Editor
JOMBANG, KOMPAS.com — Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar mengungkapkan tiga ayat Al-Qur'an yang menjadi pijakan Nahdlatul Ulama (NU) dalam menyusun gerakan dan program pada abad kedua.
Ketiga ayat tersebut adalah Surat Al-Baqarah ayat 30, Surat Hud ayat 61, dan Surat Adz-Dzariyat ayat 56. Menurut Kiai Miftach, ayat-ayat itu menjadi landasan bagi NU untuk memperkuat kemandirian ekonomi sekaligus mendorong pemulihan ekologi.
"Dalam mengawali atau persiapan kita untuk melangkah di abad kedua Nahdlatul Ulama ini, ada tiga ayat yang merupakan dasar pijakan kita untuk mengembangkan, terutama di bidang-bidang ekonomi yang saat ini memang mayoritas masyarakat Indonesia tergolong minal fuqara' wal masakin (kaum fakir dan miskin)," ujar Kiai Miftach.
Hal tersebut disampaikan Kiai Miftach dalam Penutupan Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8/2026).
Baca juga: Miftachul Akhyar dan Gus Kikin Pimpin PBNU, Apa Perbedaan Tugas Keduanya?
Landasan pertama yang disebut Kiai Miftach adalah Surat Al-Baqarah ayat 30. Ayat tersebut berbicara mengenai manusia sebagai khalifah fil ardh atau khalifah di bumi.
Menurut Kiai Miftach, konsep khalifah tidak hanya berkaitan dengan keberadaan manusia di bumi, tetapi juga tanggung jawab untuk mengelola kehidupan agar berjalan secara tertib dan adil.
"Khalifah itu artinya yang mengurus bumi, yang membuat peraturan dan tata tertib agar kehidupan menjadi teratur. Tidak boleh ada orang kaya yang menganiaya atau menzalimi si miskin, begitu pula sebaliknya," kata dia dikutip dari NU Online.
Menurutnya, pengaturan kehidupan yang baik diperlukan untuk membentuk masyarakat yang tertib.
"Dengan tanzhim (pengaturan) yang teratur, terjadilah masyarakat yang tertib," ujarnya.
Baca juga: Profil Gus Kikin, Cicit Pendiri NU yang Kini Jadi Ketua Umum PBNU
Landasan kedua adalah Surat Hud ayat 61, khususnya frasa wasta'marakum fiiha.
Kiai Miftach memaknai bagian tersebut sebagai perintah kepada manusia untuk memakmurkan bumi. Tugas itu membutuhkan pemanfaatan akal, pengetahuan, serta tindakan nyata.
Pemakmuran bumi, menurut dia, tidak hanya berkaitan dengan kesejahteraan ekonomi, tetapi juga mencakup upaya menjaga dan memulihkan lingkungan.
"Termasuk menghijaukan kembali sawah ladang dan gunung-gunung yang gundul, bahkan menyiapkan persediaan pangan adalah bagian dari tugas pemakmuran bumi. Ini sunnatullah," tutur Kiai Miftach.
Ia mengatakan, kesejahteraan masyarakat tidak dapat tercipta tanpa upaya sungguh-sungguh untuk mengelola sumber daya dan mengembangkan ekonomi.
"Rakyat hanya bisa merasakan kesejahteraan jika ada upaya sekuat tenaga mengerahkan pikiran untuk menyejahterakan umat," kata dia.
Ayat ketiga yang menjadi pijakan adalah Surat Adz-Dzariyat ayat 56, wa maa khalaqtul jinna wal insa illaa liya'buduun.
Kiai Miftach menjelaskan, seluruh aktivitas manusia dalam menjalankan tugas sebagai khalifah di bumi, termasuk membangun perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pada akhirnya harus memiliki nilai ibadah.
"Jangan sampai kita melangkah dan membangun dengan megah tanpa ada nilai ibadah," ujarnya.
Menurut dia, tugas mengelola bumi dan menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat tidak boleh dilepaskan dari tujuan tersebut.
"Kekhilafahan mengurus bumi yang luas dan menyejahterakan rakyat tanpa pandang bulu, semuanya harus bernilai ibadah," lanjut Kiai Miftach.
Kiai Miftach juga menjelaskan alasan sektor ekonomi mendapat perhatian pada awal perjalanan NU di abad kedua.
Menurut dia, persoalan kemiskinan masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian serius.
"Tiga ayat ini menjadi dasar program di awal abad kedua ini agar Nahdlatul Ulama betul-betul sejahtera ekonominya," kata Kiai Miftach.
Sementara pada sektor pendidikan dan kesehatan, menurut dia, NU telah memiliki banyak sumber daya dan tenaga ahli.
"Sebab untuk bidang pendidikan dan kesehatan, alhamdulillah sudah ada pakarnya seperti Prof Mohammad Nuh," tuturnya.
Kiai Miftach berharap fondasi ekonomi yang dibangun dengan berlandaskan nilai-nilai Al-Qur'an tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan warga Nahdliyin sekaligus memberikan kontribusi terhadap kemakmuran masyarakat Indonesia.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT