Editor
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Membaca Al-Quran belum cukup apabila nilai-nilai di dalamnya tidak dihidupkan dalam perilaku sehari-hari.
Karena itu, umat Islam perlu membangun kebiasaan berlandaskan Al-Quran atau Qur’an habit untuk membentuk pribadi muslim berkemajuan.
Ketua Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Syahdara Anisa Makruf, mengatakan, kebiasaan tersebut dapat diwujudkan melalui kedisiplinan, kemampuan mengelola emosi, integritas, komunikasi asertif, dan refleksi diri.
“Habit pertama dalam keluarga kami bukan mendidik kami menjadi anak pintar, tetapi fondasi utamanya adalah shalat lima waktu dan tepat waktu,” kata Syahdara dikutip dari laman Muhammadiyah, Kamis (10/9/2026).
Baca juga: 3 Pesan Al-Quran dalam Menghadapi Krisis Kemanusiaan
Pengajian tersebut mengangkat tema “Qur’an Habit, Menjadi Muslim Berkemajuan”.
Syahdara menjelaskan, membangun kebiasaan bukan perkara sederhana. Kebiasaan setiap orang dapat berbeda karena dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pola asuh keluarga dan lingkungan hingga hal-hal yang dilihat serta didengar dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, kebiasaan yang bersumber dari nilai-nilai Al-Quran perlu dibangun secara konsisten.
Quran habit tidak hanya berarti rutin membaca Al-Quran, tetapi juga memahami dan menerapkan nilai-nilainya dalam kehidupan.
Berikut lima kebiasaan berlandaskan Al-Qur’an yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu kebiasaan yang perlu dibangun adalah disiplin waktu melalui pelaksanaan shalat lima waktu. Menurut Syahdara, shalat tepat waktu dapat menjadi latihan untuk menghargai waktu.
Kedisiplinan tersebut selanjutnya dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk ketika seseorang menjalankan pekerjaan dan tanggung jawabnya.
Pentingnya menggunakan waktu dengan baik juga tercermin dalam Surah Al-Asr.
Surah tersebut mengingatkan bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, mengerjakan kebajikan, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Baca juga: 6 Nilai Al-Quran yang Bisa Jadi Pedoman Menggunakan AI
Membaca Al-Quran perlu disertai usaha memahami maknanya. Kebiasaan tersebut dapat menjadi jalan untuk menumbuhkan ketenangan sekaligus melatih kemampuan mengelola emosi.
“Menumbuhkan sikap tenang dalam hidup kita dengan cara membaca Al-Quran dan maknanya,” ujar Syahdara.
Kemampuan mengelola emosi diperlukan agar seseorang dapat menghadapi persoalan dengan lebih tenang dan mengambil keputusan secara bijaksana.
Nilai-nilai Al-Quran juga relevan diterapkan dalam kehidupan organisasi, termasuk di lingkungan Muhammadiyah.
Menurut Syahdara, integritas dan loyalitas merupakan kebiasaan yang perlu terus diperkuat dalam menjalankan amanah persyarikatan.
Integritas dapat diwujudkan melalui kedisiplinan, tanggung jawab, kejujuran, serta kemampuan mengendalikan emosi ketika menjalankan tugas.
Adapun loyalitas tidak hanya ditunjukkan melalui keterlibatan dalam berbagai kegiatan, tetapi juga dengan menjaga nilai dan amanah organisasi.
“Integritas dan loyalitas ini menjadi salah satu habit yang harus kita perdalam untuk persyarikatan Muhammadiyah. Loyal kepada Muhammadiyah berarti menjaga nilai dan amanah persyarikatan,” tegasnya.
Di lingkungan kerja, nilai-nilai Al-Qur’an dapat diterapkan dengan membangun budaya komunikasi asertif.
Sikap asertif merupakan kemampuan menyampaikan pendapat, kebutuhan, ataupun batasan secara tegas dan jelas tanpa menyakiti orang lain.
Setiap orang juga perlu memahami batasan dan tanggung jawab sesuai tugas serta fungsinya. Ketika menghadapi persoalan atau perbedaan pendapat, ketegasan tetap dapat disampaikan dengan cara yang baik dan menghargai orang lain.
Prinsip tersebut sejalan dengan pesan dalam Surah Al-Baqarah ayat 83 agar manusia mengucapkan perkataan yang baik kepada sesama.
Kebiasaan lain yang perlu dikembangkan adalah refleksi diri. Pribadi yang reflektif tidak hanya melihat kesalahan orang lain, tetapi juga bersedia mengevaluasi dirinya sendiri.
Refleksi menjadi kesempatan untuk meninjau kembali tindakan yang telah dilakukan, mengenali kekurangan, dan menentukan langkah perbaikan.
Dengan demikian, seseorang tidak berhenti pada tahap mengetahui nilai-nilai kebaikan, tetapi terus berusaha memperbaiki diri dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, Quran habit merupakan ikhtiar menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an melalui perilaku.
Al-Quran bukan sekadar dibaca, melainkan juga dipahami dan dijadikan pedoman untuk membentuk pribadi yang disiplin, tenang, berintegritas, mampu menghargai orang lain, dan terbuka terhadap perbaikan diri.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT