Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Erupsi Anak Krakatau, MUI Imbau Jangan Pasrah, Ikuti Mitigasi dan Peringatan Dini

Kompas.com, 7 September 2026, 07:34 WIB
Reni Susanti

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com — Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan masyarakat agar tidak bersikap pasrah tanpa ikhtiar ketika menghadapi ancaman bencana alam, termasuk erupsi Gunung Anak Krakatau.

Ketua MUI Bidang Fatwa Prof KH Asrorun Ni’am Sholeh mengatakan, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, menerapkan langkah pencegahan, serta mematuhi petunjuk keselamatan dari pihak berwenang.

“Terhadap bencana yang tidak bisa kita pilih ini, langkah yang harus kita ambil adalah respons yang tepat melalui pendekatan wiqa’i atau preventif, dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan serta sistem peringatan dini atau early warning system,” kata Ni’am, dikutip dari MUI Digital, Senin (7/9/2026).

Baca juga: Anak Krakatau Erupsi, Ini Doa yang Dianjurkan Rasulullah Saat Gunung Meletus

Menurut dia, letusan gunung merupakan fenomena alam yang berada di luar kendali langsung manusia. Namun, kondisi tersebut bukan alasan bagi manusia untuk mengabaikan upaya mitigasi.

Kesiapsiagaan dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko serta mencegah timbulnya korban jiwa.

Bencana bukan alasan untuk pasrah

Ni’am menjelaskan, secara teologis, erupsi gunung berapi termasuk bencana yang bersifat ibtidaiyah atau ghairu muktasab. Artinya, bencana tersebut terjadi secara alamiah dan bukan muncul sebagai akibat langsung perbuatan manusia.

Erupsi gunung merupakan bagian dari sunnatullah atau ketetapan Allah dalam bekerjanya hukum-hukum alam.

Meski demikian, Islam tidak mengajarkan manusia untuk hanya berdiam diri dan menerima keadaan tanpa melakukan usaha penyelamatan.

Guru Besar Ilmu Fikih UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu mengatakan, manusia wajib menggunakan akal, ilmu pengetahuan, dan teknologi untuk menjaga keselamatan jiwa.

Karena itu, masyarakat yang berada di sekitar kawasan rawan bencana perlu terus memantau perkembangan keadaan melalui sumber resmi.

Baca juga: Penerbangan Batal Imbas Erupsi Anak Krakatau, Puluhan Jemaah Umrah Ditampung di Asrama Haji Sudiang

Informasi tersebut antara lain dapat diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Pos Pengamatan Gunung Api, serta lembaga pemerintah berwenang lainnya.

“Dengan penanda ilmu astronomi, informasi dari BMKG, dan early warning system, kita perlu berhati-hati. Kita harus memahami mekanisme keselamatan dan pengamanan dininya jika terjadi semburan atau erupsi,” ujar Ni’am.

Masyarakat juga perlu memahami jalur evakuasi, lokasi pengungsian, tanda-tanda bahaya, serta langkah yang harus dilakukan ketika peringatan bencana dikeluarkan.

Kepatuhan terhadap arahan petugas diperlukan agar proses penyelamatan tidak terhambat dan masyarakat tidak mengambil tindakan yang justru membahayakan diri sendiri ataupun orang lain.

Keselamatan jiwa harus diutamakan

Dalam Islam, menjaga keselamatan jiwa merupakan salah satu tujuan utama syariat atau maqashid al-syariah. Karena itu, mengikuti mitigasi dan petunjuk keselamatan dapat dipahami sebagai bagian dari ikhtiar untuk melindungi kehidupan.

Pendekatan keagamaan dalam menghadapi bencana dengan demikian tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Keduanya dapat berjalan bersama untuk membantu manusia merespons ancaman secara tepat.

Kewaspadaan, penggunaan sistem peringatan dini, serta kepatuhan terhadap arahan petugas merupakan bentuk usaha manusia sebelum menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.
Membangun empati kepada korban

Selain mitigasi teknis dan kewaspadaan mandiri, Ni’am menekankan pentingnya kepedulian sosial dari masyarakat yang berada di wilayah aman.

Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah Depok itu mengatakan, kondisi aman yang dinikmati sebagian masyarakat juga menjadi ujian untuk melihat sejauh mana empati diwujudkan terhadap mereka yang terkena musibah.

Ni’am mengutip hadis Rasulullah SAW yang menggambarkan hubungan antarsesama orang beriman seperti satu tubuh. Ketika salah satu anggota tubuh merasakan sakit, bagian tubuh lainnya turut merasakan penderitaan tersebut.

“Apa yang menimpa saudara-saudara kita di daerah terdampak bencana adalah panggilan bagi kita semua untuk mengulurkan tangan,” katanya.

Ia mengajak masyarakat yang berada dalam kondisi sehat dan aman untuk menyisihkan sebagian rezekinya guna membantu korban bencana.

Bantuan dapat diberikan dalam berbagai bentuk sesuai kebutuhan korban dan dikoordinasikan melalui lembaga kemanusiaan ataupun saluran resmi yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Kita hari ini sehat, segar, bugar, masih bisa menikmati aktivitas rutin dan memperoleh rezeki dari kerja-kerja profesional kita,” ujar Ni’am.

“Saatnya kita membangun empati dan menyisihkan sebagian rezeki untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang tertimpa musibah,” lanjutnya.

Padukan ikhtiar lahir dan batin

Ni’am juga mengajak umat Islam melengkapi ikhtiar lahiriah dengan ikhtiar batiniah.

Selain mengikuti prosedur mitigasi dan membantu korban, masyarakat diimbau memperbanyak zikir, doa, tobat, serta muhasabah atau introspeksi diri.

Ikhtiar batin tersebut dilakukan untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT sekaligus menguatkan diri dalam menghadapi ujian.

Dengan demikian, respons terhadap bencana tidak berhenti pada kepasrahan. Umat Islam didorong melakukan langkah pencegahan, mengikuti ilmu pengetahuan, menjaga keselamatan, membantu sesama, serta memperkuat doa.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
Islam ala KH Ahmad Dahlan: Berakar Kuat, Terbuka, dan Membebaskan
Islam ala KH Ahmad Dahlan: Berakar Kuat, Terbuka, dan Membebaskan
Aktual
Dzikir dan Doa Pagi Pembuka Pintu Rezeki, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Dzikir dan Doa Pagi Pembuka Pintu Rezeki, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Kalender Islam September 2026 Lengkap: Tanggal Hijriah, Weton Jawa, Hari Besar Islam, dan Libur
Kalender Islam September 2026 Lengkap: Tanggal Hijriah, Weton Jawa, Hari Besar Islam, dan Libur
Aktual
Gus Kikin Targetkan Kepengurusan PBNU 2026-2031 Rampung 30 Hari usai Muktamar
Gus Kikin Targetkan Kepengurusan PBNU 2026-2031 Rampung 30 Hari usai Muktamar
Aktual
Doa Saat Gunung Meletus Menurut Imam An-Nawawi: Arab, Latin dan Artinya
Doa Saat Gunung Meletus Menurut Imam An-Nawawi: Arab, Latin dan Artinya
Doa dan Niat
Nasihat KH Bisri Mustofa untuk Pendakwah di Era Media Sosial
Nasihat KH Bisri Mustofa untuk Pendakwah di Era Media Sosial
Aktual
MUI Ingatkan Warga Hadapi Erupsi Gunung Anak Krakatau: Waspada, Ikhtiar, dan Perkuat Empati
MUI Ingatkan Warga Hadapi Erupsi Gunung Anak Krakatau: Waspada, Ikhtiar, dan Perkuat Empati
Aktual
Erupsi Anak Krakatau, MUI Imbau Jangan Pasrah, Ikuti Mitigasi dan Peringatan Dini
Erupsi Anak Krakatau, MUI Imbau Jangan Pasrah, Ikuti Mitigasi dan Peringatan Dini
Aktual
Dari Kitab Kuning hingga Lemhannas, Jejak Pendidikan Holistik Darul Amanah
Dari Kitab Kuning hingga Lemhannas, Jejak Pendidikan Holistik Darul Amanah
Aktual
5 Ibadah dan Aktivitas Selain Shalat yang Berkaitan dengan Arah Kiblat
5 Ibadah dan Aktivitas Selain Shalat yang Berkaitan dengan Arah Kiblat
Aktual
Penerbangan Batal Imbas Erupsi Anak Krakatau, Puluhan Jemaah Umrah Ditampung di Asrama Haji Sudiang
Penerbangan Batal Imbas Erupsi Anak Krakatau, Puluhan Jemaah Umrah Ditampung di Asrama Haji Sudiang
Aktual
Deklarasi GIHES 2026: AI Harus Menjadi Alat Pendukung, Bukan Penentu Pendidikan
Deklarasi GIHES 2026: AI Harus Menjadi Alat Pendukung, Bukan Penentu Pendidikan
Aktual
Shalat Tidak Khusyuk, Apakah Ibadahnya Sah dan Diterima?
Shalat Tidak Khusyuk, Apakah Ibadahnya Sah dan Diterima?
Aktual
Muhammadiyah: Islam Beri Ruang Perbedaan Pemikiran Selama Tak Langgar Dalil yang Pasti
Muhammadiyah: Islam Beri Ruang Perbedaan Pemikiran Selama Tak Langgar Dalil yang Pasti
Aktual
Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau, Garuda Indonesia Alihkan Penerbangan Jamaah Umrah ke Aceh
Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau, Garuda Indonesia Alihkan Penerbangan Jamaah Umrah ke Aceh
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar