KOMPAS.com - Masijidil Aqsa memiliki kedudukan yang jauh lebih besar daripada sekadar tempat ibadah. Posisinya bertempat di kota suci bagi tiga agama, Islam, Yahudi, dan Nasrani.Kondisi Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsa semakin mengkhawatirkan di tengah konflik berkepanjangan di Palestina. Kesucian kawasan yang memiliki kedudukan penting bagi umat Islam terus menghadapi ancaman.
Masjidil Aqsa yang memiliki luas sekitar 14,4 hektare pernah menjadi kawasan Isra Nabi Muhammad SAW dan tempat para nabi bermakmum kepada Rasulullah dalam peristiwa Isra Mikraj. Penyebutan Masjidil Aqsa tidak hanya merujuk pada satu bangunan. Seluruh area yang berada di kawasan tersebut termasuk dalam Masjidil Aqsa yang juga di dalamnya terdapat sejumlah bangunan, termasuk Masjid Qibli dan Qubatus Sakhrah. Penyebutan Masjidil Aqsa tidak terbatas pada satu bangunan tertentu.
Kawasan Masjidil Aqsa dalam sejarah Islam dikenal sebagai Baitul Maqdis dan telah memiliki kedudukan penting sejak masa para nabi. Al-Qur'an juga menyebut kawasan tersebut dengan sejumlah istilah, di antaranya al-ard al-muqaddasah dan al-ard al-mubarakah, yang merujuk pada negeri yang disucikan dan diberkahi Allah.
Baca juga: Doa untuk Palestina dan Masjidil Aqsa: Harapan dan Dukungan Lewat Doa
Karena itu, umat Islam perlu memahami Masjidil Aqsa melalui sejarahnya secara utuh. Menurutnya, kedudukan Baitul Maqdis dalam Islam tidak baru muncul ketika peristiwa Isra Mikraj berlangsung.
Fahmi Salim Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah menjelaskan, Masjidil Aqsa telah menjadi bagian dari kehidupan umat Islam sejak masa Nabi Muhammad SAW. Salah satunya terlihat dari arah kiblat umat Islam pada masa awal.
Menurutnya, sejak kewajiban shalat hingga sekitar satu tahun lebih setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, umat Islam masih menghadap Masjidil Aqsa ketika melaksanakan shalat.
“Empat belas tahun umat Islam salatnya menghadap Masjidil Aqsa,” kata Fahmi.
Kedudukan tersebut kemudian semakin kuat melalui peristiwa Isra Mikraj. Dalam peristiwa tersebut, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan menuju Masjidil Aqsa sebelum melanjutkan perjalanan ke Sidratul Muntaha.
Baca juga: Sejarah Masjidil Aqsa di Palestina, Bagian dari Peristiwa Isra Miraj
Fahmi juga mengaitkan Masjidil Aqsa dengan hubungan Nabi Muhammad SAW dengan para penguasa dunia. Salah satunya melalui surat yang dikirim Nabi kepada Kaisar Romawi Heraklius setelah Perjanjian Hudaibiyah.
Menurut Fahmi, surat tersebut tidak disampaikan kepada Heraklius ketika berada di Konstantinopel. Surat yang dibawa Dihyah al-Kalbi tersebut disampaikan ketika Heraklius berada di Yerusalem. Hal tersebut, menunjukkan bahwa Yerusalem telah menjadi perhatian dalam strategi diplomasi Nabi Muhammad SAW, bahkan ketika umat Islam belum menguasai kota tersebut.
Selain kedudukannya dalam sejarah Islam, Fahmi menilai Masjidil Aqsa memiliki makna yang lebih luas bagi umat Islam. Ia mengaitkannya dengan tiga masjid yang memiliki keutamaan khusus, yakni Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsa.
Masjidil Haram menggambarkan hubungan manusia dengan Allah, sedangkan Masjid Nabawi menggambarkan hubungan umat Islam dengan Rasulullah SAW. Sementara itu, Masjidil Aqsa merepresentasikan hubungan umat Islam dengan kemanusiaan universal.
“Yang ketiga adalah Masjidil Aqsa. Apa hubungan kita umat Islam dengan Masjidil Aqsa? Inilah hubungan kemanusiaan universal,” tuturnya.
Baca juga: Delapan Negara Islam Kecam Serangan Pemukim Israel terhadap Warga Palestina di Tepi Barat
Karakter universal tersebut berkaitan dengan posisi Yerusalem sebagai kota suci bagi tiga agama. Karena itu, Islam juga mengajarkan penghormatan terhadap hak umat beragama lain, terutama Ahlul Kitab. Penghormatan tersebut bukan berarti mencampurkan ritual antaragama. Umat Islam tetap menjalankan ibadah sesuai ajaran agamanya masing-masing.
Kedudukan Masjidil Aqsa menjadi salah satu ujian bagi gagasan Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Apabila Islam hendak diterapkan sebagai ajaran yang universal, nilai-nilai yang dibawanya harus mampu menghadirkan keadilan dan penghormatan terhadap kemanusiaan.
Terdapat kaitan hal tersebut dengan sejarah pembebasan Baitul Maqdis pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Ketika umat Islam memasuki Yerusalem, kawasan Masjidil Aqsa disebut berada dalam kondisi tidak terawat dan kemudian dibersihkan oleh para sahabat. Berbagai peristiwa tersebut menunjukkan bahwa perhatian terhadap Masjidil Aqsa bukan persoalan yang baru muncul belakangan. Kedudukannya telah tertanam dalam kesadaran umat Islam sejak masa Nabi Muhammad SAW melalui wahyu, ibadah, diplomasi, hingga perkembangan peradaban.
Baca juga: Jakarta dan Palestina: Diplomasi Kemanusiaan di Tengah Krisis
Karena itu, memahami Masjidil Aqsa tidak hanya berarti memahami sejarah sebuah tempat suci. Lebih dari itu, Masjidil Aqsa juga berkaitan dengan sejarah Islam, kemanusiaan, dan cara umat Islam memandang perannya dalam kehidupan global.
“Kalau umat Islam ingin menjadi pelopor kemanusiaan universal, maka umat Islam harus memimpin peradaban manusia. Dari mana? Dari Baitul Maqdis,” tegas Fahmi.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT