Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

300 Aktivis NU dari Berbagai Kubu Serukan Rekonsiliasi Pasca-Muktamar

Kompas.com, 28 September 2026, 12:44 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Suasana pasca-Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) mencair di Cirebon, Jawa Barat. Sekitar 300 aktivis NU dari kalangan struktural maupun kultural berkumpul dalam forum Gala Dinner Pasca Muktamar ke-35 - Pekan Rekonsiliasi & Ukhuwah Nahdliyyin, Minggu (27/9/2026).

Forum yang berlangsung di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2, Cirebon, mulai pukul 16.00 hingga 20.00 WIB tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus dialog bagi warga NU setelah berakhirnya Muktamar ke-35.

Sejumlah peserta berasal dari latar belakang dan kelompok yang berbeda, termasuk mereka yang sebelumnya berada di kubu berbeda dalam dinamika Muktamar.

Meski demikian, pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan kekeluargaan. Para peserta didorong untuk mengakhiri ketegangan akibat kontestasi organisasi dan kembali mengutamakan persaudaraan serta kepentingan NU.

Baca juga: Muktamar NU Usai, GP Ansor: Sudahi Perdebatan, Saatnya Kembali Berkhidmah

Agenda rekonsiliasi tersebut sebelumnya memang dirancang sebagai ruang silaturahmi bagi warga NU dari berbagai latar belakang setelah Muktamar ke-35. Imam Jazuli Foundation (IJF) menjadi pihak yang menginisiasi kegiatan tersebut.

Imam Jazuli Foundation Jadi Penggagas

Kegiatan tersebut diinisiasi Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, KH Imam Jazuli, melalui Imam Jazuli Foundation.

IJF merupakan lembaga yang bergerak di bidang sosial, keagamaan, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi.

Forum tersebut dipandu Kiai Jamaluddin Mohammad, kiai muda asal Cirebon yang bertindak sebagai moderator diskusi.

Dialog berlangsung dengan membahas sejumlah persoalan yang dianggap penting bagi masa depan NU, mulai dari rekonsiliasi internal, kepemimpinan, pendidikan, pesantren, dakwah, kesehatan hingga pemberdayaan ekonomi.

Peserta juga didorong untuk tidak lagi terjebak pada perbedaan pilihan selama Muktamar.

Pesan yang dibawa dalam kegiatan tersebut adalah bahwa selesainya Muktamar harus menjadi awal bagi fase baru pengabdian dan kolaborasi antar-elemen NU.

Imam Jazuli: Saatnya NU Rapatkan Barisan

Dalam kapasitasnya sebagai keynote speaker, KH Imam Jazuli mengajak seluruh kader dan warga NU untuk segera merapatkan barisan serta menyatukan visi dalam menjalankan agenda organisasi.

"Banyak agenda mendesak di NU yang harus segera diselesaikan, baik di bidang pendidikan, kepesantrenan, dakwah, kesehatan, maupun ekonomi. Saatnya kita bangkit dari keterpurukan, dan itu memerlukan kerja sama semua elemen," ujar Kiai Imam Jazuli dalam keterangan tertulis, Senin (28/9/2026).

Menurut dia, konflik berkepanjangan setelah Muktamar dapat mengganggu gerak organisasi apabila tidak segera diselesaikan.

Karena itu, ia menilai rekonsiliasi dan ukhuwah perlu ditempatkan sebagai prioritas.

"Di sinilah pentingnya rekonsiliasi dan mengedepankan ukhuwwah. Syaratnya sederhana: kita harus ikhlas dan berkhidmah," katanya.

Semangat tersebut sejalan dengan gagasan penyelenggara bahwa perbedaan pandangan selama Muktamar merupakan bagian dari dinamika organisasi dan tidak semestinya berubah menjadi sekat sosial maupun kultural.

Soroti Dugaan Risywah dalam Kontestasi Organisasi

Dalam sesi urun rembuk, Kiai Imam Jazuli juga menyoroti persoalan integritas dalam proses demokrasi internal NU.

Ia menyebut adanya dugaan praktik risywah atau suap yang menurutnya perlu diantisipasi dalam berbagai agenda organisasi, mulai dari Muktamar hingga konferensi di tingkat wilayah dan cabang.

"Ke depan, dugaan praktik yang konon dilakukan oleh berbagai kubu calon ini perlu diantisipasi dengan menata sistem yang lebih baik. Di sinilah penting gagasan, saran, dan urun rembuk di forum Gala Dinner ini untuk menemukan solusi sistemik," ujar Kiai Imam Jazuli.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai pandangan dan dorongan untuk melakukan pembenahan sistem. Ia tidak memaparkan dalam forum tersebut rincian mengenai dugaan praktik yang dimaksud.

Menurut Kiai Imam Jazuli, pembenahan sistem diperlukan agar kontestasi kepemimpinan organisasi ke depan dapat berjalan lebih sehat dan tidak meninggalkan persoalan yang berlarut setelah agenda selesai.

Warga NU Diminta Tak Mudah Terprovokasi

Selain persoalan internal organisasi, Kiai Imam Jazuli mengingatkan warga NU agar berhati-hati terhadap berbagai informasi dan narasi yang beredar setelah Muktamar.

Ia meminta warga tidak mudah menjadi bagian dari penyebaran informasi yang dapat memperuncing perbedaan atau mendegradasi tokoh maupun organisasi.

"Faktanya banyak framing yang dilakukan pihak tertentu. Jika kita malah terjebak dan menjadi penyebar framing tersebut, itu ibarat menepuk air di dulang, terpercik kita sendiri. Kita justru menjadi pihak yang mendegradasi NU itu sendiri," katanya.

Karena itu, forum tersebut diarahkan bukan untuk mencari pihak yang harus disalahkan atas dinamika Muktamar, melainkan menjadi ruang muhasabah dan mencari jalan keluar bersama.

Gagasan tersebut juga menjadi bagian dari pesan rekonsiliasi yang dibawa penyelenggara, yakni mengubah energi perbedaan menjadi energi pengabdian dan kolaborasi.

Fokus Menatap NU Abad Kedua

Pertemuan selama sekitar empat jam tersebut tidak hanya membahas dinamika Muktamar ke-35.

Para peserta juga membicarakan gagasan mengenai masa depan NU memasuki abad kedua.

Berbagai masukan dan kritik konstruktif dihimpun untuk menjadi bahan rekomendasi strategis bagi perjalanan organisasi ke depan.

Penyelenggara berharap rekonsiliasi tidak berhenti sebagai pertemuan seremonial, tetapi berlanjut menjadi upaya membangun kembali kepercayaan, memperkuat komunikasi, dan mendorong kerja bersama di antara berbagai elemen Nahdliyin.

Baca juga: Gus Ipul Siapkan Somasi, 3 Orang Bakal Diminta Buktikan Tudingan soal Muktamar NU

Dengan demikian, perbedaan yang muncul dalam momentum Muktamar diharapkan tidak lagi menjadi penghalang bagi kerja-kerja NU di bidang pendidikan, pesantren, dakwah, kesehatan, ekonomi, maupun pelayanan kepada masyarakat.

Pesan utama forum tersebut adalah bahwa Muktamar boleh selesai, tetapi khidmah NU tidak boleh berhenti.

Memasuki abad kedua, seluruh elemen Nahdliyin diharapkan dapat kembali bergandengan tangan dengan semangat ukhuwah, keikhlasan dan kolaborasi untuk menjawab tantangan zaman.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar