KOMPAS.com - Kehilangan orang yang dicintai merupakan ujian berat dalam kehidupan. Dalam Islam, menghibur orang yang sedang berduka atau bertakziah bukan sekadar tradisi sosial, melainkan bentuk kepedulian dan ibadah yang dianjurkan Rasulullah SAW.
Takziah bertujuan menguatkan hati keluarga yang ditinggalkan, mendoakan jenazah, serta mengingatkan tentang kesabaran dan harapan kepada rahmat Allah SWT.
Rasulullah SAW memberikan teladan bagaimana menyampaikan ucapan belasungkawa dengan penuh kelembutan.
Beliau tidak memperpanjang ratapan, tetapi menguatkan hati orang yang berduka melalui doa dan kalimat yang menenangkan.
Dalam Islam, takziah berarti menghibur dan menguatkan keluarga yang sedang ditimpa musibah.
Bentuknya dapat berupa mengunjungi keluarga, menyampaikan doa, membantu kebutuhan mereka, atau sekadar memberikan dukungan dengan ucapan yang baik.
Allah SWT berfirman bahwa setiap manusia pasti akan menghadapi ujian, termasuk kehilangan orang yang dicintai.
Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah Ayat 155–156:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ
Wa lanabluwannakum bisyai'im minal-khaufi wal-jū‘i wa naqṣim minal-amwāli wal-anfusi waṡ-ṡamarāt, wa basysyiriṣ-ṣābirīn. Allażīna iżā aṣābathum muṣībatun qālū innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.
Artinya: “Dan sungguh, Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.’”
Ayat ini menjadi dasar mengapa ucapan Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un dianjurkan ketika mendengar kabar duka.
Baca juga: Mengapa Rasulullah Dijuluki Al-Amin? Ini Kisahnya
Salah satu contoh takziah Rasulullah SAW terdapat dalam hadis sahih ketika putri beliau kehilangan anaknya. Rasulullah mengirimkan pesan yang berisi penghiburan dan ajakan untuk bersabar.
إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ، وَلَهُ مَا أَعْطَى، وَكُلُّ شَىْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى، فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ
Inna lillāhi mā akhaża, wa lahu mā a‘ṭā, wa kullu syai'in ‘indahu bi ajalim musammā, faltashbir waltaḥtasib.
Artinya: “Sesungguhnya milik Allah apa yang Dia ambil, dan milik-Nya pula apa yang Dia berikan. Segala sesuatu di sisi-Nya memiliki ajal yang telah ditentukan. Maka bersabarlah dan berharaplah pahala kepada Allah.” (Sahih al-Bukhari No. 1284)
Hadis ini menjadi salah satu doa dan ucapan takziah yang paling banyak diamalkan umat Islam karena mengandung penghiburan tanpa menghilangkan rasa empati.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa menghibur orang yang berduka tidak harus dengan banyak kata. Ada beberapa adab yang dapat diamalkan.
1. Mendoakan keluarga yang ditinggalkan
Doa merupakan bentuk dukungan terbaik bagi orang yang sedang berduka. Selain mendoakan jenazah, umat Islam juga dianjurkan memohon agar keluarga diberi kesabaran dan keteguhan hati.
2. Menyampaikan ucapan yang menenangkan
Ucapan seperti hadis di atas lebih utama daripada kalimat yang bersifat menghakimi atau membandingkan musibah seseorang dengan orang lain. Islam mengajarkan agar lisan menjadi sumber ketenangan.
3. Hadir dan menunjukkan empati
Kehadiran sering kali lebih bermakna daripada nasihat yang panjang. Mengunjungi rumah duka, membantu proses pemakaman, atau sekadar menemani keluarga menjadi bentuk nyata kepedulian sosial.
4. Membantu kebutuhan keluarga
Rasulullah SAW juga mencontohkan membantu keluarga yang sedang berduka dengan memenuhi kebutuhan mereka, karena mereka sedang disibukkan oleh musibah yang menimpa.
اصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا، فَقَدْ أَتَاهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ
Iṣna‘ū li āli Ja‘farin ṭa‘āman, faqad atāhum mā yasyghaluhum.
Artinya: “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja‘far, karena telah datang kepada mereka sesuatu yang menyibukkan mereka.”
Hadis ini menjadi dasar anjuran membantu keluarga yang berduka, bukan justru membebani mereka dengan urusan jamuan.
Islam juga mengajarkan agar seorang Muslim menjaga lisannya ketika bertakziah. Kalimat seperti “sudah ikhlas belum?”, “mungkin ini hukuman”, atau membandingkan musibah orang lain tidak pernah dicontohkan Rasulullah SAW.
Sebaliknya, ucapan yang lembut, doa, dan penguatan agar bersabar lebih sesuai dengan adab Islam.
Tujuan takziah adalah meringankan beban hati, bukan menambah luka melalui perkataan yang kurang bijaksana.
Allah SWT menjanjikan kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar menghadapi musibah.
Kesabaran dalam Islam bukan berarti menahan semua emosi, tetapi menerima takdir Allah sambil tetap berikhtiar dan berharap pahala dari-Nya.
Karena itu, menghibur orang berduka menurut Rasulullah bukan sekadar mengucapkan belasungkawa.
Takziah adalah bentuk kasih sayang yang diwujudkan melalui doa, empati, kehadiran, serta bantuan nyata kepada keluarga yang sedang kehilangan. Dengan menjaga adab tersebut, seorang Muslim ikut menghadirkan ketenangan di tengah musibah yang dialami saudaranya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.