Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menyoroti perubahan identitas ke-NU-an di tengah masyarakat.
Menurutnya, pembicaraan mengenai masa depan NU perlu dimulai dari pertanyaan mendasar: apa yang dimaksud dengan NU dan siapa yang dapat disebut sebagai warga NU?
"Kalau zaman generasi awal dulu mungkin lebih mudah, walaupun tidak dirumuskan secara eksplisit, orang dengan mudah menandai NU itu apa," kata Gus Yahya dikutip dari NU Online, Selasa (25/8/2026).
Baca juga: Menjelang Muktamar ke-35 NU, Menengok Jejak Para Rais Aam dari Masa ke Masa
Menurut Gus Yahya, setidaknya terdapat dua fenomena yang membuat pembicaraan mengenai identitas NU saat ini menjadi menarik.
Pertama, batas sosial dan kultural antara warga NU dan masyarakat di luar NU semakin cair.
Ia menyinggung gagasan Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengenai pesantren sebagai subkultur yang diperkenalkan pada era 1980-an.
"Gus Dur tahun 80-an memperkenalkan wacana tentang pesantren sebagai subkultur dan sekarang sudah enggak ada karena batas sosial, batas kultural sudah hilang semua, sudah lebur," ujarnya.
Baca juga: Muhammadiyah Jombang Siapkan Posko dan 10 Ribu Bakso untuk Muktamar NU ke-35
Di tengah semakin cairnya batas sosial dan kultural tersebut, Gus Yahya melihat fenomena lain. Jumlah masyarakat yang secara eksplisit mengidentifikasi dirinya sebagai warga NU justru mengalami peningkatan.
Ia mengatakan telah memperhatikan kecenderungan tersebut sejak sekitar 2010 ketika masih menjabat sebagai Katib PBNU.
Gus Yahya kemudian memaparkan sejumlah hasil survei pada periode yang berbeda.
Menurut dia, berdasarkan exit poll Pemilu 2004, sekitar 35 persen pemilih yang tercatat dalam daftar pemilih tetap (DPT) mengaku sebagai warga NU.
Sementara survei LSI Denny JA pada 2005 mencatat sekitar 27 persen populasi Muslim mengidentifikasi diri sebagai warga NU.
Gus Yahya mengatakan angka tersebut kemudian meningkat menjadi sekitar 56 persen pada 2023.
"Ini luar biasa. Bayangkan dalam waktu hanya 18 tahun," katanya.
Ia membandingkan perkembangan tersebut dengan perolehan suara NU dalam Pemilu 1955 yang berada di kisaran 18 persen.
Menurut Gus Yahya, dalam kurun sekitar 50 tahun hingga 2005, angka tersebut menjadi sekitar 27 persen. Namun, peningkatannya berlangsung jauh lebih cepat dalam rentang 2005 hingga 2023.
"Tapi dari 2005 sampai 2023 tambahnya lebih dari dua kali lipat. Jadi 56 sekian persen. 2024 Hasanudin Ali dari Survei Al-Farah itu bikin survei sendiri, hasilnya 57,2 persen dari populasi Muslim," jelasnya.
Gus Yahya juga mengingat pengalaman pada 2010 ketika Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari menyampaikan hasil survei yang menunjukkan sekitar 47 persen populasi Muslim Indonesia mengaku sebagai warga NU.
Menurut Gus Yahya, fenomena tersebut perlu dikaji lebih jauh. Sebab, mengaku sebagai warga NU merupakan bentuk identifikasi diri secara eksplisit dan tidak selalu sama dengan menjalankan tradisi keagamaan yang selama ini lekat dengan NU.
Ia menyinggung data BAIS pada 1999 yang disebut menunjukkan bahwa sejumlah ciri kultural yang identik dengan tradisi NU telah dijalankan sekitar 63 persen populasi Indonesia.
Tradisi tersebut antara lain selamatan, yasinan, shalat Tarawih 23 rakaat, dan membaca qunut.
Kondisi itu menunjukkan bahwa praktik keagamaan yang selama ini identik dengan warga NU dapat ditemukan lebih luas di tengah masyarakat.
Pada saat bersamaan, semakin banyak orang secara terbuka mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari NU.
"Lalu NU dipersepsikan sebagai barang apa sekarang? Sementara, ya, kita menyadari realitas kehidupan NU sendiri itu juga mengalami perubahan-perubahan," kata Gus Yahya.
Menurutnya, perubahan tersebut menjadi salah satu hal penting yang perlu dipahami ketika NU membicarakan arah organisasi dan masa depannya.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT