Editor
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengingatkan pentingnya merawat sejarah lembaga pendidikan.
Menurut dia, pengalaman dan nilai yang tumbuh di sekolah perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Sejarah sebuah lembaga pendidikan akan kehilangan maknanya jika tidak dirawat dan diwariskan,” kata Haedar, menanggapi penerbitan buku MUHI untuk Negeri: Sejarah, Alumni, Sumbangsih.
Baca juga: Haedar Nashir Ungkap Alasan Muhammadiyah Tidak Memiliki Dewan Syuro
Buku tersebut menghimpun perjalanan SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta (MUHI) beserta kisah para guru dan alumninya.
Buku hasil kerja sama sekolah dan Ikatan Alumni SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta (IKAMUHI) itu diperkenalkan dalam peringatan milad ke-77 MUHI di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Rabu (23/9/2026).
Ketua Umum IKAMUHI Ida Pujiastuti mengatakan, buku itu disusun untuk mengingat kembali perjuangan para pendiri dan guru, sekaligus mencatat kontribusi alumni di berbagai bidang.
“Melalui lembaran buku ini, kita diajak untuk tidak melupakan akar sejarah dan perjuangan para pendiri serta guru-guru kita terdahulu,” ujar Ida dalam rilisnya, Kamis (24/9/2026).
Menurut Ida, pengalaman bersekolah di MUHI tidak hanya berkaitan dengan pelajaran di kelas.
Ia menyebut sekolah juga menjadi tempat tumbuhnya keimanan, karakter, semangat kebangsaan, dan kepedulian untuk berbuat sesuatu bagi masyarakat.
Pesan serupa disampaikan alumni MUHI angkatan 1971, Busyro Muqoddas. Ia berharap buku tersebut ikut menguatkan peran sekolah dalam membentuk calon pemimpin dan pembelajar yang terus menuntut ilmu dengan menjunjung akhlak.
Baca juga: Muhammadiyah Ucapkan Selamat ke Pimpinan Baru PBNU, Haedar: Perkuat Ukhuwah
Buku setebal 418 halaman itu disusun selama lebih dari tiga bulan. Ketua tim penulis, Fernan Rahadi, mengatakan lebih dari 120 narasumber diwawancarai, mulai dari alumni lintas angkatan, guru, mantan guru, hingga keluarga tokoh yang pernah menjadi bagian dari MUHI.
Kisah alumni yang dihimpun membentang dari lulusan 1963 hingga 2025. Salah satu narasumber tertua, Siti Hadiroh, merupakan lulusan 1963. Ia meninggal dunia ketika proses penyusunan buku masih berlangsung.
Fernan mengatakan, mengumpulkan cerita dan dokumentasi dari rentang waktu sepanjang itu tidak mudah.
Tim penulis harus mencari kontak narasumber serta menelusuri foto-foto lama hingga mendekati tenggat pencetakan.
“Dalam pengumpulan foto-foto pun tak kalah tantangannya, perburuan foto berlangsung hingga akhir tenggat naik cetak,” kata Fernan.
Bagi Kepala Sekolah MUHI Herynugroho, buku tersebut merekam sebagian pengalaman dan perjuangan keluarga besar sekolah.
Ia berharap generasi MUHI saat ini dapat mengenal perjalanan pendahulunya dan menemukan dorongan untuk terus belajar serta memberi manfaat.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.