Penulis
KOMPAS.com — Rumah tangga dalam Islam tidak hanya dibangun atas dasar cinta, tetapi juga membutuhkan ketenangan, kasih sayang, tanggung jawab, dan kemampuan mengelola perbedaan.
Al-Qur'an menggambarkan tujuan pernikahan sebagai tempat memperoleh ketenteraman. Dalam Surah Ar-Rum ayat 21, Allah menyebut bahwa di antara pasangan diletakkan mawaddah (kasih) dan rahmah (sayang).
Karena itu, keretakan rumah tangga tidak selalu bermula dari persoalan besar seperti perselingkuhan atau masalah ekonomi. Dalam banyak keadaan, hubungan justru melemah karena persoalan kecil yang dibiarkan berulang hingga menumpuk.
Islam mengajarkan agar pasangan memperlakukan satu sama lain dengan cara yang baik. Surah An-Nisa ayat 19 memerintahkan agar pasangan hidup diperlakukan secara ma'ruf, atau dengan cara yang patut dan baik.
Baca juga: Menag Ungkap 7 Faktor Pemicu Perceraian: Ekonomi hingga Beda Pilihan Politik
Lantas, apa saja penyebab rumah tangga retak yang sering tidak disadari?
Salah satu persoalan yang sering dianggap sepele dalam rumah tangga adalah komunikasi.
Pasangan bisa tinggal serumah, makan bersama, bahkan memiliki anak yang sama, tetapi belum tentu benar-benar saling memahami.
Komunikasi yang buruk dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti memilih diam ketika ada masalah, berbicara dengan nada merendahkan, menyimpan kekecewaan, atau menganggap pasangan seharusnya memahami perasaan tanpa perlu dijelaskan.
Dalam jangka panjang, masalah yang tidak dibicarakan dapat berubah menjadi jarak emosional.
Islam menempatkan hubungan suami istri dalam kerangka kasih sayang dan perlakuan yang baik. Karena itu, komunikasi bukan hanya persoalan teknik berbicara, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kehormatan dan perasaan pasangan.
Pasangan perlu belajar membicarakan masalah tanpa menjadikan percakapan sebagai arena untuk saling menyalahkan.
Penyebab rumah tangga retak berikutnya adalah kebiasaan melihat pasangan hanya dari sisi kekurangannya.
Setelah bertahun-tahun menikah, seseorang mungkin mulai terbiasa dengan kebaikan pasangannya. Sebaliknya, kekurangan kecil justru semakin terlihat.
Dalam kondisi seperti ini, pasangan dapat merasa bahwa apa pun yang dilakukan tidak pernah cukup.
Islam mengajarkan sikap yang lebih seimbang.
Rasulullah SAW bersabda bahwa seorang mukmin hendaknya tidak membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai satu sifat pada pasangannya, ia masih dapat menemukan sifat lain yang ia sukai.
Pesan tersebut terdapat dalam hadis Sahih Muslim 1468b.
Prinsipnya bukan berarti seseorang harus mengabaikan masalah serius dalam rumah tangga. Namun, ketidaksempurnaan pasangan tidak seharusnya membuat seluruh kebaikannya menjadi tidak terlihat.
Belajar melihat kelebihan pasangan dapat membantu menjaga rasa syukur dan mengurangi kebiasaan membandingkan pasangan dengan orang lain.
Persoalan ekonomi sering menjadi sumber ketegangan dalam rumah tangga.
Namun, masalahnya bukan selalu karena jumlah penghasilan yang kecil. Konflik juga dapat muncul karena pasangan tidak terbuka mengenai pengeluaran, utang, gaya hidup, prioritas keuangan, atau pembagian tanggung jawab ekonomi.
Masalah yang awalnya berupa perbedaan cara mengelola uang dapat berkembang menjadi persoalan kepercayaan.
Karena itu, pasangan perlu memiliki komunikasi keuangan yang sehat.
Misalnya dengan membicarakan:
Dalam perspektif Islam, kehidupan keluarga juga berkaitan dengan amanah dan tanggung jawab. Karena itu, persoalan ekonomi sebaiknya tidak disembunyikan sampai menjadi konflik besar.
Rumah tangga Muslim tidak hanya membutuhkan kecukupan materi. Ada pula tanggung jawab untuk membangun kehidupan keluarga yang memiliki nilai agama.
Al-Qur'an dalam Surah At-Tahrim ayat 6 mengingatkan orang-orang beriman untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka.
Ayat tersebut menunjukkan bahwa keluarga memiliki dimensi pendidikan dan tanggung jawab keagamaan.
Masalah dapat muncul ketika pasangan sama-sama sibuk dengan aktivitas masing-masing tetapi tidak memiliki ruang untuk membangun kehidupan spiritual bersama.
Misalnya, tidak pernah saling mengingatkan untuk shalat, tidak memiliki waktu untuk membaca Al-Qur'an, atau tidak membicarakan nilai-nilai agama dalam mendidik anak.
Kehidupan beragama tidak harus selalu dilakukan dalam bentuk kegiatan yang besar.
Membiasakan shalat tepat waktu, membaca Al-Qur'an, berdoa bersama, atau mendiskusikan pendidikan anak berdasarkan nilai Islam dapat menjadi bagian dari upaya membangun keluarga yang lebih kokoh.
Kehadiran anak seharusnya memperkuat ikatan keluarga. Namun, pola pengasuhan yang berbeda justru dapat menjadi sumber konflik antara suami dan istri.
Misalnya, ayah menginginkan disiplin yang ketat, sementara ibu lebih memilih pendekatan yang lembut.
Masalah juga bisa muncul ketika salah satu pasangan merasa seluruh tanggung jawab pengasuhan dibebankan kepadanya.
UNICEF dalam panduan positive parenting menekankan pentingnya hubungan yang aman, penuh kasih, batasan yang jelas, serta kerja sama dalam pengasuhan. Anak juga membutuhkan lingkungan yang membuat mereka merasa aman dan dipahami.
Karena itu, pasangan sebaiknya membicarakan pola pengasuhan sejak awal.
Beberapa hal yang dapat disepakati antara lain:
Orangtua tidak harus selalu memiliki pendapat yang sama. Yang lebih penting adalah bagaimana perbedaan tersebut dibicarakan tanpa membuat anak menjadi korban konflik orangtua.
Media sosial membuat kebiasaan membandingkan kehidupan rumah tangga menjadi semakin mudah.
Seseorang melihat pasangan orang lain yang tampak romantis, sukses, kaya, sering bepergian, atau memiliki kehidupan keluarga yang terlihat sempurna.
Kemudian muncul pertanyaan:
“Mengapa pasangan saya tidak seperti dia?”
Padahal, apa yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang.
Kebiasaan membandingkan pasangan dapat membuat seseorang kehilangan rasa syukur terhadap keluarganya sendiri.
Islam mengajarkan pentingnya menjaga hubungan dengan pasangan melalui perlakuan yang baik. Dalam Surah An-Nisa ayat 19, Allah bahkan mengingatkan bahwa seseorang bisa saja tidak menyukai sesuatu dari pasangannya, tetapi Allah menjadikan banyak kebaikan di dalamnya.
Karena itu, sebelum menilai pasangan berdasarkan kehidupan orang lain, seseorang perlu kembali melihat kebaikan yang ada di dalam rumah tangganya sendiri.
Penyebab rumah tangga retak yang sering dianggap kecil adalah persoalan ego.
Dalam konflik, suami merasa istri harus meminta maaf lebih dahulu. Istri merasa suami yang harus mengalah.
Akhirnya masalah yang sebenarnya sederhana berubah menjadi perang dingin.
Padahal, rumah tangga tidak akan selalu bebas dari kesalahan.
Setiap pasangan bisa salah bicara, salah mengambil keputusan, lupa memenuhi janji, atau melakukan sesuatu yang mengecewakan pasangannya.
Yang membedakan rumah tangga yang mampu bertahan dan yang terus memburuk adalah bagaimana pasangan menangani kesalahan tersebut.
Meminta maaf bukan berarti kalah. Memaafkan juga bukan berarti membenarkan kesalahan.
Keduanya dapat menjadi bagian dari usaha menghentikan konflik agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
Islam menggambarkan pernikahan sebagai hubungan yang di dalamnya terdapat ketenteraman, kasih sayang, dan rahmat.
Karena itu, menjaga rumah tangga tidak cukup hanya dengan menghindari perceraian. Pasangan juga perlu membangun hubungan yang sehat sejak persoalan masih kecil.
Ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan:
1. Meluangkan waktu untuk berbicara tanpa gangguan gawai.
2. Membicarakan masalah ketika emosi sudah lebih tenang.
3. Menghargai kontribusi pasangan.
4. Membuat kesepakatan tentang pengelolaan keuangan.
5. Menyusun pola pengasuhan anak bersama.
6. Menjaga privasi dan kehormatan pasangan.
7. Membiasakan meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
8. Membangun kebiasaan ibadah bersama.
9. Tidak menjadikan media sosial sebagai tempat membuka masalah rumah tangga.
10. Mencari bantuan dari konselor, psikolog, penghulu, atau tokoh agama yang kompeten ketika masalah sudah sulit diselesaikan sendiri.
Pada akhirnya, rumah tangga yang sakinah bukan berarti rumah tangga yang tidak pernah menghadapi masalah.
Baca juga: Istri Gugat Cerai, Apakah Mahar Harus Dikembalikan Menurut Hukum Islam?
Rumah tangga yang sehat adalah rumah tangga yang memiliki cara untuk menghadapi masalah tanpa kehilangan rasa hormat, kasih sayang, dan tanggung jawab.
Sebagaimana disebutkan dalam Surah Ar-Rum ayat 21, Allah menjadikan mawaddah dan rahmah di antara pasangan. Karena itu, kasih sayang dalam keluarga bukan hanya sesuatu yang dirasakan, tetapi juga sesuatu yang perlu dirawat melalui sikap, komunikasi, tanggung jawab, dan kesediaan untuk terus belajar memahami pasangan.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT