
WORKSHOP Bu Nyai Nusantara hadir bukan hasil dari pemikiran yang ujug-ujug dan reaktif. Tema besar yang kami pilih adalah edukasi seks, kesehatan mental, dan keharmonisan rumah tangga.
Bertahun-tahun saya membuka open house setiap Jum’at. Saya menerima banyak keluhan dan pengaduan terkait keharmonisan hubungan pak kiai dan bu nyai yang berdampak pada kelangsungan pesantren.
Ada yang pisah ranjang, cerai, bahkan ada yang berdampak pada praktik pencabulan. Puncaknya adalah ketika berita mengenai pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum pengasuh pesantren, panti asuhan, atau majelis taklim meledak dan viral.
Setelah saya telaah, sumber masalahnya adalah hubungan yang tidak harmonis di rumah tangga. Ketidakharmonisan memicu berbagai persoalan.
Pemahaman ini semakin menguat setalah mendapatkan tambahan bukti-bukti empiris dari peserta workshop berseri yang dilaksanakan Imam Jazuli Foundation dari bulan Juni hingga Agustus 2026.
Baca juga: Mengenal 7 Dimensi Pendidikan Holistik di Pesantren La Tansa
Ada 5.000 lebih peserta workshop dari seluruh Indonesia, khususnya para kiai yang telah mengasuh pesantren dengan santri minimal 100 sampai 3.000. Saya ajak mereka untuk melakukan transformasi pesantren bareng-bareng sebagai respons terhadap perubahan disruptif hari ini. Dari ruang ini, muncul juga persoalan yang terkait hubungan rumah tangga.
Di sisi lain, panggilan kiai dari masyarakat, selain sebagai penghormatan, juga amanah yang besar. Sehingga seorang kiai tidak memiliki ruang kebebasan sosial sebagaimana orang lain.
Ketika hubungan rumah tangga bermasalah, termasuk urusan seks, dan pada saat yang sama kebebasan sosialnya terbatas, maka pelampiasannya adalah kepada orang-orang terdekat.
Untuk mengantisipasi hal-hal yang kita khawatirkan itu terjadi dan untuk meningkatkan kualitas keharmonisan pak kiai dan bu nyai, terutama urusan seks, maka workshop ini akhirnya kami adakan.
Di workshop perdana ini kami adakan di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2 pada Minggu (13/09/26). Hadir sebagai peserta 500 bu nyai dari Jawa Barat. Selanjutnya, kami menargetkan untuk 5.000 bu nyai di seluruh Indonesia.
Workshop ini bukan membahas soal teknis hubungan seksual. Itu terlalu sempit. Justru yang terpenting adalah memahami sejumlah faktor yang sangat menentukan kualitas keharmonisan hubungan suami-istri, mulai dari komunikasi, kesehatan mental, dan edukasi seks secara lebih luas.
Karena itu, untuk memperkuat dan memperkaya bekal ilmu yang saya sampaikan, Imam Jazuli Foundation mendatangkan dua narasumber nasional, yaitu Ketua Kesehatan Mental Indonesia, Hena Rustiana SPsi CFP dan dokter H Boyke Dian Nugraha, dokter sekaligus pakar seksolog Indonesia.
Kualitas komunikasi menentukan kualitas keharmonisan hubungan suami-istri. Komunikasi yang bagus memperkuat keintiman emosi dan ini akan terkait dengan rasa dihargai, diterima, dan terhubung (silaturrahim atau connecting). Bagi banyak orang, pengalaman hubungan seksual yang memuaskan bukan semata respons biologis, tetapi juga pengalaman hubungan interpersonal yang bagus.
Ketika pasangan suami-istri dapat mengungkapkan kebutuhan, preferensi, kekhawatiran, dan batasan tanpa rasa takut atau dihakimi, maka kecemasan akan menurun. Kondisi ini mendukung respons seksual yang lebih bagus karena perhatian tidak terserap oleh rasa takut, konflik, atau malu.
Meski konflik tidak bisa dihindari dalam rumah tangga, tapi konflik yang ukurannya berlebihan, apalagi sudah dibarengi permusuhan, maka hal ini dapat mengaktifkan sistem stress dalam tubuh sehingga dapat menghambat gairah seks kepada pasangan. Tapi konflik yang masih bisa dikelola dengan sadar dan baik, termasuk konflik yang tidak berdampak signifikan terhadap menurunnya hubungan seks.
Hubungan seksual yang sehat membutuhkan tubuh yang berfungsi baik, tetapi juga pikiran dan hati yang cukup tenang, emosi yang terkontrol, dan hubungan yang aman secara psikologis.
Karen itu, untuk memperbaiki kualitas hubungan seksual tidak selalu dimulai dari persoalan teknik seksual. Kadang masalah yang tampak sebagai “masalah seks” sebenarnya berakar pada stres, konflik, kecemasan, kelelahan emosional, rendahnya rasa aman, atau buruknya komunikasi.
Depresi dan gangguan kecemasan dapat menurunkan gairah dan kemampuan mencapai orgasme. Stres kronis yang berkepanjangan dapat mengganggu keadaan yang diperlukan untuk gairah seksual. Dengan kata lain, tubuh yang terus berada dalam kondisi “terancam” lebih sulit memasuki keadaan relaksasi dan respons seksual.
Karena itu, masalah seksual dalam perkawinan sebaiknya tidak selalu dipandang sebagai persoalan teknik seksual, tetapi sebagai bagian dari sistem kesehatan psikologis dan kualitas relasi pasangan.
Edukasi seks bagi suami-istri penting karena fungsi seksual merupakan hasil interaksi antara faktor biologis, psikologis, dan relasional, bukan semata-mata persoalan teknik hubungan seksual.
Pengetahuan yang memadai mengenai anatomi, fisiologi respons seksual, kesuburan, perubahan hormonal, serta variasi normal respons seksual membantu pasangan membangun ekspektasi yang realistis dan mengurangi miskonsepsi.
Seseorang yang memahami bahwa respons seksual tidak selalu berlangsung dengan pola yang sama cenderung tidak mudah menginterpretasikan variasi seksual sebagai kegagalan atau kelainan.
Baca juga: Pesantren Baitul Arqom Latih Santri Bertani dan Beternak untuk Ketahanan Pangan
Edukasi juga meningkatkan kemampuan membicarakan kebutuhan, preferensi, kenyamanan, batasan, dan persoalan seksual secara terbuka. Komunikasi semacam ini berperan penting dalam kepuasan seksual dan hubungan secara umum.
Dengan demikian, edukasi seks dalam perkawinan sebenarnya adalah pendidikan tentang integrasi tubuh, otak, emosi, komunikasi, dan relasi. Tujuannya bukan sekadar meningkatkan performa seksual, tetapi menciptakan kehidupan seksual yang sehat, aman, saling memuaskan, dan memperkuat kualitas perkawinan. (*)
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.