KOMPAS.com — Tim Medis Darurat (EMT) Muhammadiyah mencatat 2.222 penyintas gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapatkan layanan kesehatan selama 17-28 Agustus 2026.
Di tengah penanganan pascabencana, pola penyakit yang dialami penyintas mulai berubah.
Jika pada awal penanganan tim medis banyak menghadapi kasus trauma atau cedera akibat gempa, kini penyakit infeksi mulai meningkat.
Infeksi saluran pernapasan menjadi keluhan yang paling banyak ditemukan dengan 437 pasien.
Baca juga: Bantu Korban Bencana NTT, BPKH Salurkan 9.000 Porsi Makanan hingga Layanan Kesehatan
Ketua EMT Muhammadiyah dr. Corona Rintawan mengatakan, perubahan pola penyakit tersebut terjadi seiring menurunnya kasus trauma yang ditangani tim medis.
Layanan kesehatan diberikan melalui Rumah Sakit Lapangan EMT Muhammadiyah sebagai bagian dari program Indonesia Siaga.
"Tim masih menjalankan masa tugas selama 30 hari untuk membantu masyarakat terdampak gempa di sejumlah wilayah Flores, NTT," tutur Corona.
Dari 2.222 pasien yang mendapatkan pelayanan kesehatan, sebanyak 437 pasien mengalami infeksi saluran pernapasan.
Selain itu, tim medis menangani 372 pasien dengan myalgia atau keluhan nyeri otot dan pegal-pegal, 233 pasien hipertensi, serta 186 pasien dispepsia.
Sebanyak 153 pasien lainnya mengalami cephalgia atau sakit kepala dan nyeri pada bagian leher hingga tengkuk.
Perubahan pola penyakit tersebut menjadi perhatian dalam pelayanan kesehatan di wilayah terdampak, terutama karena masyarakat masih berada dalam kondisi pascabencana.
EMT Muhammadiyah juga mendorong edukasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat serta pemenuhan kebutuhan air bersih dan sanitasi untuk mengurangi risiko munculnya gangguan kesehatan.
Baca juga: Gempa NTT, Muhammadiyah Terjunkan EMT dan Siapkan Rumah Sakit Lapangan
Pelayanan kesehatan EMT Muhammadiyah diberikan kepada penyintas dari berbagai kelompok usia.
Dari keseluruhan pasien, terdapat 54 bayi, 128 balita, 178 anak-anak, 78 remaja, 1.317 orang dewasa, dan 467 lansia.
Berdasarkan jenis kelamin, sebanyak 1.328 pasien merupakan perempuan dan 894 lainnya laki-laki. Sebanyak 13 pasien yang mendapatkan layanan tercatat sebagai ibu hamil.
Data tersebut menunjukkan kebutuhan pelayanan kesehatan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan penanganan warga yang mengalami cedera akibat gempa.
Kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, dan lansia juga membutuhkan pemantauan kesehatan selama masa pemulihan.
Penanganan krisis kesehatan akibat gempa NTT juga dilakukan pemerintah.
Kementerian Kesehatan menerjunkan 392 tenaga kesehatan hingga 26 Agustus 2026 untuk menangani kebutuhan kesehatan masyarakat di tujuh kabupaten di Kepulauan Flores.
Dua rumah sakit lapangan berbasis tenda juga didirikan untuk memperkuat pelayanan medis bagi masyarakat terdampak.
Sementara itu, berdasarkan pembaruan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 22 Agustus 2026, gempa bermagnitudo 7,7 di NTT menyebabkan 87 orang meninggal dunia dan 1.298 orang mengalami luka.
Sebanyak 150.576 orang juga tercatat mengungsi akibat bencana tersebut. Data dapat berubah seiring proses pendataan di lapangan.
Status keadaan darurat di Manggarai Barat berlaku selama 14 hari, mulai 15 hingga 28 Agustus 2026, berdasarkan Surat Keputusan Bupati Manggarai Barat Nomor 229/KEP/HK/2026.
Meski periode status tersebut berakhir, kebutuhan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak masih berlanjut.
EMT Muhammadiyah masih menjalankan masa tugas selama 30 hari untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa.
Selain pemeriksaan dan pengobatan, tim memberikan edukasi mengenai kebersihan lingkungan, ketersediaan air bersih, sanitasi, serta perilaku hidup bersih dan sehat.
Upaya tersebut dilakukan seiring perubahan kebutuhan kesehatan penyintas dari penanganan trauma akibat gempa menuju pencegahan dan penanganan penyakit yang muncul selama masa pemulihan.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT