Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Muhammadiyah: Kemajuan Umat Harus Dimulai dari Masjid hingga Kemandirian Ekonomi

Kompas.com, 22 September 2026, 07:10 WIB
Puji Sri Rahayu,
Reni Susanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Waluyo menegaskan, kemajuan umat Islam tidak dapat dibangun hanya melalui pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik.

Menurutnya, peradaban yang kuat harus bertumpu pada tiga fondasi utama, yakni masjid, keluarga, dan kemandirian ekonomi.

Pernyataan tersebut disampaikan Waluyo dalam Pengajian Tarjih Muhammadiyah yang mengangkat tema kemajuan umat.

Ia mengatakan, tantangan yang dihadapi umat saat ini bukan hanya persoalan kesejahteraan, tetapi juga melemahnya karakter, solidaritas sosial, dan kemandirian masyarakat.

Karena itu, ia mengajak umat Islam untuk mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat pembinaan, memperkuat keluarga sebagai sekolah pertama bagi generasi, serta membangun ekonomi yang produktif dan berkeadilan.

Baca juga: BPKH Kelola Dana Haji Rp 184 Triliun, 70 Persen Ditempatkan di Sukuk Negara

Masjid Harus Menjadi Pusat Peradaban

Waluyo menjelaskan bahwa sejak masa Rasulullah SAW, masjid memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar tempat melaksanakan shalat berjamaah.

Masjid menjadi ruang pendidikan, musyawarah, pelayanan sosial, hingga pemberdayaan masyarakat.

Menurutnya, fungsi tersebut perlu dihidupkan kembali agar masjid mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi umat.

Ia menilai berbagai persoalan seperti kemiskinan, rendahnya literasi keagamaan, hingga melemahnya kepedulian sosial dapat diatasi apabila masjid kembali menjadi pusat aktivitas masyarakat.

Masjid, lanjut Waluyo, seharusnya menghadirkan program yang menyentuh kebutuhan jamaah, mulai dari kajian keislaman, pembinaan anak dan remaja, pendampingan keluarga, hingga pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas.

Baca juga: Mengapa Rasulullah Menganjurkan Tidur Miring ke Kanan? Ini Hikmahnya

“Masjid jangan hanya ramai ketika waktu shalat, tetapi juga hidup sebagai pusat kemajuan umat,” menjadi semangat yang ditekankan dalam pengajiannya.

Keluarga Menjadi Fondasi Lahirnya Generasi Berakhlak

Selain masjid, Waluyo menempatkan keluarga sebagai pilar terpenting dalam membangun peradaban Islam.

Ia mengatakan bahwa rumah tangga merupakan tempat pertama seorang anak belajar tentang iman, akhlak, kejujuran, tanggung jawab, dan kasih sayang.

Pandangan tersebut selaras dengan firman Allah SWT dalam Surah At-Tahrim ayat 6.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Yā ayyuhallażīna āmanū qū anfusakum wa ahlīkum nārā.

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Baca juga: Jelang Wajib Halal Produk Sandang, Begini Tips Memilih Baju Anak

Menurut Waluyo, ayat tersebut menunjukkan bahwa tanggung jawab membangun masyarakat dimulai dari lingkungan keluarga.

Orangtua bukan hanya bertugas memenuhi kebutuhan materi anak, tetapi juga menanamkan nilai-nilai Islam yang akan membentuk karakter mereka hingga dewasa.

Ia menilai keluarga yang harmonis akan melahirkan generasi yang memiliki integritas, kepedulian sosial, dan semangat melayani masyarakat.

Kemandirian Ekonomi Menguatkan Martabat Umat

Waluyo menegaskan bahwa ekonomi tetap menjadi bagian penting dalam kemajuan umat.

Namun, ia mengingatkan bahwa kemandirian ekonomi dalam perspektif Islam bukan sekadar mengejar keuntungan, melainkan menciptakan kesejahteraan yang memberi manfaat bagi banyak orang.

Ia mendorong umat Islam mengembangkan budaya produktif melalui kewirausahaan, penguatan usaha mikro, serta membangun jejaring ekonomi yang dilandasi semangat gotong royong.

Menurutnya, masyarakat yang mandiri secara ekonomi akan lebih mampu membiayai pendidikan, menghidupkan kegiatan masjid, dan memperluas pelayanan sosial.

Baca juga: Depresi Bukan Berarti Kurang Iman, Ini Ikhtiar Mengatasinya Menurut Islam

Prinsip tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Jumu'ah ayat 10.

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ

Fa iżā quḍiyatiṣ-ṣalātu fantasyirū fil-arḍi wabtagū min faḍlillāh.

Artinya: “Apabila shalat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu di bumi dan carilah karunia Allah.”

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam mendorong keseimbangan antara ibadah dan ikhtiar dalam mencari rezeki yang halal. Bekerja dan membangun ekonomi dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab seorang Muslim selama dilakukan dengan cara yang benar.

Tiga Pilar yang Saling Menguatkan

Waluyo menegaskan bahwa masjid, keluarga, dan ekonomi bukanlah tiga agenda yang berdiri sendiri. Ketiganya saling berkaitan dalam membentuk masyarakat yang berkemajuan.

Masjid menumbuhkan spiritualitas dan ilmu, keluarga membentuk karakter manusia, sedangkan kemandirian ekonomi menjadi penopang agar umat mampu hidup bermartabat dan memberi manfaat bagi sesama.

Apabila salah satu pilar melemah, kemajuan umat akan kehilangan fondasinya.

Baca juga: Bolehkah Minum Sambil Berdiri? Ini Dalil dan Penjelasan Ulama

Ia berharap Muhammadiyah terus menghadirkan gerakan dakwah yang membumi melalui penguatan fungsi masjid, pembinaan keluarga sakinah, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Menurutnya, kemajuan umat tidak lahir dari slogan semata, tetapi dari perubahan nyata yang dimulai di lingkungan terkecil dan tumbuh menjadi kekuatan sosial yang lebih luas. 

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Jangan Gengsi Membungkus Sisa Makanan, Ini Pesan Rasulullah
Jangan Gengsi Membungkus Sisa Makanan, Ini Pesan Rasulullah
Aktual
Mentan Amran Bangun Masjid Rp 1 Triliun dari Dana Pribadi, Ditargetkan Digunakan 2027
Mentan Amran Bangun Masjid Rp 1 Triliun dari Dana Pribadi, Ditargetkan Digunakan 2027
Aktual
Belajar dari GKPI Rajeg, Persoalan Tempat Ibadah Harus Diselesaikan lewat Dialog
Belajar dari GKPI Rajeg, Persoalan Tempat Ibadah Harus Diselesaikan lewat Dialog
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN Tanggal Berapa? Ini Prediksi Ramadan 1448 H
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN Tanggal Berapa? Ini Prediksi Ramadan 1448 H
Aktual
Visit My Mosque 2026, Muhammadiyah Kenalkan Islam Indonesia di London
Visit My Mosque 2026, Muhammadiyah Kenalkan Islam Indonesia di London
Aktual
Libur Lebaran 2027: Ada Potensi Liburan 10 Hari, Cek Tanggal Merah dan Cuti Bersama
Libur Lebaran 2027: Ada Potensi Liburan 10 Hari, Cek Tanggal Merah dan Cuti Bersama
Aktual
Mengapa Surah Maryam Sering Dibaca? Ini Keutamaan dan Kandungannya
Mengapa Surah Maryam Sering Dibaca? Ini Keutamaan dan Kandungannya
Doa Harian
Kapan Awal Ramadhan 2027? Catat Prediksi Jadwal Puasa Ramadhan 1448 H
Kapan Awal Ramadhan 2027? Catat Prediksi Jadwal Puasa Ramadhan 1448 H
Aktual
Menag Berhentikan Rektor UINSA Surabaya Akh Muzakki
Menag Berhentikan Rektor UINSA Surabaya Akh Muzakki
Aktual
Shalat Istisqa: Tata Cara, Bacaan, dan Khutbah Sesuai Tuntunan Tarjih Muhammadiyah
Shalat Istisqa: Tata Cara, Bacaan, dan Khutbah Sesuai Tuntunan Tarjih Muhammadiyah
Doa dan Niat
Kapan Awal Ramadhan 2027? Catat Prediksi Jadwal Puasa Ramadhan 1448 H
Kapan Awal Ramadhan 2027? Catat Prediksi Jadwal Puasa Ramadhan 1448 H
Aktual
Gus Ipul Siapkan Somasi, 3 Orang Bakal Diminta Buktikan Tudingan soal Muktamar NU
Gus Ipul Siapkan Somasi, 3 Orang Bakal Diminta Buktikan Tudingan soal Muktamar NU
Aktual
Awal Puasa Ramadhan 2027 Tanggal Berapa? Cek Perkiraan Tanggalnya Menurut Muhammadiyah, NU, dan BRIN
Awal Puasa Ramadhan 2027 Tanggal Berapa? Cek Perkiraan Tanggalnya Menurut Muhammadiyah, NU, dan BRIN
Aktual
Libur Lebaran 2027: Tanggal Merah dan Cuti Bersama, Bisa Liburan Sampai 10 Hari
Libur Lebaran 2027: Tanggal Merah dan Cuti Bersama, Bisa Liburan Sampai 10 Hari
Aktual
Menunda Bayar Utang Padahal Mampu, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?
Menunda Bayar Utang Padahal Mampu, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar