Editor
KOMPAS.com — Gunung kerap menjadi simbol kekokohan dan keagungan alam. Bentuknya yang menjulang tinggi serta struktur batuannya yang kuat membuat gunung seolah tidak mudah tergerus oleh pergantian zaman.
Namun, kekokohan tersebut tidak akan bertahan ketika hari kiamat tiba. Al Quran menggambarkan gunung-gunung akan hancur dan beterbangan seperti bulu yang dihambur-hamburkan.
Muhammad Zainul Mujahid, alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo yang kini mengabdi di Pondok Pesantren Manhalul Ma’arif, Lombok Tengah, mengatakan, gambaran tersebut menunjukkan betapa dahsyatnya peristiwa hari kiamat.
Baca juga: 4 Keutamaan Menjaga Wudhu, dari Penghapus Dosa hingga Menjadi Cahaya di Hari Kiamat
Menurut dia, gunung yang dikenal sebagai salah satu bagian alam paling kokoh akan kehilangan seluruh kemegahannya.
“Gunung adalah simbol kekokohan alam, sedangkan bulu merupakan benda yang rapuh dan mudah diterbangkan angin. Perumpamaan ini menambah kesan mengenai kengerian dan kedahsyatan hari kiamat,” kata Zainul dalam keterangannya.
Gambaran mengenai keadaan gunung pada hari kiamat salah satunya terdapat dalam Surat Al-Qari’ah ayat 1-5. Allah SWT berfirman:
الْقَارِعَةُۙ ١ مَا الْقَارِعَةُ ۚ ٢ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الْقَارِعَةُ ۗ ٣ يَوْمَ يَكُوْنُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوْثِۙ ٤ وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوْشِۗ ٥
Artinya, “Hari Kiamat. Apakah hari Kiamat itu? Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu? Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.”
Zainul menjelaskan, ayat tersebut menyajikan dua gambaran yang memperlihatkan kekacauan luar biasa pada hari kiamat. Manusia diibaratkan seperti laron yang beterbangan, sedangkan gunung menjadi seperti bulu yang tercerai-berai.
Baca juga: Doa Membasuh Wajah Saat Wudhu agar Bercahaya di Hari Kiamat
Mengutip penjelasan Ibnu ‘Asyur dalam At-Tahrir wat Tanwir, persamaan antara kondisi gunung dan bulu yang berhamburan terletak pada bagian-bagiannya yang sama-sama terpisah.
Gunung-gunung akan hancur akibat guncangan yang sangat kuat, kemudian bagian-bagiannya tercerai-berai.
وَوَجْهُ الشَّبَهِ تَفَرُّقُ الْأَجْزَاءِ لِأَنَّ الْجِبَالَ تَنْدَكُّ بِالزَّلَازِلِ وَنَحْوِهَا فَتَتَفَرَّقُ أَجْزَاءً
Artinya, “Titik persamaannya adalah bagian-bagiannya yang sama-sama terpisah. Sesungguhnya gunung-gunung akan hancur disebabkan oleh guncangan hari kiamat sehingga terpencar menjadi beberapa bagian.”
Keterangan tersebut tercantum dalam At-Tahrir wat Tanwir karya Thahir bin ‘Asyur, juz 30, halaman 512-513.
Abu Bakar Al-Biqa’i dalam Nazhmud Durar juga menjelaskan bahwa gunung merupakan salah satu bagian alam terkuat yang dapat disaksikan manusia.
Karena itu, gambaran mengenai kehancuran gunung dapat menimbulkan kesadaran tentang kedahsyatan hari kiamat. Gunung yang tersusun dari bebatuan dan tertanam kuat di bumi akan berubah menjadi seperti bulu berwarna yang mudah berhamburan.
Dikutip dari NU Online, Zainul mengatakan, perumpamaan tersebut sekaligus memperlihatkan ketidakberdayaan manusia.
Jika gunung yang kukuh saja dapat hancur, manusia yang secara fisik jauh lebih lemah tentu tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi peristiwa tersebut.
Hal ini juga dijelaskan Syekh Musthafa Al-Maraghi dalam Tafsir Al-Maraghi. Menurut Al-Maraghi, gunung pada hari kiamat akan tercerai-berai hingga hanya menyerupai bulu yang dihamburkan.
“Lantas, bagaimana dengan manusia ketika peristiwa itu terjadi, sementara ia adalah makhluk yang lemah dan tubuhnya mudah hancur?” tulis Al-Maraghi sebagaimana dikutip Zainul.
Zainul mengatakan, gambaran kehancuran gunung dalam Surat Al-Qari’ah bukan hanya menjelaskan keadaan alam ketika kiamat terjadi.
Ayat tersebut juga mengandung pelajaran agar manusia menyadari bahwa kekuatan, kekuasaan, kedudukan, dan kekayaan duniawi tidak akan berarti ketika hari pertanggungjawaban tiba.
Harta yang dikumpulkan manusia akan ditinggalkan, sedangkan kekuasaan dan kekuatan yang dibanggakan akan sirna. Setiap orang hanya akan mempertanggungjawabkan iman dan perbuatannya.
Sayyid Muhammad Thanthawi dalam Tafsir Al-Wasith menjelaskan, orang yang merenungkan ayat-ayat tersebut akan menemukan peringatan kuat mengenai kedahsyatan hari kiamat.
Ayat tersebut sekaligus mendorong manusia untuk mempersiapkan kehidupan akhirat melalui keimanan dan amal saleh.
“Gambaran mengenai hancurnya gunung menjadi bahan refleksi agar manusia tidak terlalu membanggakan kekuatan, kekuasaan, dan kekayaan,” ujar Zainul.
Sebab, lanjut dia, gunung yang tampak begitu kukuh saja akan hancur akibat kedahsyatan hari kiamat. Sementara manusia merupakan makhluk yang lemah dan kehidupannya di dunia hanya berlangsung sementara.
Karena itu, kesadaran mengenai datangnya hari pertanggungjawaban seharusnya mendorong umat Islam untuk memperkuat iman, memperbanyak amal saleh, dan tidak terlena oleh kemegahan dunia.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.