai dapat menjadi fondasi pendidikan yang mendorong perubahan perilaku terhadap lingkungan.
“Ini lahir dari keprihatinan mendalam terhadap kesenjangan tersebut, dan dari keyakinan bahwa Islam memiliki khazanah yang kaya tentang hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan yang dapat menjadi fondasi bagi pendidikan yang transformatif,” ujarnya.
Ecotheopedagogy kemudian dirancang dengan memadukan ekoteologi Islam, pedagogi kritis, dan kesadaran lingkungan.
Pendekatan tersebut akan dituangkan dalam buku Ecotheopedagogy: Menggagas Pendidikan Islam yang Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan.
Buku terdiri dari 14 bab, mulai dari landasan filosofis dan teologis, pilar Ecotheopedagogy, pengembangan kurikulum dan desain pembelajaran, hingga praktik pembelajaran di kelas dan kampus.
Buku tersebut menyasar dosen dan mahasiswa perguruan tinggi Islam serta guru madrasah dan Pendidikan Agama Islam (PAI).
Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung Rosihon Anwar mengatakan, pengembangan Ecotheopedagogy merupakan salah satu respons terhadap kebijakan Menteri Agama mengenai ekoteologi.
Menurut Rosihon, buku yang dikembangkan FTK UIN Sunan Gunung Djati Bandung berpeluang digunakan lebih luas apabila telah teruji dari sisi substansi maupun metode pembelajaran.
“Jika buku Ecotheopedagogy FTK UIN Sunan Gunung Djati Bandung isinya lengkap dan teruji secara substansi serta didaktik-metodik, buku ini bisa menjadi pilot project untuk diterapkan di seluruh FTK se-Indonesia,” ujar Rosihon.
Fakry berharap buku tersebut nantinya dapat menjadi rujukan dalam pengembangan kurikulum, pembelajaran, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).
“Harapannya, ini dapat menjadi rujukan utama bagi pengembangan kurikulum, pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di PTKI yang berorientasi pada keberlanjutan dan keadilan ekologis,” katanya.
Melalui pendekatan ini, menjaga lingkungan diharapkan tidak lagi dipahami sekadar sebagai aktivitas sosial, tetapi juga menjadi bagian dari pengamalan nilai Islam dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang