Editor
KOMPAS.com — Ilmu Nahwu selama ini lebih banyak dikenal sebagai disiplin tata bahasa Arab. Ia mengajarkan bagaimana sebuah kata ditempatkan secara tepat dalam kalimat agar makna tidak melenceng.
Namun, di tangan KH Miftachul Akhyar Abdul Ghani al-Jawi al-Indunisi, Nahwu memperoleh makna yang jauh lebih luas. Tata bahasa tidak berhenti pada kefasihan lisan, tetapi menjadi jalan untuk membangun kefasihan perilaku, kebersihan hati, dan kualitas kehidupan manusia.
Gagasan itulah yang menjadi napas utama kitab Al-Fathatu Al-Rabbaniyyah 'ala al-Muqaddimah al-Ajurrumiyah, karya KH Miftachul Akhyar, yang diterbitkan Dar Nahdlah al-Turats, Bangkalan, pada Juni 2026. Kitab setebal 315 halaman ini kemudian dibaca KH Imam Jazuli, pimpinan Ponpes Bina Insan Mulia, sebagai tawaran pemikiran yang menarik untuk melihat pembangunan Indonesia dari perspektif Nahwu-Sufistik.
Buku ini tidak sekadar mengajak pembaca memahami gramatika bahasa Arab. Lebih dari itu, ia menghubungkan struktur bahasa dengan pembentukan jiwa manusia.
Bagi KH Imam Jazuli, gagasan tersebut relevan dengan perjalanan Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045. Sebab, pembangunan bangsa tidak cukup hanya ditopang pertumbuhan ekonomi, bonus demografi, kekayaan alam, infrastruktur, dan kemajuan teknologi. Semua itu membutuhkan fondasi moral dan spiritual yang kuat.
"Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi negara maju. Bonus demografi, kekayaan alam, dan posisi geografis strategis menjadi keunggulan yang tidak dimiliki semua negara. Tetapi keunggulan tersebut tidak otomatis mengantarkan bangsa menuju kemajuan apabila tidak disertai kualitas manusia dan integritas para pengelolanya," kata KH Imam Jazuli dalam keterangan tertulis, Senin (14/9/2026).
Baca juga: Dari Kitab Kuning hingga Lemhannas, Jejak Pendidikan Holistik Darul Amanah
Di titik inilah kitab KH Miftachul Akhyar menawarkan perspektif berbeda: pembangunan lahiriah harus berjalan bersama pembangunan batiniah.
kitab Al-Fathatu Al-Rabbaniyyah 'ala al-Muqaddimah al-Ajurrumiyah, karya KH Miftachul Akhyar,Salah satu gagasan menarik dalam kitab tersebut adalah hubungan antara kefasihan bahasa dan kebersihan hati.
KH Miftachul Akhyar mengingatkan bahwa setelah memperbaiki lisan, manusia juga harus memperbaiki hati dengan membersihkannya dari berbagai penyakit batin seperti riya, hasad, ujub, takabur, dengki, kebencian, kesewenang-wenangan, hingga kecenderungan mengejar popularitas dan kemewahan dunia.
Pesan tersebut membuat ilmu Nahwu tidak lagi sekadar menjadi perangkat untuk membaca teks berbahasa Arab. Ia berubah menjadi semacam latihan untuk memperbaiki manusia secara utuh.
Dalam pembacaan KH Imam Jazuli, gagasan ini memiliki relevansi kuat dengan kehidupan publik. Kefasihan berbicara, kepiawaian berpidato, dan kemampuan menyusun retorika politik tidak akan berarti banyak apabila tidak dibarengi tindakan nyata.
"Dengan kata lain, lisan yang fasih harus melahirkan tindakan yang fasih pula," katanya.
Gagasan tersebut diringkas dalam salah satu pesan penting kitab: “Laisa al-muradu fashahatal-maqal, wa innama al-muradu fashahatal-fi'al”—yang terpenting bukan kefasihan kata-kata, melainkan kefasihan tindakan.
Pesan itu sekaligus menjadi kritik terhadap kecenderungan manusia modern yang mudah terjebak pada retorika. Kata-kata dapat terdengar indah, tetapi ukuran sesungguhnya adalah tindakan yang lahir setelah kata-kata tersebut diucapkan.
Keunikan kitab ini semakin terlihat ketika KH Miftachul Akhyar membawa tiga unsur dasar dalam tata bahasa Arab—Isim, Fi'il, dan Huruf—ke dalam pembacaan kehidupan manusia.
Isim dibaca sebagai orientasi ketuhanan dan ketulusan pengabdian. Dalam konteks kehidupan berbangsa, gagasan tersebut dapat diterjemahkan sebagai kesadaran bahwa pengelolaan bumi dan sumber daya alam harus berorientasi pada kemaslahatan manusia, bukan semata-mata kepentingan segelintir kelompok.
Fi'il kemudian dikaitkan dengan gerak dan tindakan. Dalam konteks pembangunan, ia dapat dimaknai sebagai keberanian untuk melakukan perubahan, termasuk membersihkan diri dan institusi dari berbagai penyakit seperti korupsi dan keserakahan.
Sementara Huruf dipahami sebagai penghubung dan arah perjalanan. Dari sini, KH Imam Jazuli membaca rangkaian huruf jar dalam bahasa Arab sebagai semacam metafora perjalanan bangsa menuju cita-cita yang lebih tinggi.
Huruf min, misalnya, dapat dibaca sebagai simbol titik awal perjalanan. Sebuah bangsa harus mengetahui dari mana ia memulai pembenahan. Pendidikan dasar, kualitas sumber daya manusia, dan penguatan riset menjadi fondasi yang tidak dapat dilewati.
Kemudian ila menggambarkan arah tujuan. Indonesia membutuhkan cita-cita yang jelas untuk membangun kedaulatan ekonomi dan menentukan posisinya sendiri dalam percaturan global.
Perjalanan itu tentu tidak selalu mulus. Ada 'an, 'ala, fi, rubba, ba, kaf, sin, hingga sawfa yang oleh KH Imam Jazuli dibaca sebagai tahapan, ujian, sikap, harapan, dan proses panjang menuju kemajuan.
Baca juga: Jelang Muktamar NU, KH Zulfa Mustofa Ajak Ulama Hidupkan Tradisi Menulis Kitab
Di sinilah pendekatan Nahwu-Sufistik terasa menarik. Tata bahasa yang pada awalnya tampak teknis dan akademis berubah menjadi refleksi tentang bagaimana manusia dan bangsa menjalani perjalanan hidup.
Menurut KH Imam Jazuli, buku ini pada akhirnya mengajak pembaca menggeser cara pandang tentang pembangunan.
Pembangunan tidak hanya berarti jalan yang semakin panjang, gedung yang semakin tinggi, kawasan industri yang semakin luas, atau angka pertumbuhan ekonomi yang semakin besar.
Ada pembangunan yang jauh lebih mendasar: membangun manusia yang mengendalikan semua kemajuan tersebut.
Teknologi yang maju tanpa moral dapat menjadi alat keserakahan. Kekayaan alam yang melimpah tanpa keadilan dapat memperlebar kesenjangan. Kekuasaan tanpa integritas dapat berubah menjadi ruang penyalahgunaan kewenangan.
Karena itu, visi Indonesia Emas 2045 membutuhkan lebih dari sekadar strategi ekonomi. Ia membutuhkan manusia yang mampu mengintegrasikan kecerdasan, pengetahuan, spiritualitas, dan akhlak.
Perspektif tersebut membuat kitab Al-Fathatu Al-Rabbaniyya menarik dibaca bukan hanya oleh mereka yang mendalami Nahwu, tetapi juga oleh kalangan yang ingin melihat hubungan antara pendidikan pesantren, tasawuf, kepemimpinan, dan pembangunan bangsa.
Yang juga menarik dalam tulisan KH Imam Jazuli adalah ketika gagasan kitab tersebut dikaitkan dengan pribadi KH Miftachul Akhyar.
Menurut KH Imam Jazuli, keteladanan tidak selalu hadir melalui pidato atau pernyataan panjang. Kadang justru terlihat dari cara seseorang menghadapi kritik dan hujatan.
Sikap tidak membalas cemoohan dengan cemoohan menjadi ilustrasi konkret dari pesan yang terdapat dalam kitab: bahwa kualitas seseorang pada akhirnya tidak hanya diukur dari kefasihan lisannya, tetapi dari tindakan dan akhlaknya.
Di sinilah buku tersebut menemukan relevansinya.
Nahwu tidak lagi sekadar berbicara tentang i'rab, kedudukan kata, atau struktur kalimat. Ia menjadi pintu masuk menuju pertanyaan yang lebih besar: apakah bahasa yang kita ucapkan sudah sejalan dengan tindakan yang kita lakukan?
Pertanyaan itu menjadi penting dalam kehidupan pribadi sekaligus kehidupan berbangsa.
Sebab, Indonesia Emas 2045 tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas dan terampil. Indonesia juga membutuhkan manusia yang memiliki integritas, rendah hati, mampu mengendalikan keserakahan, dan menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian.
Baca juga: Kiai Imam Jazuli, Tokoh Transformatif Pesantren
Pada akhirnya, pembacaan KH Imam Jazuli terhadap Al-Fathatu Al-Rabbaniyyah membawa satu pesan sederhana tetapi mendalam: kemajuan bangsa harus dimulai dari pembangunan jiwa manusia.
Kefasihan lisan perlu disempurnakan dengan kefasihan tindakan. Kecerdasan harus ditemani akhlak. Pembangunan fisik perlu ditopang pembangunan batin.
Dari ruang pesantren, gagasan Nahwu-Sufistik itu menawarkan sebuah kompas: bahwa perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 bukan hanya perjalanan menuju bangsa yang kaya dan maju, tetapi juga menuju bangsa yang beradab dan berakhlak.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.