Penulis
KOMPAS.com — Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2021-2026 Saifullah Yusuf atau Gus Ipul memastikan tengah menyiapkan langkah hukum terhadap pihak-pihak yang dinilai menyebarkan tudingan tanpa bukti terkait pelaksanaan Muktamar ke-35 NU.
Langkah hukum tersebut akan diawali dengan somasi terhadap tiga orang. Gus Ipul mengatakan somasi kemungkinan dilayangkan paling lambat pekan depan.
Hal tersebut disampaikan Gus Ipul dalam wawancara langsung melalui sambungan telepon pada Rabu (23/9/2026).
"Saat ini saya sedang berkonsultasi dengan kuasa hukum saya dan Rais Aam. Kemungkinan langkah hukum dilakukan minggu depan," kata Gus Ipul.
Ketika ditanya mengenai siapa saja pihak yang akan menerima somasi, Gus Ipul belum bersedia mengungkapkan identitas mereka.
"Nanti saja sekalian ya," ujarnya singkat.
Sebelumnya, Gus Ipul menyebut sedikitnya ada tiga orang yang akan disomasi. Mereka akan diminta mempertanggungjawabkan sekaligus membuktikan pernyataan yang telah disampaikan kepada publik terkait Muktamar NU.
"Ada tiga orang yang akan kita somasi. Mereka akan kita minta untuk membuktikan apa yang sudah mereka ucapkan. Kalau tidak bisa membuktikan, tentu akan kita teruskan melalui jalur hukum," kata Gus Ipul dilansir dari Tribunnews, Selasa (22/9/2026).
Baca juga: Gus Kikin Targetkan Kepengurusan PBNU 2026-2031 Rampung 30 Hari usai Muktamar
Gus Ipul menegaskan langkah tersebut bukan dimaksudkan untuk membatasi kritik maupun perbedaan pendapat di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Menurut dia, setiap pernyataan yang disampaikan di ruang publik, terlebih jika berupa tudingan, harus dapat dipertanggungjawabkan.
"Kita mencatat, kita mencermati semua pendapat yang diberikan oleh kader-kader NU di media sosial. Tentu setiap yang disampaikan harus dipertanggungjawabkan," ujarnya.
Sebagai Ketua Panitia Pelaksana Muktamar ke-35 NU, Gus Ipul menegaskan bahwa seluruh proses Muktamar telah berlangsung secara terbuka dan demokratis.
Ia juga menyatakan keputusan Muktamar merupakan keputusan forum resmi yang diikuti peserta Muktamar.
"Muktamar sudah selesai. Yang kalah terhormat, yang menang bermartabat. Perdebatan terjadi di sana. Tidak ada penolakan terhadap Laporan Pertanggungjawaban PBNU sebelumnya. Pilihannya demokratis, merupakan titipan langsung dari peserta Muktamar. Tidak ada titipan dari mana pun," katanya dikutip dari Tribunnews.
Gus Ipul sebelumnya juga menegaskan proses pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU berlangsung sesuai ketentuan dan transparan.
Karena itu, ia menyayangkan masih munculnya berbagai narasi di media sosial yang memperdebatkan proses Muktamar setelah forum tersebut berakhir.
"Kita prihatin ada berita-berita yang luar biasa di luar sana, khususnya di media sosial, yang terus dikembangkan oleh sejumlah pihak," ujarnya.
Menurut Gus Ipul, kritik terhadap organisasi tetap merupakan bagian dari dinamika NU. Namun, kebebasan berpendapat harus diikuti dengan tanggung jawab.
"Kalau seseorang menyampaikan tudingan, silakan dibuktikan. Jangan hanya melempar pernyataan ke ruang publik kemudian merasa tidak memiliki tanggung jawab," katanya.
Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor Addin Jauharudin mengajak seluruh kader dan warga NU menghentikan perdebatan mengenai hasil Muktamar.
Menurut Addin, seluruh proses Muktamar telah memiliki legitimasi dan kini waktunya seluruh elemen NU kembali menjalankan khidmah kepada umat.
"Muktamar sudah selesai. Semua proses dari A sampai Z sudah punya legitimasi penuh. Karena itu saya mengimbau seluruh sahabat dan warga NU, mari kita sudahi perdebatan soal Muktamar," kata Addin dilansir dari Tribunnews.
Ia juga mengingatkan agar perbedaan selama Muktamar tidak berkembang menjadi perpecahan internal.
"Jangan biarkan perpecahan internal menjadi tontonan banyak pihak. Jika kita masih merasa menjadi bagian dari NU, mari jaga martabat jam'iyyah ini bersama-sama," ujarnya.
Baca juga: Hasil Muktamar ke-35 NU: Soroti Korupsi hingga Koperasi Merah Putih
Gus Ipul mengapresiasi sikap tersebut. Ia mengatakan semangat yang perlu dikedepankan setelah Muktamar adalah rekonsiliasi, persatuan, dan penghormatan terhadap keputusan organisasi.
"Yang kalah terhormat, yang menang bermartabat. Sekarang waktunya kembali berkhidmat. NU saklawase," kata Gus Ipul.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.