Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

EMT Muhammadiyah Sebut Korban Gempa NTT Mulai Alami Infeksi Saluran Pernapasan

Kompas.com, 1 September 2026, 13:03 WIB
Puji Sri Rahayu,
Reni Susanti

Tim Redaksi


KOMPAS.com — Tim Medis Darurat (EMT) Muhammadiyah mencatat 2.222 penyintas gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapatkan layanan kesehatan selama 17-28 Agustus 2026.

Di tengah penanganan pascabencana, pola penyakit yang dialami penyintas mulai berubah.

Jika pada awal penanganan tim medis banyak menghadapi kasus trauma atau cedera akibat gempa, kini penyakit infeksi mulai meningkat.

Infeksi saluran pernapasan menjadi keluhan yang paling banyak ditemukan dengan 437 pasien.

Baca juga: Bantu Korban Bencana NTT, BPKH Salurkan 9.000 Porsi Makanan hingga Layanan Kesehatan

Ketua EMT Muhammadiyah dr. Corona Rintawan mengatakan, perubahan pola penyakit tersebut terjadi seiring menurunnya kasus trauma yang ditangani tim medis.

Layanan kesehatan diberikan melalui Rumah Sakit Lapangan EMT Muhammadiyah sebagai bagian dari program Indonesia Siaga.

"Tim masih menjalankan masa tugas selama 30 hari untuk membantu masyarakat terdampak gempa di sejumlah wilayah Flores, NTT," tutur Corona. 

Infeksi Saluran Pernapasan Paling Banyak

Dari 2.222 pasien yang mendapatkan pelayanan kesehatan, sebanyak 437 pasien mengalami infeksi saluran pernapasan.

Selain itu, tim medis menangani 372 pasien dengan myalgia atau keluhan nyeri otot dan pegal-pegal, 233 pasien hipertensi, serta 186 pasien dispepsia.

Sebanyak 153 pasien lainnya mengalami cephalgia atau sakit kepala dan nyeri pada bagian leher hingga tengkuk.

Perubahan pola penyakit tersebut menjadi perhatian dalam pelayanan kesehatan di wilayah terdampak, terutama karena masyarakat masih berada dalam kondisi pascabencana.

EMT Muhammadiyah juga mendorong edukasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat serta pemenuhan kebutuhan air bersih dan sanitasi untuk mengurangi risiko munculnya gangguan kesehatan.

Baca juga: Gempa NTT, Muhammadiyah Terjunkan EMT dan Siapkan Rumah Sakit Lapangan

Bayi hingga Lansia Mendapat Layanan

Pelayanan kesehatan EMT Muhammadiyah diberikan kepada penyintas dari berbagai kelompok usia.

Dari keseluruhan pasien, terdapat 54 bayi, 128 balita, 178 anak-anak, 78 remaja, 1.317 orang dewasa, dan 467 lansia.

Berdasarkan jenis kelamin, sebanyak 1.328 pasien merupakan perempuan dan 894 lainnya laki-laki. Sebanyak 13 pasien yang mendapatkan layanan tercatat sebagai ibu hamil.

Data tersebut menunjukkan kebutuhan pelayanan kesehatan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan penanganan warga yang mengalami cedera akibat gempa.

Kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, dan lansia juga membutuhkan pemantauan kesehatan selama masa pemulihan.

Pemerintah Kerahkan 392 Tenaga Kesehatan

Penanganan krisis kesehatan akibat gempa NTT juga dilakukan pemerintah.

Kementerian Kesehatan menerjunkan 392 tenaga kesehatan hingga 26 Agustus 2026 untuk menangani kebutuhan kesehatan masyarakat di tujuh kabupaten di Kepulauan Flores.

Dua rumah sakit lapangan berbasis tenda juga didirikan untuk memperkuat pelayanan medis bagi masyarakat terdampak.

Sementara itu, berdasarkan pembaruan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 22 Agustus 2026, gempa bermagnitudo 7,7 di NTT menyebabkan 87 orang meninggal dunia dan 1.298 orang mengalami luka.

Sebanyak 150.576 orang juga tercatat mengungsi akibat bencana tersebut. Data dapat berubah seiring proses pendataan di lapangan.

Layanan Kesehatan Tetap Berlanjut

Status keadaan darurat di Manggarai Barat berlaku selama 14 hari, mulai 15 hingga 28 Agustus 2026, berdasarkan Surat Keputusan Bupati Manggarai Barat Nomor 229/KEP/HK/2026.

Meski periode status tersebut berakhir, kebutuhan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak masih berlanjut.

EMT Muhammadiyah masih menjalankan masa tugas selama 30 hari untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa.

Selain pemeriksaan dan pengobatan, tim memberikan edukasi mengenai kebersihan lingkungan, ketersediaan air bersih, sanitasi, serta perilaku hidup bersih dan sehat.

Upaya tersebut dilakukan seiring perubahan kebutuhan kesehatan penyintas dari penanganan trauma akibat gempa menuju pencegahan dan penanganan penyakit yang muncul selama masa pemulihan.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar