Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengenal Ecotheopedagogy, Cara Pendidikan Islam Menjaga Alam

Kompas.com, 9 Agustus 2026, 11:43 WIB
Reni Susanti

Editor

BANDUNG, KOMPAS.com - Persoalan lingkungan bukan hanya perkara sampah, pencemaran, atau kerusakan alam. Dalam Islam, menjaga lingkungan juga berkaitan dengan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Pandangan tersebut menjadi salah satu dasar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung mengembangkan Ecotheopedagogy, pendekatan pendidikan Islam yang memadukan nilai keagamaan, pendidikan, dan kesadaran lingkungan.

Melalui pendekatan tersebut, peserta didik tidak hanya diajak mengetahui persoalan lingkungan, tetapi juga memahami, merefleksikan, mencari solusi, hingga membiasakan diri menjaga alam dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: 7 Ide Pembungkus Daging Kurban Selain Kantong Plastik, Pilihan yang Lebih Ramah Lingkungan

Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama Muhammad Ali Ramdhani mengatakan, pendidikan memiliki peran dalam membentuk cara manusia memandang dan memperlakukan alam.

Menurutnya, pendidikan ekologi perlu meninggalkan cara pandang antroposentris yang menempatkan manusia sebagai penguasa alam.

Sebaliknya, peserta didik perlu memahami kedudukan manusia sebagai khalifah yang memiliki tanggung jawab merawat lingkungan.

“Ecotheopedagogy harus membawa peserta didik pada pembelajaran yang mendalam. Persoalan lingkungan tidak cukup hanya diketahui, tetapi harus dipahami, direfleksikan, dan dicari solusinya,” kata Ramdhani dikutip dari laman uinsgd.ac.id, Minggu (9/8/2026).

Baca juga: Mudik Lebaran 2026 Jangan Tinggalkan Sampah! MUI Ingatkan Bahaya Dampak Lingkungan

Menjaga Alam Dimulai dari Rumah

Menurut Ramdhani, membangun kesadaran ekologis tidak harus dimulai dari persoalan lingkungan dalam skala besar.

Tanggung jawab terhadap alam justru dapat ditanamkan dari lingkungan terdekat, seperti rumah, RT/RW, sekolah, dan madrasah.

Berbagai persoalan yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi bahan pembelajaran untuk membangun rasa ingin tahu sekaligus kesadaran peserta didik terhadap lingkungan.

Dengan demikian, pendidikan lingkungan tidak berhenti sebagai teori yang dipelajari di kelas, tetapi berkembang menjadi kebiasaan.

Ramdhani juga meminta buku Ecotheopedagogy yang tengah disusun merespons tiga nilai pendidikan yang dikembangkan Kementerian Agama, yakni maslahat, rukun, dan cerdas.

Materinya juga diharapkan menerapkan pendekatan deep learning sehingga peserta didik tidak hanya mengetahui persoalan lingkungan, tetapi mampu memahami hingga mencari penyelesaiannya.

Krisis Lingkungan Juga Krisis Moral dan Spiritual

Dekan FTK UIN Sunan Gunung Djati Bandung Fakry Hamdani mengatakan, pengembangan Ecotheopedagogy berangkat dari keprihatinan terhadap krisis ekologis sekaligus masih lemahnya kesadaran lingkungan dalam pendidikan.

Menurutnya, kerusakan lingkungan tidak bisa hanya dilihat sebagai persoalan teknis.

“Ini sebagai respons akademik dan spiritual atas krisis ekologis yang semakin mengancam keberlanjutan kehidupan di bumi. Krisis ini bukan sekadar masalah teknis atau kebijakan, melainkan cerminan krisis kesadaran, krisis moral, dan krisis spiritual yang membutuhkan jawaban mendasar dari seluruh dimensi kehidupan, termasuk dalam pendidikan,” jelasnya.

Islam, lanjut Fakry, memiliki khazanah yang membahas hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan. Nilai tersebut dinilai dapat menjadi fondasi pendidikan yang mendorong perubahan perilaku terhadap lingkungan.

“Ini lahir dari keprihatinan mendalam terhadap kesenjangan tersebut, dan dari keyakinan bahwa Islam memiliki khazanah yang kaya tentang hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan yang dapat menjadi fondasi bagi pendidikan yang transformatif,” ujarnya.

Ecotheopedagogy kemudian dirancang dengan memadukan ekoteologi Islam, pedagogi kritis, dan kesadaran lingkungan.

Pendekatan tersebut akan dituangkan dalam buku Ecotheopedagogy: Menggagas Pendidikan Islam yang Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan.

Buku terdiri dari 14 bab, mulai dari landasan filosofis dan teologis, pilar Ecotheopedagogy, pengembangan kurikulum dan desain pembelajaran, hingga praktik pembelajaran di kelas dan kampus.

Buku tersebut menyasar dosen dan mahasiswa perguruan tinggi Islam serta guru madrasah dan Pendidikan Agama Islam (PAI).

Berpeluang Diterapkan di FTK Se-Indonesia

Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung Rosihon Anwar mengatakan, pengembangan Ecotheopedagogy merupakan salah satu respons terhadap kebijakan Menteri Agama mengenai ekoteologi.

Menurut Rosihon, buku yang dikembangkan FTK UIN Sunan Gunung Djati Bandung berpeluang digunakan lebih luas apabila telah teruji dari sisi substansi maupun metode pembelajaran.

“Jika buku Ecotheopedagogy FTK UIN Sunan Gunung Djati Bandung isinya lengkap dan teruji secara substansi serta didaktik-metodik, buku ini bisa menjadi pilot project untuk diterapkan di seluruh FTK se-Indonesia,” ujar Rosihon.

Fakry berharap buku tersebut nantinya dapat menjadi rujukan dalam pengembangan kurikulum, pembelajaran, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).

“Harapannya, ini dapat menjadi rujukan utama bagi pengembangan kurikulum, pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di PTKI yang berorientasi pada keberlanjutan dan keadilan ekologis,” katanya.

Melalui pendekatan ini, menjaga lingkungan diharapkan tidak lagi dipahami sekadar sebagai aktivitas sosial, tetapi juga menjadi bagian dari pengamalan nilai Islam dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Assalamualaikum Artinya Apa? Ini Tulisan, Jawaban, dan Adabnya dalam Islam
Assalamualaikum Artinya Apa? Ini Tulisan, Jawaban, dan Adabnya dalam Islam
Doa dan Niat
Mengenal Ecotheopedagogy, Cara Pendidikan Islam Menjaga Alam
Mengenal Ecotheopedagogy, Cara Pendidikan Islam Menjaga Alam
Aktual
Tahajud, PBB, hingga Api Unggun: Cara MAN 2 Bandung Bentuk Karakter Murid Baru
Tahajud, PBB, hingga Api Unggun: Cara MAN 2 Bandung Bentuk Karakter Murid Baru
Aktual
Astaghfirullah Artinya Apa? Ketahui Makna, Keutamaan, dan Tulisan Arabnya
Astaghfirullah Artinya Apa? Ketahui Makna, Keutamaan, dan Tulisan Arabnya
Doa dan Niat
Vegetarian Makin Populer di Arab Saudi, Pola Makan Warga Mulai Bergeser
Vegetarian Makin Populer di Arab Saudi, Pola Makan Warga Mulai Bergeser
Aktual
Jadwal Pengajuan BOS Madrasah dan BOP RA Tahap II 2026, Total Rp 4,1 Triliun
Jadwal Pengajuan BOS Madrasah dan BOP RA Tahap II 2026, Total Rp 4,1 Triliun
Aktual
Al-Qanun Al-Asasi Kembali Disosialisasikan, Gus Kikin: Ini Ruh NU
Al-Qanun Al-Asasi Kembali Disosialisasikan, Gus Kikin: Ini Ruh NU
Aktual
Lulusan Fakultas Syariah dan Hukum 111 PTKI Disiapkan Jadi Advokat
Lulusan Fakultas Syariah dan Hukum 111 PTKI Disiapkan Jadi Advokat
Aktual
Madrasah Bisa Ajukan BOS via Digital, Kemenag Siapkan Rp 4,1 Triliun
Madrasah Bisa Ajukan BOS via Digital, Kemenag Siapkan Rp 4,1 Triliun
Aktual
Muhaimin Iskandar: Kawasan Ekonomi Pesantren Bisa Jadi Motor Pengentasan Kemiskinan
Muhaimin Iskandar: Kawasan Ekonomi Pesantren Bisa Jadi Motor Pengentasan Kemiskinan
Aktual
Anies Kenang Habib Saggaf Aljufri: Ilmu Tinggi, Hati Rendah, Permata Umat
Anies Kenang Habib Saggaf Aljufri: Ilmu Tinggi, Hati Rendah, Permata Umat
Aktual
Gotong Royong Warga dan Rumah Amal Salman, Air Bersih Kini Mengalir di Desa Jamat
Gotong Royong Warga dan Rumah Amal Salman, Air Bersih Kini Mengalir di Desa Jamat
Aktual
Kemenag Siapkan BOS Madrasah dan BOP RA Tahap II Rp4,1 Triliun, Ini Jadwal Pengajuannya
Kemenag Siapkan BOS Madrasah dan BOP RA Tahap II Rp4,1 Triliun, Ini Jadwal Pengajuannya
Aktual
Wamenag Minta Perketat Perlindungan Anak di Madrasah, bangun Budaya Berani Melapor
Wamenag Minta Perketat Perlindungan Anak di Madrasah, bangun Budaya Berani Melapor
Aktual
Muhammadiyah Maknai Jihad Masa Kini dengan Membangun Bangsa, Bukan Kekerasan
Muhammadiyah Maknai Jihad Masa Kini dengan Membangun Bangsa, Bukan Kekerasan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar