Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sejarah Arab Saudi: Dari Rute Rahasia di Gurun hingga Merebut Riyadh

Kompas.com, 24 September 2026, 11:41 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com — Jauh sebelum Arab Saudi menjadi sebuah negara, Riyadh telah menjadi bagian dari pikiran seorang pemuda bernama Abdulaziz bin Abdulrahman Al Saud.

Kota itu telah ia tinggalkan sejak 1891. Namun, selama bertahun-tahun berada di Kuwait, keinginan untuk kembali ke Riyadh tidak pernah benar-benar hilang.

Dalam catatan sejarah yang dihimpun King Abdulaziz Foundation for Research and Archives atau Darah, Abdulaziz muda bahkan disebut kerap meninggalkan tempat tinggalnya pada malam hari.

Ia berjalan seorang diri menuju tempat terpencil di tengah gurun.

Jauh dari permukiman dan keramaian, ia memikirkan satu hal: bagaimana Riyadh dapat direbut kembali.

Bagi Abdulaziz, keinginan tersebut ternyata bukan sekadar kerinduan terhadap kota kelahirannya.

Baca juga: Muazin Masjidil Haram Syekh Ibrahim Al-Madani Wafat, Pernah Menangis Saat Azan di Depan Kabah

Darah mencatat, tanda-tanda kepemimpinan Abdulaziz mulai terlihat pada masa tersebut. Ia tidak hanya membayangkan kembali ke Riyadh, tetapi juga melihat kemungkinan yang lebih besar, yakni membangun sebuah negara.

Percobaan Pertama Merebut Riyadh

Upaya Abdulaziz untuk kembali ke Riyadh tidak langsung berhasil.

Sekitar 1901, ia melakukan percobaan pertama dalam rangka merebut kembali kota tersebut, bertepatan dengan periode Pertempuran Al-Sarif.

Namun, upaya itu belum mencapai tujuan.

Kegagalan tersebut tidak membuat rencananya berakhir.

Beberapa bulan kemudian, Abdulaziz kembali bergerak.

Kali ini, ia menuju Riyadh bersama sejumlah kecil orang yang setia kepadanya.

Perjalanan itu kemudian menjadi salah satu episode paling penting dalam sejarah Arab Saudi modern.

Mereka bergerak melintasi lanskap gurun yang keras menuju Riyadh. Perjalanan dilakukan dengan penuh perhitungan karena keberhasilan operasi bergantung pada kerahasiaan, keteguhan, dan strategi.

Bahkan rute yang mereka tempuh kemudian menjadi bagian penting dari catatan sejarah.

Darah menyimpan sebuah peta yang menunjukkan rute rahasia yang digunakan Abdulaziz untuk merebut kembali Riyadh pada 1319 Hijriah atau 1902.

Peta tersebut memberikan gambaran geografis mengenai perjalanan yang dilakukan sebelum salah satu momen paling menentukan dalam sejarah Saudi.

Riyadh Berhasil Direbut Kembali

Pada 15 Januari 1902, bertepatan dengan 5 Syawal 1319 Hijriah, tujuan Abdulaziz akhirnya tercapai.

Riyadh berhasil direbut kembali.

Apa yang semula tampak seperti kisah tentang perjalanan berani menuju sebuah kota kemudian berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.

Darah menyebut perebutan kembali Riyadh sebagai salah satu peristiwa utama dalam sejarah Arab Saudi.

Pasalnya, peristiwa tersebut menjadi awal dari fase penyatuan wilayah yang kemudian melahirkan negara Saudi modern.

Setelah menguasai Riyadh, Abdulaziz melanjutkan proses penyatuan wilayah-wilayah lain.

Wilayah kekuasaannya perlahan meluas.

Pemerintahan mulai dibangun.

Institusi berkembang.

Dan Riyadh, kota yang dahulu menjadi tujuan dari sebuah perjalanan rahasia, kemudian berubah menjadi pusat pemerintahan dari sebuah negara yang terus berkembang.

Tiga Dekade Menuju Kerajaan Saudi

Perjalanan dari perebutan Riyadh menuju terbentuknya Arab Saudi tidak berlangsung dalam waktu singkat.

Selama hampir tiga dekade, Abdulaziz menjalani proses panjang untuk menyatukan berbagai wilayah di Semenanjung Arab.

Puncaknya terjadi pada 23 September 1932.

Pada tanggal tersebut, perintah kerajaan yang menyatukan wilayah-wilayah tersebut dengan nama Kerajaan Arab Saudi mulai berlaku.

Darah menggambarkan pengumuman tersebut sebagai puncak dari proses penyatuan dan pembangunan yang berlangsung selama hampir tiga dekade.

Karena itu, perjalanan Abdulaziz menuju Riyadh pada 1902 memiliki makna yang jauh melampaui jarak geografis.

Baca juga: Masjid Berusia 1.300 Tahun Ditemukan di Arab Saudi, Simpan Prasasti Al-Quran

Pada awalnya, perjalanan itu hanya menuju sebuah kota.

Namun, dalam perjalanan sejarah, Riyadh kemudian menjadi titik awal menuju lahirnya sebuah kerajaan.

Dari sebuah rute rahasia di tengah gurun, dimulailah perjalanan panjang yang pada akhirnya mengantarkan lahirnya Kerajaan Arab Saudi.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Dubes Palestina Doakan Rakyat Indonesia Bisa Salat di Masjid Al-Aqsa
Dubes Palestina Doakan Rakyat Indonesia Bisa Salat di Masjid Al-Aqsa
Aktual
Ketua MUI Jatim: Penerbitan Fatwa Jadi Fungsi Esensial MUI
Ketua MUI Jatim: Penerbitan Fatwa Jadi Fungsi Esensial MUI
Aktual
Cinta Terhalang Jarak, Apakah Boleh Nikah Online? Berikut Penjelasan Hukumnya dalam Islam
Cinta Terhalang Jarak, Apakah Boleh Nikah Online? Berikut Penjelasan Hukumnya dalam Islam
Aktual
Menjawab Mitos Merpati Masjidil Haram: Benarkah Mereka Tawaf Tujuh Kali dan Jatuh Jika Terbang di Atas Kabah?
Menjawab Mitos Merpati Masjidil Haram: Benarkah Mereka Tawaf Tujuh Kali dan Jatuh Jika Terbang di Atas Kabah?
Aktual
Merpati Masjidil Haram, Mengenal Sejarah, Asal-usul, dan Tradisi Merawatnya
Merpati Masjidil Haram, Mengenal Sejarah, Asal-usul, dan Tradisi Merawatnya
Aktual
Hukum Menikah bagi Muslim yang Pernah Menerima Donor ASI, Apakah Pernikahan Tetap Sah?
Hukum Menikah bagi Muslim yang Pernah Menerima Donor ASI, Apakah Pernikahan Tetap Sah?
Aktual
Syarat Sah Ijab Kabul dalam Islam, Apakah Harus Satu Tarikan Napas?
Syarat Sah Ijab Kabul dalam Islam, Apakah Harus Satu Tarikan Napas?
Aktual
Hukum Selingkuh dalam Islam, Termasuk Larangan Berkhianat dan Mendekati Zina
Hukum Selingkuh dalam Islam, Termasuk Larangan Berkhianat dan Mendekati Zina
Aktual
Kopi, QRIS, dan Geliat Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi
Kopi, QRIS, dan Geliat Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi
Aktual
Cimahi Siapkan Layanan Haji Satu Atap, Pembangunan Gedung Capai 57 Persen
Cimahi Siapkan Layanan Haji Satu Atap, Pembangunan Gedung Capai 57 Persen
Aktual
Kiai Miftachul Akhyar Ungkap Alasan Para Wali Tetap Berwirid meski Punya Karamah
Kiai Miftachul Akhyar Ungkap Alasan Para Wali Tetap Berwirid meski Punya Karamah
Aktual
Pemuda NU Asal Lumajang Raih Rekor Muri lewat Buku 1.062 Halaman
Pemuda NU Asal Lumajang Raih Rekor Muri lewat Buku 1.062 Halaman
Aktual
Wamenhaj Dahnil Usul Nonmuslim Bisa Jadi Petugas Haji, Ini Alasannya
Wamenhaj Dahnil Usul Nonmuslim Bisa Jadi Petugas Haji, Ini Alasannya
Aktual
Batas Maksimal Sholat Dhuha Sampai Jam Berapa? Jangan Sampai Terlewat Waktu Zuhur
Batas Maksimal Sholat Dhuha Sampai Jam Berapa? Jangan Sampai Terlewat Waktu Zuhur
Aktual
Gus Kikin Minta Santri Kuasai Teknologi dan Ekonomi, Jangan Hanya Fokus Ilmu Agama
Gus Kikin Minta Santri Kuasai Teknologi dan Ekonomi, Jangan Hanya Fokus Ilmu Agama
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar